Kamis, 26 Agustus 2010

LAMPU MERAH

Di kota sekecil Indramayu, lampu merah bisa dihitung dengan jari. Tidak terlalu banyak, hanya di beberapa titik perempatan jalan atau simpang lima saja. Ada juga simpang tiga yang dijaga oleh lampu lalulintas ini.

Sebagaimana rambu lalulintas lain, sekalipun jumlahnya kecil sesungguhnya faedahnya sangatlah besar. Banyak nyawa terselamatkan oleh kelap-kelip hijau-kuning -merah-nya. Bukan hanya terhindarkan secara langsung dari kecelakaan yang mungkin timbul di persimpangan tetapi juga terlepas dari resiko stroke dan jantungan akibat kemacetan.

Jumlah kecil pun tidak berarti perawatannya mudah. Tidak usah bertele-tele, buktinya saja lampu lalulintas ini sering tidak berfungsi. Ada yang warnanya sudah pudar, sering juga mati sekalipun tidak sedang mati listrik.

Lampu merah yang paling sering terganggu fungsinya adalah di simpang lima Tugu Mangga. Memang inilah jalur tersibuk di tepian kota ini. Tiga lampu lalu-lintas yang terpasang di ujung Jalan Gatot Subroto adalah yang paling sering byar-pet.

Menjelang arus mudik, ternyata bukan halangan bagi lampu merah untuk persiapan cuti. Kali ini yang mati dari arah Jatibarang dan Jalan Kembar. Dua lampu lalu-litas dari dan ke Kota Indramayu itu mati total beberapa hari ini. Oleh karena itu sekalipun posisi pengguna jalan melihat lampu hijau menyala di sampingnya, namun jangan heran kalau banyak kendaraan dari kedua arah tersebut yang tetap melaju.

Bisa dibayangkan, betapa bahayanya kalau keadaan ini terus berlangsung ketika arus mudik dimulai. Apalagi pengguna kendaraan roda dua biasanya dialihkan ke jalur ini. Motor berhamburan dari barat begitu menyala lampu hijau, sementara dari dua arah di depannya juga lalu-lalang kendaraan yang penggunanya tidak mau mengalah. Perjalanan panjang dari Jakarta dan sekitarnya membuat pengendara lelah, mudah tersulut emosi. Di sisi lain, wong reang (orang local, begitu orang Indramayu menyebut dirinya), punya prinsip lain, dalan-dalan reang ya pujare reang (jalan-jalan saya ya terserah saya).

Sebulan lalu, ketika lampu lalu-lintas mati maka pengendara motor dan mobil masih mau tengok kiri dan kanan atau bahkan menunggu giliran. Paling yang berani menerobos langsung mobil dinas polisi itu sendiri. Sekarang tidak lagi, tabrak saja. Makin meratanya perilaku tabrak lampu mati ini mungkin karena seringnya lampu lalu-lintas tak berfungsi. Atau bahkan mencontoh beberapa anggota polisi melakukan hal terlarang itu. Kalau keadaan terakhir yang terjadi, berarti sekalipun kita hidup di era modern tidak boleh lupa adegium lama tinggalan leluhur, guru kencing berdiri murid kencing berlari.

Bagi pemudik yang tersesat masuk tengah Kota Indramayu pun harus hati-hati. Lampu merah di tersibuk di samping Kantor Polres lama sering menyala kelap-kelip warna kuning saja. Seorang teman berkelakar kalau hal itu berhubungan erat dengan warna lambing partai yang menjadi penguasa. “Merah dan hijau sengaja dimatikan !” Tentu sama sekali bukan itu penyebabnya, bukan juga karena petugas yang mengoperasikan lampu lalu-lintas kecapaian atau tertidur menunggu buka puasa.

Ada juga yang menyatakan sebuah asumsi lain tentang tidak berfungsi baiknya lampu lalu-lintas, kemungkinan besar lampu itu mungkes karena salah namanya. Sudah tahu lampu yang ada menyalakan warna hijau-kuning-merah (dari bawah ke atas), masih dibilang sebagai Lampu Merah. Padahal jelas-jelas ada warna dua warna lain menemani warna merah disana. Demikian juga yang menyala terus kedap-kedip warna kuningnya saja, masih disebut Lampu Merah. Lebih parah lagi kalau yang tidak bisa menyala sekalipun, eh, masih dibilang lampu merah juga.

Di Yogyakarta dan beberapa kota di Jawa Tengah, lampu sejenis diberi nama Bangjo (abang-ijo, merah-hijau). Mungkin karena sebutannya mendekati kebenaran, mereka lebih baik dalam menjalankan fungsinya. Warna “kuning” tidak disebut warna kuning adalah yang terpenting. Dapat dimaknai sebagai hati-hati dan paling suka ditaati sebagai hati-hati lampu merah sudah sangat dekat alias segera tancap gas.

Supaya lampu lalulintas di Kota Indramayu ataupun kota lainnya berfungsi dengan baik mungkin perlu juga diberi nama yang sesuai, bukan Lampu Merah lagi tetapi dirubah menjadi Bang Kujo atau Akui (abang-kuning-ijo) atau sebutan lainnya yang menunjukkan ketiga warna yang seharusnya dimiliki lampu tersebut.

Tetapi, Shakespeare sudah sejak lama mengingatkan, “Apalah arti sebuah nama.” Hal ini tentu berlaku juga untuk Lampu Merah. Apapun namanya, sebagus dan sehebat apapun sebutannya, kalau perawatannya tidak dilakukan dengan baik maka hasilnya akan begitu-begitu juga.

Seperti lampu lalulintas di ujung simpang lima tepian Kota Mangga ini ataupun di kota-kota lainnya, sekalipun namanya berubah menjadi Bang Kujo atau Akui misalnya, tanpa perawatan yang baik maka tidak akan dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Atau bahkan hanya menjadi sekedar pajangan belaka.

Sumber :
http://sosbud.kompasiana.com/2010/08/27/lampu-merah/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar