Kamis, 15 Juli 2010

BRAVO SMA 1 CIREBON !

Di kawah Candradimuka bertajuk Wak Braja Elmuning Ciswa kita dibesarkan dan dihantar mencapai tujuan yang diharapkan. Tak dapat dipungkiri semangat Burung Hantu di dada adalah bagian penting dari apa yang kita capai sekarang. Tentu saja, melalui dengan do’a dan belajar serta kerja keras.

Kejayaan tahun 80-an yang kita alami, tak dapat dipungkiri saat ini hanya tinggal kenangan. Bukan berarti tidak dapat dicapai, dengan do’a, belajar dan kerja keras akan bisa mengembalikan kenangan menjadi harapan dan Insya Allah segera menjadi kenyataan.

Almamater kita memerlukan pemikiran bersama ….

Sebuah Kegalauan
Kegalauan yang saya alami sesungguhnya berawal dari ketidaksengajaan. Anak kami, 13 tahun sudah waktunya masuk SMA. Pilihan saya, seperti Bapak/Ibu semua, tentu almamater tercinta. Tetapi ketika niat itu saya bicarakan dengan beberapa guru dan kepala sekolah yang berkiprah di SMAN/SMKN di Kota Cirebon, jawabannya sangat menv=cengangkan.

“Jangan ! SMA 1 tidak seperti dulu.” Sergah mereka, “Prestasinya down, sementara saku harus tebal.”

Begitulah kesan mereka, para praktisi pendidikan yang saya temui. Rekomendasi mereka sama, “Kalau mau, masuklah SMA 2. Saat ini dialah yang terbaik !”

Bagi saya, SMA 1 masih yang terbaik. Demikian juga pemikiran di mata para alumni semua. Oleh karena itu, pencarian informasi dari teman-teman itu saya lanjutkan via internet dan juga beberapa rekan yang anaknya sekolah di almamater kita.

Sungguh tak dapat dipercaya, kejayaan yang kita rasakan dan masih terus terpikirkan sekarang terpinggirkan. Tidak ada pilihan lain, saya pun akhirnya setuju dengan saran mereka.

Namun demikian, kecintaan terhadap almamater yang turut menghantarkan ke capaian sekarang tidak pernah luntur, bahkan semakin menjadi-jadi ketika berbagai informasi yang didapat turut melemahkan.

Saya juga berdiskusi dengan salah satu alumnus yang menjadi guru di almamater kita, betrbicara blak-blakan di dunia maya. Tentang berbagai permasalahan mulai dari kurangnya marketing sampai black campaign dalam penerimaan siswa baru. Info terbaru tentang almamater kita banyak termuat disini, di blog beliau : http://yandriana.wordpress.com/

Walau belum ada kesepakatan dari rekan-rekan semua, saya memberanikan diri untuk berjanji, “Kami akan memberikan saran dan solusi pada saat reuni nanti !” Kerena tak dapat dipungkiri, almamater kita membutuhkan pemikiran kita semua ….

Sebuah Pengakuan
Satria sejati selalu mengakui keunggulan lawan ….
Burung Hantu kita adalah satria sejati, mengakui keunggulan lawan kalau memang unggul. Mengaku kalah kalau memang kalah. Tetapi tidak berhenti sampai disitu, sebuah tujuan harus dicapai, menjadi yang terbaik !

Para alumni SMA 1 Cirebon, prestasi dan prestise almamater kita berdasarkan informasi memang sedang diuji. Dari table di bawah ini kita bisa lihat posisi sekolah beberapa tahun terakhir.

Data passing grade SMA NEGERI di Cirebon
tahun pelajaran 2003/2004 sampai 2008/2009

SMA NEGERI TAHUN PELAJARAN
2003/2004 2004/2005 2005/2006 2006/2007 2007/2008 2008/2009
1 20.30 20.16 26.33 26.67 27.00 34.70
2 21.47 19.41 25.67 26.53 26.53 36.00
3 19.99 18.30 23.66 24.47 25.87 35.05
4 20.38 18.41 24.33 26.00 25.27 35.20
5 19.04 17.96 22.34 24.80 24.27 34.35
6 21.17 19.58 25.17 26.53 26.47 35.80
7 19.81 18.32 23.51 25.27 25.33 35.20
8 18.24 17.40 21.00 23.93 22.71 34.05
9 17.82 17.20 19.84 23.73 19.53 22.80


Sumber : http://bebasazasich.blogspot.com/2010/06/passing-grade-terkini-sma-negeri-kota.html

Publikasi lain dengan jelas menerangkan tentang posisi SMA 1 Cirebon yang sangat memprihatinkan di tahun 2008/2009. Berdasarkan peringkat adalah sebagai berikut :

1. SMA Negeri 2 Crb : 36,00
2. SMA Negeri 6 Crb : 35,80
3. SMA Negeri 4 Crb : 35,20
4. SMA Negeri 7 Crb : 35,20
5. SMA Negeri 3 Crb : 35,05
6. SMA Negeri 1 Crb : 34,70
7. SMA Negeri 5 Crb : 34,35
8. SMA Negeri 8 Crb : 34,05
9. SMA Negeri 9 Crb : 32,80

Sumber : http://basahfc.multiply.com/journal/item/53
Posting : 9 Juli 2008

Walau data ini berbeda dengan yang dipublikasikan almamater kita namun tidak dapat dipungkiri dampaknya akan sangat besar terhadap kepercayaan masyarakat. Ujung-ujungnya ya, minat mereka untuk menempuh pendidikan di sekolah kita.
Data passing grade SMA NEGERI di Cirebon
tahun pelajaran 2005/2006 sampai 2008/2009
SMA NEGERI TAHUN PELAJARAN
2005/2006 2006/2007 2007/2008 2008/2009
1 26.33 26.67 27.00 34.70
2 25.67 26.53 26.87 35.45
3 23.66 24.47 26.53 34.65
4 24.33 26.00 26.53 34.50
5 22.34 24.80 25.73 33.15
6 25.17 26.53 26.80 35.10
7 23.51 25.27 26.20 34.15
8 21.00 23.93 25.33 31.65
9 19.84 23.73 25.27 23.95

Sumber : http://www.smansacirebon.net/psbonline.php

Passing Grade nilai masuk merupakan salah satu indikator tentang seberapa hebat bibit yang akan masuk sebuah sekolah. Terlepas dari “asli” atau “palsu’-nya nilai yang didapat oleh para peserta didik dalam mengakhiri masa SMP-nya dulu.

Untuk tahun 2009 penilaian untuk memasuki SMA 1 tidak semata-mata dari SKHU tetapi mengikuti aturan dan tata cara tes merupakan bagian dari proses penerimaan siswa baru yang dibuat berdasar SK Walikota Cirebon.

“Diharapkan dengan tes ini masing masing calon siswa memiliki kesempatan yang sama untuk masuk SMA negeri di kota Cirebon. Karena bobot nilai tes hanya 50% dari kumulatif nilai siswa untuk masuk ke sekolah selain nilai skhu sebesar 30% dan prestasi sebesar 20%.”
Sumber : http://yandriana.wordpress.com/2009/06/27/penerimaan-siswa-baru-2009-2010-sma-negeri-1-cirebon/

Dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PDB) tahun 2010/2011 sama sekali tidak dipertimbangkan SKHU. Sama seperti zaman kita dulu, test. Cuma lebih variatif, ada test administrative, test tulis dan wawancara. Hal yang sama juga diterapkan di SMA 2 Cirebon.

Perbedaannya adalah bahwa segala informasi, publikasi dan kenyataan yang terjadi menyebabkan minat orangtua ataupun anak untuk memasuki SMA 2 Cirebon mendekati dua kali lipat dibandingkan dengan almamater kita.

Sekalipun jumlah siswa yang akan diterima sama, 288 orang. Namun peserta test masuk SMA 2 Cirebon mencapai 605 orang. Dengan demikian hanya mereka-mereka yang mempunyai keistimewaanlah yang bisa menjadi siswa di sekolah tersebut. Sementara almamater kita, hanya diminati oleh 300-an orang. Hanya beberapa orang saja yang harus dieksekusi dalam seleksi.

Bahkan salah satu orangtua murid yang anaknya sama-sama test di SMA 2 menuturkan bahwa peminat SMA 1 sampai akhir pendaftaran (10 April 2020) cuma 75 orang. Sehingga panitia harus sibuk menghubungi sekolah dan orangtua calon siswa, pendaftaran pun diperpanjang. Benar atau tidaknya informasi itu, tetap harus diterima, sebagai bahan koreksi.

Kecilnya nyali masyarakat terhadap almamater kita juga dipicu oleh informasi yang sangat mencengangkan soal biaya. Di Indramayu beredar khabar, bahwa untuk masuk SMA 1 Cirebon, paling sedikit harus siap 10 juta dan untuk 2010 bisa 15 juta, hanya untuk DSP tahunan. Uang bulanan pun tidak main-main besarnya, bisa jutaan. Bahkan seorang kerabat menceritakan tentang temannya yang mesti mengeluarkan dana Rp. 30 juta agar anaknya bisa sekolah disana.

Sekali lagi, jangan terpancing untuk menyalahkan informasi itu, tetapi terimalah sebagai bahan koreksi untuk memberikan sumbangan pemikiran terbaik bagi almamater kita.

Sumber dari SMA 1 Cirebon menyebutkan, itulah salah satu praktek black campaign yang mencemarkan nama baik almamater kita. Dampaknya yang diharapkan sangat jelas, minat ke SMA 1 berkurang !

Walaupun demikian, secara pribadi saya yakin, almamater kita bisa menghantar adik-adik kita ke masa depan yang gilang-gemilang.

Penutup
Bapak dan Ibu se-almamater ….
Berbagai informasi tadi beserta informasi dari tautan-tautan yang disertakan adalah bahan yang mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kita untuk member kritik, saran serta masukan yang berharga dan bermanfaat bagi kemajuan almamater tercinta kita.

Kapan kita reuni ? Tentu bukan sekedar untuk temu-kangen semata tetapi juga menyumbangkan pemikiran yang berarti buat kita semua.

Bravo SMA 1 Cirebon ….
Salam “Wak Braja Elmuning Ciswa !”

Minggu, 11 Juli 2010

SABDA PENGIKUT

"Bebek berduyun-duyun, garuda terbang sendiri !"
Adegium dari seorang tokoh revolusioner wanita itu berulangkali diucapkan Bung Karno pada saat menuju zaman keemasannya.

Sebagian besar penghuni bumi ini sesungguhnya adalah para pengikut, hanya sedikit diantara mereka yang merupakan garuda yang berani terbang sendiri di angkasa raya dengan berbagai resiko dan konsekuensi yang harus dihadapinya.

Namun pengikut bukanlah bebek-bebek yang berduyun mengikuti tanpa akal pikiran dan perasaan,. Mereka bukanlah orang yang selalu setuju dengan apa yang ada di depan tanpa pertimbangan. Mereka adalah manusia yang juga perlu penghargaan segaimana mereka yang berkoar di kursi pimpinan. Mereka adalah manusia perkasa, yang disadari atau tidak, menentukan kepemimpinan seorang penguasa.

Sekelompok manajer yang menyadari pentingnya sebuah tim yang kuat bertemu untuk membicarakan solusi agar terbentuk kerjasama yang baik antara bawahan dan atasan. Kesimpulan mereka dikenal sebagai “Sabda Pengikut”, yang isinya :

AKU AKAN MENGIKUTIMU, JIKA ENGKAU :
1. Memperlakukanku dengan hormat
2. Memberi inspirasi dengan visimu
3. Mengajarku
4. Bertoleransi pada kekeliruanku
5. Dapat dilihat dan selalu ada
6. Berbicara dengan (dan mendengarkan)-ku
7. Memberiku kesempatan untuk berkembang
8. Jangan menyerah, atau berubah arah semaunya
9. Memiliki keberanian dalam keyakinan
10. Berterusteranglah dan lakukan apa yang kau katakan

Sepuluh butir rangkaian kata indah yang dikenal sebagai Followers Creed (Sabda Pengikut) itu dihasilkan oleh sekelompok para manajer penuh imajinasi yang pernah bertemu di Universitas Cape Town.

Dan, tentu saja dikutip dari buku James O’toole, Leadership A to Z yang diterjemahkan Neneng Natalina dan diterbitka n Penerbit Erlangga. Sebuah buku yang berisi berbagai keteladanan dari kehidupan nyata, keberhasilan dan kegagalan kepemimpinan.