Minggu, 24 November 2013

Ular, Ular dan Ular



 

Lagi-lagi ular….

Sabtu pagi kemarin saya menggunakan sikat kamar mandi untuk membersihkan kasa parabola.  Tiba-tiba, tampak benda lunak semacam cacing.  Langkah tangan pun terhenti.  Mamperhatikan benda yang makin tampak bukan sekedar cacing.

Ketika diperhatikan lebih detail, tampaklah jelas bahwa benda yang menjulur dari sikat plastik itu bukanlah seekor cacing.  Ular…!

Hmm.  Selasa, kamis senja dan sabtu pagi jeput….  Dua hari sekali saya bertindak bak pawang ular.  Pada saat menangani ular yang datang di bathtub selasa pagi, lumayan memakan waktu untuk memasukkannya ke dalam botol.  Kamis menjelang maghrib, tak sampai lima menit ular yang tampak ganas dan beringas itu ular telah harus melanjutkan kegarangannnya di dalam botol.  Kali ini, sama sekali belum menyentuh angka menit, seekor ular telah masuk dalam botol.

Tetapi, saya tak mau jadi pawang ular….  Tidak terbetik sedikitpun dalam cita-cita masa kecil.  Apalagi ular sekarang semakin langka.  Biarkan pekerjaan menjadi pawang ular tetap untuk mereka yang selama ini mewarisi keahlian dari orangtuanya saja serta menjadi jalan rezeki yang diberkahi-Nya.  Aamiin YRA.

Oleh karena itu melalui tulisan ini, dengan kerendahan hati dan niat dari lubuk terdalam, saya mohon bantuan dan do’a dari semua pembaca, baik langsung maupun tidak langsung, agar siapapun --yang menginginkan ular itu hadir di rumah kami, rumah teman-teman kami ataupun telah menjadikan berbagai hal musykil dan ghaib lainnya harus hadir bersama kami-- kiranya segera dapat menghentikan langkah sesatnya.  Aamiin YRA.

Terimakasih sebelumnya….  Semoga Allah swt mencatat segalanya sebagai amal teman terbaik saat menghadap-Nya.  Aamiin YRA.

Kami tahu sesungguhnya setiap manusia punya sisi baik dari Yang Maha Baik.  Kalau ada kekhilafan tentu itulah sifat manusianya, yang bisa saja tergoda dalam melangkah.  Namun kami percaya Yang Maha Bijak akan segera menunjukkan ke-Maha Baik-an-Ny  Aamiin YRA.



Sabtu, 06 Agustus 2011

SANG ELANG

Thanks KOMPAS hari ini….

Tiada kata terindah yang dapat kuucapkan selain, terimakasih. Sepatah kata itu adalah ungkapan tak ternilai. Sebelas huruf itu tiada bandingannya, karena terucap dari hati yang terdalam.

Sungguh luar biasa, 3 (tiga) tulisan hari ini di suratkabar nasional ini membangkitkan gairah hidupku yang terasa redup. Pengobat kelana jiwa yang sempat gulana.

“Mentalitas Elang” untuk bisa hidup di atas badai. Badai kehidupan bukanlah sebuah halangan tetapi potensi untuk bisa semakin indah melayang, lepas meliuk menikmati udara bebas, daya dorongnya membawa elang pergi secepat dan setinggi mungkin meraih impian.

Menghargai dan menggali hal-hal positif dan kekuatan yang terlihat maupun tersembunyi dalam diri Sang Elang melalui konsep yang ditawarkan Stavros, Cooperrider dan Kelly: SOAR (Strengths-Opportunity-Aspiration-Result).

“Allow your thoughts to take you heights of greatness.” Begitu kata para ahli.
Artikel Prima A. Biromo tentang SIMO (Strategy and Initiative Management Office) seakan menyadarkan kita semua tentang kondisi setiap lini kehidupan saat ini.

Setiap individu atau bagian merasa diri lebih penting daripada yang lain, sehingga sebuah rencana sering hanya menjadi rencana belaka.

Kutipan dari ahli manajemen favoritku, Peter Drucker, “Plans only good intensions unless they immediately degenerate into hard work.”

Ego sektoral adalah kendala berjalannya pemerintahan selama bertahun-tahun. Ego-ego di setiap lini kehidupan sesungguhnya adalah potensi terselubung yang jika difasilitasi akan menghasilkan energy luar biasa.

Ultinate-U with Rene Suhardono kali ini yang mengulas “Never work for somebody you don’t respect” awalnya membuatku merinding. Tetapi itulah kehidupan.

Sepanjang kita menganggap semua tantangan bukan sebagai halangan tetapi merupakan potensi yang bukan hanya dapat dimanfaatkan tetapi juga akan mengantarkan kita mencapai tujuan.

Aku menjadi ingat akan ucapan dari tokoh sosialis wanita di Eropah, sebuah adegium yang sering dikutip Bung Karno, “Bebek berduyun-duyun, elang terbang sendiri !”

Kamis, 26 Agustus 2010

LAMPU MERAH

Di kota sekecil Indramayu, lampu merah bisa dihitung dengan jari. Tidak terlalu banyak, hanya di beberapa titik perempatan jalan atau simpang lima saja. Ada juga simpang tiga yang dijaga oleh lampu lalulintas ini.

Sebagaimana rambu lalulintas lain, sekalipun jumlahnya kecil sesungguhnya faedahnya sangatlah besar. Banyak nyawa terselamatkan oleh kelap-kelip hijau-kuning -merah-nya. Bukan hanya terhindarkan secara langsung dari kecelakaan yang mungkin timbul di persimpangan tetapi juga terlepas dari resiko stroke dan jantungan akibat kemacetan.

Jumlah kecil pun tidak berarti perawatannya mudah. Tidak usah bertele-tele, buktinya saja lampu lalulintas ini sering tidak berfungsi. Ada yang warnanya sudah pudar, sering juga mati sekalipun tidak sedang mati listrik.

Lampu merah yang paling sering terganggu fungsinya adalah di simpang lima Tugu Mangga. Memang inilah jalur tersibuk di tepian kota ini. Tiga lampu lalu-lintas yang terpasang di ujung Jalan Gatot Subroto adalah yang paling sering byar-pet.

Menjelang arus mudik, ternyata bukan halangan bagi lampu merah untuk persiapan cuti. Kali ini yang mati dari arah Jatibarang dan Jalan Kembar. Dua lampu lalu-litas dari dan ke Kota Indramayu itu mati total beberapa hari ini. Oleh karena itu sekalipun posisi pengguna jalan melihat lampu hijau menyala di sampingnya, namun jangan heran kalau banyak kendaraan dari kedua arah tersebut yang tetap melaju.

Bisa dibayangkan, betapa bahayanya kalau keadaan ini terus berlangsung ketika arus mudik dimulai. Apalagi pengguna kendaraan roda dua biasanya dialihkan ke jalur ini. Motor berhamburan dari barat begitu menyala lampu hijau, sementara dari dua arah di depannya juga lalu-lalang kendaraan yang penggunanya tidak mau mengalah. Perjalanan panjang dari Jakarta dan sekitarnya membuat pengendara lelah, mudah tersulut emosi. Di sisi lain, wong reang (orang local, begitu orang Indramayu menyebut dirinya), punya prinsip lain, dalan-dalan reang ya pujare reang (jalan-jalan saya ya terserah saya).

Sebulan lalu, ketika lampu lalu-lintas mati maka pengendara motor dan mobil masih mau tengok kiri dan kanan atau bahkan menunggu giliran. Paling yang berani menerobos langsung mobil dinas polisi itu sendiri. Sekarang tidak lagi, tabrak saja. Makin meratanya perilaku tabrak lampu mati ini mungkin karena seringnya lampu lalu-lintas tak berfungsi. Atau bahkan mencontoh beberapa anggota polisi melakukan hal terlarang itu. Kalau keadaan terakhir yang terjadi, berarti sekalipun kita hidup di era modern tidak boleh lupa adegium lama tinggalan leluhur, guru kencing berdiri murid kencing berlari.

Bagi pemudik yang tersesat masuk tengah Kota Indramayu pun harus hati-hati. Lampu merah di tersibuk di samping Kantor Polres lama sering menyala kelap-kelip warna kuning saja. Seorang teman berkelakar kalau hal itu berhubungan erat dengan warna lambing partai yang menjadi penguasa. “Merah dan hijau sengaja dimatikan !” Tentu sama sekali bukan itu penyebabnya, bukan juga karena petugas yang mengoperasikan lampu lalu-lintas kecapaian atau tertidur menunggu buka puasa.

Ada juga yang menyatakan sebuah asumsi lain tentang tidak berfungsi baiknya lampu lalu-lintas, kemungkinan besar lampu itu mungkes karena salah namanya. Sudah tahu lampu yang ada menyalakan warna hijau-kuning-merah (dari bawah ke atas), masih dibilang sebagai Lampu Merah. Padahal jelas-jelas ada warna dua warna lain menemani warna merah disana. Demikian juga yang menyala terus kedap-kedip warna kuningnya saja, masih disebut Lampu Merah. Lebih parah lagi kalau yang tidak bisa menyala sekalipun, eh, masih dibilang lampu merah juga.

Di Yogyakarta dan beberapa kota di Jawa Tengah, lampu sejenis diberi nama Bangjo (abang-ijo, merah-hijau). Mungkin karena sebutannya mendekati kebenaran, mereka lebih baik dalam menjalankan fungsinya. Warna “kuning” tidak disebut warna kuning adalah yang terpenting. Dapat dimaknai sebagai hati-hati dan paling suka ditaati sebagai hati-hati lampu merah sudah sangat dekat alias segera tancap gas.

Supaya lampu lalulintas di Kota Indramayu ataupun kota lainnya berfungsi dengan baik mungkin perlu juga diberi nama yang sesuai, bukan Lampu Merah lagi tetapi dirubah menjadi Bang Kujo atau Akui (abang-kuning-ijo) atau sebutan lainnya yang menunjukkan ketiga warna yang seharusnya dimiliki lampu tersebut.

Tetapi, Shakespeare sudah sejak lama mengingatkan, “Apalah arti sebuah nama.” Hal ini tentu berlaku juga untuk Lampu Merah. Apapun namanya, sebagus dan sehebat apapun sebutannya, kalau perawatannya tidak dilakukan dengan baik maka hasilnya akan begitu-begitu juga.

Seperti lampu lalulintas di ujung simpang lima tepian Kota Mangga ini ataupun di kota-kota lainnya, sekalipun namanya berubah menjadi Bang Kujo atau Akui misalnya, tanpa perawatan yang baik maka tidak akan dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Atau bahkan hanya menjadi sekedar pajangan belaka.

Sumber :
http://sosbud.kompasiana.com/2010/08/27/lampu-merah/

Rabu, 25 Agustus 2010

LAGI-LAGI, INDRAMAYU BARAT MERDEKA !

Berjalan ke arah timur Kota Indramayu, menelusuri jalan alternative arus mudik/balik, panjang, lebar dan lurus. Betapa indahnya kalau semua jalan besar di negeri kecilku seindah jalan yang satu ini.

Kekaguman bukan berhenti sampai disitu, jalan kabupaten yang menghubungkan beberapa kecamatan pun tidak kalah mulus. Memasuki wilayah Juntinyuat, salah jalan dapat Desa Pondoh dan kemudian menembus Desa Segeran Kidul. Sama sekalai tidak masalah, jalan hotmix-nya sangat mulus.

Tak kalah bagusnya jalan yang mengikuti lika-liku sungai yang menghubungkan Tenajar Lor dan Tenajar Kidul. Demikian juga jalan yang melintas Desa Gadingan sampai akhirnya melintasi Kantor Kecamatn Sliyeg dan seterusnya.

Sepanjang perjalanan, hamparan sawah seakan tak pernah putus. Sambung-menyambung dengan pekarangan dan perumahan masyarakat. Sungai-sungai masih mengalirkan air diantara hempasan udara panas kemarau.

Untaian padi siap panen menghampar di beberapa lokasi, sebagian sedang diambil bulirnya. Sebagian lagi jerami padi kering disawah tak termanfaatkan. Beberapa petak sawah mulai dimanfaatkan untuk tanaman palawija.

Sungguh indahnya, Indramayu, Indramayu tahan air kecilku yang subur makmur. Tetapi hati ini begitu ter-iris, pilu, pedih, bercampur-aduk dengan sakit yang menyayat.

Hal ini tidak lain karena kemarin kami sempat berjalan jauh ke Indramayu sebelah barat. Mendekati perbatasan dengan Subang, jalan kabupaten uang menghubungkan Patrol dengan Haurgeulis (jalan masuk ke Pesantren Modern Al-Zaitun) lumayan bagus alis banyak rusaknya. Sepanjang pesawahan antara Haurgeulis ke Gantar (jalan ke Al-Zaitun juga) lebih parah karena konstruksinya lebih jelek.

Ada sedikit hotmix baru sebelah timur Kantor Camat Gantar, tetapi dilanjutkan dengan jalan yang kemungkinan besar jadi kubangan saat musim penghujan. Bahkan mendekati ibukota Kecamatan Gabuswetan mobil harus melewati kubangan di tengah kemarau panjang.

Sungai-sungai kerontang tak berisi. Sepanjang mata memandang, sawah menghampar luas. Kering tak berair. Sebagian menyisakan pilu, padi yang belum sempat berisi sudah kehabisan air. Hamparan tanaman cabe berumur muda pun sebagian mulai layu tak kuat menahan sengat matahari.

Indramayu sebelah barat dan timur sesungguhnya seperti dua sisi mata uang. Suatu kesatuan sekalipun gambarnya berbeda satu dengan yang lainnya.

Perbedaan gambar yang sangat mencolok itulah yang menyebabkan saya tak bosan berteriak, “Indramayu Barat Merdeka !”

Sama sekali bukan tindakan makar untuk terlepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sudah merdeka ini. Bukan, tetapi merdeka dari keterpurukan yang selama puluhan tahun tidak pernah berubah. Berubah menjadi sebuah wilayah yang mampu menggali potensi internalnya secara optimal. Sebuah daerah yang memberdayakan masyarakat penghuninya sehingga bukan hanya menjadi pemanut dan penurut untuk sesuatu yang tidak dimengerti secara jelas oleh mereka.

Seperti diketahui, masyarakat Indramayu sebelah barat sudah lama dikenal sebagai pemanut dan penurut. Bahkan seorang mantan Camat Kota Indramayu pernah berujar, “Kota Indramayu akan gelap gulita kalau Indramayu barat berdiri !”

Kata-kata pamong senior itu bukan tanpa alasan, masyarakat Indramayu sebelah barat tidak pernah rebut, menuntut tetapi tetap menurut ketika sepanjang bulan harus bayar Pajak Pnerangan Jalan sekalipun tidak pernah menikmatinya. Jalan-jalan gulita, kecuali beberapa tiang listrik yang diberi lampu. Sebagian terbesar lampu itupun lampu milik masyarakat yang dibayar dari kwh meter di rumah mereka.

Bukan hanya itu, beliau yang sudah malang melintang menjadi Camat di wilayah Indramayu sebelah barat, tahu benar karakter masyarakatnya. PBB selalu lunas sekalipun saat itu belum ada Alokasi Dana Desa (ADD) yang sekarang tidak sedikit dimanfaatkan Kepala Desa (Kuwu) sebagai Dewa Penolong.

Kesahajaan masyarakat Indramayu sebelah barat berpadu dengan berbagai karunia Tuhan yang berlimpah adalah sebuah anomaly dengan keadaan sekarang.

Lihatlah sepanjang jalur pantura Jawa Barat yang dikenal sebagai jalur tengkorak, hempasan ombak di pantai mengantar penduduk pesisir mencari kehidupan di laut lepas. Menghantarkan kekayaan para pahlawan bahari menikmati kehidupan yang layak. Amis bau jemuran ikan diantara hamparan ladang garam adalah potensi yang sampai sekarang belum sepenuhnya tersentuh teknologi.

Demikian juga sumber minyak bumi di kabupaten yang terkenal karena Unit Pengolahan VI Balongan-nya ini, sesungguhnya kebanyakan dari Indramayu sebelah barat. http://segudang-cerita-tua.blogspot.com/2010/02/indramayu-subur.html

Demikian juga kesuburan lahan Indramayu sebelah barat sungguh luar biasa. Hamparan sawahnya tak terkira luasnya. Bukan berita kalau sebagian masyarakat desa di Indramayu sebelah timur dulunya sering numpang menjadi kuli sawah di beberapa desa di wilayah ini. Setiap musim hujan, mulai pengolahan, tanam dan panen banyak masyarakat Desa Pranggong, Panyindangan, Cangkingan, Segeran dan sekitarnya yang ngadon hidup di Desa Kedokangabus, Sumbon dan sekitarnya.

Sebagian bisa panen dua kali, banyak yang cuma sekali. Tapi palawija seperti semangka, cabe, sayur-sayuran merupakan komoditi yang tak terlupakan. Tanpa disadari dengan pengetahuan yang cukup, sesungguhnya mereka memutuskan rantai penyakit dari setiap musim ke musim berikutnya.

Seorang sahabat bertanya, “Mengapa orang Indramayu sebelah barat justeru banyak yang pergi ke Batam, Saritem, Mabes?”

Bukan rahasia kalau memang sebagian warga yang mengambil jalan pintas dalam mengatasi permasalahan ekonominya. Sebuah alternative terpahit yang ditempuh ketika hamparan sawah tidak lagi berperan menghidupi mereka. Ketika jalan berkerikil tajam berkubang menghalangi mereka mendapatkan hak berusaha yang layak.

Ketika perut berteriak, saat anak dan keponakan merintih, di tengah berbagai tantangan kehidupan yang makin kuat menimpa. Sementara kesempatan memanfaatkan sawah dan pekarangan sebagai sumber kehidupan terputus. Sawah dan pekarangan lain adalah alternative terakhir yang tidak dikehendaki sebagai sumber kehidupan baru. Ketika keadaan sudah sangat terbelit, pilihan terakhir dalam keterpaksaan adalah bukanlah sumur gas dan minyakbumi sebagai harapan tetapi sumur yang lain.

Keadaan Indramayu sebelah barat memang demikian adanya, kalau ada semilir udara dingin ringang dan suburnya pepohonan di Pesantren Al-Zaitun, maka seputar tembok tinggi itu saja adanya. Diseputarnya udara panas tak tertahankan, lahan sawah dan pekarangan kering-kerontang. Jalan-jalan berantakan, kontras dan jauh sekali dengan di dalam komplek pesantren terbesar itu.

Namun demikian, jika semua potensi yang ada termanfaatkan. Seandainya berbagai penghasilan daerah barat ini termanfaatkan kembali untuk masyarakat penghuninya. Insya Allah, badai kemiskinan yang selalu membelit akan berlalu. Demikian juga berbagai alasan yang menyebabkan rusaknya citra tak perlu berlanjut.

Indramayu Barat, masyarakat merindukan kehadiranmu walau sampai sekarang mereka tidak pernah menyadari atau bahkan secara vulgar menentangnya.


Sumber :
http://sosbud.kompasiana.com/2010/08/25/indramayu-barat-merdeka/

Kamis, 19 Agustus 2010

LATAH

“Harga beras Rp. 7.000,- per kg !”

Sebuah harga yang fantastis di pasaran, hampir dua kali lipat daripada harga biasanya. Banyak yang teriak, tetapi tidak sedikit yang diuntungkan oleh situasi yang tak menentu ini. Apakah petani diuntungkan ?

Semestinya, banyak petani menikmati harga gabah yang tinggi ini sebagai suatu berkah. Namun sayang, kebanyakan petani secara real sudah tidak punya padi lagi. Karena kebanyakan petani sesungguhnya hanyalah buruh tani yang mengandalkan upah dari mereka yang empunya lahan. Sehingga hal ini juga merupakan beban tersendiri.

Ironisnya, kenaikan harga beras ini terjadi pada saat panen masih terus berlangsung. Bukan paceklik sebagaimana hal itu biasa terjadi. Panen masih terus berlangsung di beberapa daerah. Menurut pembicaraan tingkat tinggi para pejabat yang mengurusi pangan di Jakarta pun, ternyata stok pangan untuk 2 bulan masih cukup. Apalagi ditambah panen bulan ini dan September masih berlangsung, tentu stock akan melambung.

Tetapi kenapa harga beras naik di tengah supply yang menggelembung ini? Ketika supply melambung tinggi dan permintaan relative tetap maka harga semestinya tuurun. Bukankah Hukum Ekonomi yang sejak dua abad lalu mengingatkan hubungan supply dan demand tak sejalan dengan hal ini?

Padahal secara logika, banyaknya supply tentu bisa menekan harga, tetapi kenyataannya tidak. Hukum supply-demand Adam Smith seakan tidak berlaku.
Mungkin tangan malaikat turut berperan dalam mengubah posisi hubungan supply-demand sehingga tidak berjalan sebagaimana biasa. Dan, tangan malaikat itu adalah latah !

Tidak dapat dipungkiri kalau kenaikan TDL akan berdampak pada harga setiap lini kehidupan sebagaimana isyu harga BBM tak bersubsidi yang belum juga kelar. Naiknya berbagai komoditi pangan di pasaran pun tak dapat dihindari sebagai efek langsung ataupun tidak langsung kebijakan pemerintah tersebut.

Di sisi lain, tradisi relative konsumtif sebagian besar masyarakat kita di bulan ramadhan pun tidak dapat dipungkiri. Puasa, buka dengan makanan lebih enak daripada biasa. Bahkan tidak sedikit yang di bulan penuh barokah ini bukan hanya berlomba meraih berkah tetapi juga seakan berlomba mengumpulkan makanan untuk berbuka.
Padahal akhirnya yang dikonsumsi sebatas itu-itu juga. Banyak bersisa. Tetapi kebiasaan itu tidak jadi bahan pelajaran pada puasa berikutnya, malah seperti menjadi tradisi saja.

Tidak heran kalau ramadhan identik dengan meningkatnya harga gula, tepung, minyak atau bahkan singkong dan sebagainya. Dan, seperti latah, beras pun harganya ikut bertengger sedemikian jaya di angkasa.

Sama sekali bukan karena efek musim, pengaruh produktivitasS yang rendah, harga beras hanya latah, ikut-ikutan merangkak naik sebagaimana harga-harga bahan makanan dan komoditi lain yang merajut harga sendiri.

Sumber :
http://ekonomi.kompasiana.com/group/marketing/2010/08/20/latah/

Jumat, 06 Agustus 2010

“GARBAGE IN GARBAGE OUT”

Kalau sampah yang masuk maka yang akan keluar juga sampah !

Tiga dasa warsa yang lalu, adegium itu saya kenal dari sebuah buku. Apa yang ditulis disana sangat mengena, melukiskan dengan jelas keterkaitannya yang erat dengan kehidupan nyata.

Tidak berselang lama, Bapak Guru Matematika kami yang memperkenalkan teknologi computer pun mengulang untaian kata itu. Sambil manggut-manggut, hati mulai bertanya-tanya, “Apakah beliau belum belajar Ilmu Kimia?” Tapi, dalam konteks ini kan, masalah data, sisi hati yang lain membela.

Tetapi keraguan itu terus berkecamuk, banyak referensi terbitan BUTSI (Badan Usaha Tenaga Sukarela Indonesia, sebuah lembaga dibawah Menteri Tenaga Kerja) meyakinkan saya bahwa istilah itu tidak selalu benar.

Sebut saja dalam hal sampah yang satu ini, maaf: kotoran ternak. Dengan sedikit pulasan kreativitas, ampas yang keluar dari tubuh ternak ini bisa diubah menjadi gas yang bisa dimanfaatkan di dapur. Untuk masak, mematangkan bahan mentah menjadi asupan yang bisa membangkitkan organ tubuh dan kehidupan manusia secara keseluruhan.

Semakin banyak membaca, keresahan pun makin menggejolak. “Maaf, Pak. Saya ada keraguan tentang istilah yang pernah Bapak sampaikan di kelas.” Setelah cukup lama diskusi, maka lega dan harus lega saat itu dengan ucapan terakhir beliau, “Itu semua sangat tergantung pada pengalaman kehidupan kita masing-masing.”

Tahun 1980-an akhir adalah saat yang paling membuktikan bahwa adegium itu perlu koreksi yang signifikans. Tanpa pengolahan apapun, sampah dari kandang sapi perah bisa menjadikan King Grass sebagai raja rumput. Tumbuh subur dan produksi yang berlimpah melebihi rumput jenis apapun yang ada saat itu. Dan, rumput-rumput itupun kembali ke kandang, menghidupi sapi-sapi perah yang menghasilkan susu murni untuk konsumsi manusia.

Secara singkat, dengan sedikit alur kehidupan pupuk kandang itu mampu mengubah diri menjadi susu. Tetapi, jika dipikir lebih jauh, toh kahirnya balik jadi ampas kandang juga ya? Jadi ada benarnya juga dech.

Istilah itu ternyata juga popular di Ilmu Manajemen. Awal tahun 1990-an, beberapa trainer dengan bangga menyampaikan hal itu di depan para karyawan baru yang sangat perlu pencerahan. Saya tetap pada satu pendirian, adegium itu tidak selalu benar. Oleh karena itu ketika trainer terus mengulang dan mengulang istilah itu saya bertanya, “Kalau memang istilah itu benar, buat apa kami dijadikan trainee ?”

Saya bersikeras bahwa upaya brainstorming yang dilakukan justeru untuk memutar-balik istilah kuno itu. Biarpun semula kami beraneka ragam latar belakang pendidikan begitu keluar dari pelatihan menjadi satu pola pikir, berbuat maksimal untuk perusahaan. Demikian juga yang semula merasa rendah diri karena alasan tertentu sehingga merasa diri sebagai sarjana sampah suatu saat akan menjadi sarjana emas.

Jangan kaget kalau suatu saat saya pernah mengusir seorang fasilitator karena perdebatan istilah ini. Pada sebuah pelatihan kewirausahaan yang memanfaatkan limbah kehidupan sehari-hari menjadi pupuk organic, seorang fasilitator mengemukakan adegium itu dengan bangganya, “Apapun yang kita lakukan, kalau sampah yang masuk pasti akan jadi sampah juga keluarnya.”

Sekalipun beliau mengemukakan berbagai alasan yang membenarkan istilah yang terlanjur diucapkannya, saya menganggap beliau sangat tidak mengerti. Sama sekali tidak tahu bahwa tujuan dari pelatihan tersebut adalah mengubah sampah menjadi gulden alias emas. Membangkitkan semangat yang loyo karena bau sampah mengganggu menjadi kilauan emas sampah yang ditunggu.

“Kalau Bapak tetap ngotot dengan adegium yang keliru seperti itu, kami sepakat bubar saja!” Kata-kata itu ternyata sangat ampuh. Panitia mengganti beliau dengan fasilitator yang menjalankan perannya sebagai fasilitator semata.

Kehidupan nyata mendidik bahwa sampah jenis apapun ternyata bisa berubah menjadi emas, tergantung proses dan tujuan serta kepentingan yang melandasi. Bukan hanya yang berbentuk nyata, seperti halnya sampah-sampah yang menggunduk berubah menjadi isi rekening gendut. Ternyata informasi seburuk apapun bisa dikemas dalam bentuk yang indah dan disampaikan menjadi kata-kata emas yang membuai perasaan pendengarnya. Begitulah perjalanan hidup membuktikan semuanya.

Lama sudah kata berbisa itu saya lupakan, namun tiba-tiba harus saya ingat kembali ketika berhadapan dengan seorang aktivis yang mengeluhkan masa lalunya yang sangat kontradiktif dengan impian masa depan gemilangnya.

“Kalau anda mau, saya bisa menjadikan perbuatan buruk dan berbagai informasi tentang masa lalu sampahmu itu jadi emas yang membuai masyarakat!”
“Ya?”
“Ya. Sesuatu yang gampang dilakukan.”
“Berapa aku harus bayar ?”
“Murah.” Dia makin tampak antusias dalam kebingungan, “Tidak perlu bayar.”
“Cepat kalo bisa bantu aku !” Pintanya, “Please …!”
“Saya sangat bisa,” kataku mantap, “Tetapi kalau saya melakukannya, maka sesungguhnya saya adalah sampah yang sebenarnya !”

Setelah itu kami terdiam, saya merenung sebentar, “Sampah yang sebenarnya itulah yang akan diproses dengan cara apa dan bagaimanapun serta seberapa lama juga akan tetap menjadi sampah. Sekalipun penampilan mereka menyilaukan bagai kerlingan emas, sesungguhnya hati dan tujuan hidup mereka tetap busuk seperti sampah.”

PRANATA MANGSA

“Mungkin alam mulai bosan
Bersahabat dengan kita ….”

Rangkaian indah kalimat yang didendangkan Ebiet G Ade sudah sepantasnya saat ini dipopulerkan kembali. Di bulan Agustus yang kita injak sekarang, hujan masih tetap berlanjut dari bulan sebelumnya seakan tak mau putus.

Sungguh berbeda ketika alam masih bersahabat. Air curahan langit datang disaat yang tepat, di bulan bar-bir-ber alias yang berakhiran ber. Mulai September, Oktober, November dan Desember. Empat bulan yang mnghujani, cukup untuk menghidupi padi petani dan tanaman serta seisi alam. Setelah itu, berangsur kemarau pun datang. Memutus siklus kehidupan bulan basah sehingga tidak menjadi serba terlalu.
Nah, kalau sekarang suasananya seperti ini, apakah kemarau atau masih musim huijan ya ?

Nenek moyang kita yang hidup di zaman yang masih serba bersahabat sesungguhnya tidak hanya membagi musim menjadi kemarau dan musim hujan. Bahkan tidak tanggung-tanggung, 12 macam. Semua didasarkan tanda-tanda alam yang dirasakan.

Keduabelas lukisan musim berdasar suasana ala mini biasa disebut Pranata Mangsa atau Candraning Mangsa. Jumlahnya yang 12 ini ternyata sesuai dengan hitungan bulan, yaitu (dikutip dari Tradisi Lisan Jawa oleh Suwardi Endraswara):

(1) Sotya murca saking embanan, mangsa kasa (kesatu), biasanya pepohonan berguguran daunnya.

(2) Bantala rengka, mangsa karo (kedua), biasanya musim kemarau, hampir semua tanah retak-retak.

(3) Suta manut ing bapa, mangsa katelu (ketiga), tumbuhan seperti gembili, gadung dan sirih mulai merambat tumbuh.

(4) Waspa kumembeng jroning kalbu, mangsa kapat (keempat), biasanya mata air kering, dan saat yang tepat untuk membuat sumur.

(5) Pancuran emas sumawur ing bumi, mangsa kalmia (kelima), biasanya musim penhujan dan kaum tani di Jawa mulai mengolah tanah.

(6) Rasa mulya kasucian, mangsa kanem (keenam), biasanya ditandai musim buah-buahan mulai masak dan enak rasanya.

(7) Wisa kentar ing maruta, mangsa kapitu (ketujuh), sering banyak penyakit mewabah.

(8) Anjrah jroning kayun, mangsa kawolu (kedelapan), biasanya saat kucing kawin, mulai jarang hujan.

(9) Wedharing wacana mulya, mangsa kasanga (kesembilan), banyak gareng berbunyi dan gangsir berdesir, suasana mulai sepi dan jarang hujan.

(10) Gedhong minep jroning kalbu, mangsa kesepuluh, biasanya musim hewan bunting dan burung bertelur.

(11) Satyo sinarawedi, mangsa kasawelah (kesebelas), banyak burung meloloh anaknya.

(12) Tirta sah saking sasana, mangsa rolas (keduabelas), musim dingin.

Betapa indahnya ketika semua berjalan dalam keteraturan, sesuatu yang akan terjadi dapat diprediksi. Sedia paying sebelum hujan bukan sekedar adegium tetapi merupakan pola hidup yang dijalankan jika ingin terhindar dari kemungkinan terburuk.

Tetapi tidak ada yang abadi kecuali perubahan. Perubahan yang selalu berubah. Kucing kawin dapat terjadi setiap saat karena makanan bergizi yang diberikan majikannya, hewan bunting dapat terjadi waktu yang diinginkan pemiliknya karena inseminasi buatan dapat dilakukan.

Burung bertelur dan meloloh anaknya …. Akh, sebuah pemandangan yang sudah hampir tidak ada. Sebagian mereka terkurung dalam sangkar emas dan dipaksa untuk mengabdikan diri demi kesenangan manusia semata.

Alam memang sudah tidak lagi bersahabat, selalu berubah dan terus berubah. Lenyap sudah serba keteraturan ….