"Bebek berduyun-duyun, garuda terbang sendiri !"
Adegium dari seorang tokoh revolusioner wanita itu berulangkali diucapkan Bung Karno pada saat menuju zaman keemasannya.
Sebagian besar penghuni bumi ini sesungguhnya adalah para pengikut, hanya sedikit diantara mereka yang merupakan garuda yang berani terbang sendiri di angkasa raya dengan berbagai resiko dan konsekuensi yang harus dihadapinya.
Namun pengikut bukanlah bebek-bebek yang berduyun mengikuti tanpa akal pikiran dan perasaan,. Mereka bukanlah orang yang selalu setuju dengan apa yang ada di depan tanpa pertimbangan. Mereka adalah manusia yang juga perlu penghargaan segaimana mereka yang berkoar di kursi pimpinan. Mereka adalah manusia perkasa, yang disadari atau tidak, menentukan kepemimpinan seorang penguasa.
Sekelompok manajer yang menyadari pentingnya sebuah tim yang kuat bertemu untuk membicarakan solusi agar terbentuk kerjasama yang baik antara bawahan dan atasan. Kesimpulan mereka dikenal sebagai “Sabda Pengikut”, yang isinya :
AKU AKAN MENGIKUTIMU, JIKA ENGKAU :
1. Memperlakukanku dengan hormat
2. Memberi inspirasi dengan visimu
3. Mengajarku
4. Bertoleransi pada kekeliruanku
5. Dapat dilihat dan selalu ada
6. Berbicara dengan (dan mendengarkan)-ku
7. Memberiku kesempatan untuk berkembang
8. Jangan menyerah, atau berubah arah semaunya
9. Memiliki keberanian dalam keyakinan
10. Berterusteranglah dan lakukan apa yang kau katakan
Sepuluh butir rangkaian kata indah yang dikenal sebagai Followers Creed (Sabda Pengikut) itu dihasilkan oleh sekelompok para manajer penuh imajinasi yang pernah bertemu di Universitas Cape Town.
Dan, tentu saja dikutip dari buku James O’toole, Leadership A to Z yang diterjemahkan Neneng Natalina dan diterbitka n Penerbit Erlangga. Sebuah buku yang berisi berbagai keteladanan dari kehidupan nyata, keberhasilan dan kegagalan kepemimpinan.
Minggu, 11 Juli 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar