Kamis, 19 Agustus 2010

LATAH

“Harga beras Rp. 7.000,- per kg !”

Sebuah harga yang fantastis di pasaran, hampir dua kali lipat daripada harga biasanya. Banyak yang teriak, tetapi tidak sedikit yang diuntungkan oleh situasi yang tak menentu ini. Apakah petani diuntungkan ?

Semestinya, banyak petani menikmati harga gabah yang tinggi ini sebagai suatu berkah. Namun sayang, kebanyakan petani secara real sudah tidak punya padi lagi. Karena kebanyakan petani sesungguhnya hanyalah buruh tani yang mengandalkan upah dari mereka yang empunya lahan. Sehingga hal ini juga merupakan beban tersendiri.

Ironisnya, kenaikan harga beras ini terjadi pada saat panen masih terus berlangsung. Bukan paceklik sebagaimana hal itu biasa terjadi. Panen masih terus berlangsung di beberapa daerah. Menurut pembicaraan tingkat tinggi para pejabat yang mengurusi pangan di Jakarta pun, ternyata stok pangan untuk 2 bulan masih cukup. Apalagi ditambah panen bulan ini dan September masih berlangsung, tentu stock akan melambung.

Tetapi kenapa harga beras naik di tengah supply yang menggelembung ini? Ketika supply melambung tinggi dan permintaan relative tetap maka harga semestinya tuurun. Bukankah Hukum Ekonomi yang sejak dua abad lalu mengingatkan hubungan supply dan demand tak sejalan dengan hal ini?

Padahal secara logika, banyaknya supply tentu bisa menekan harga, tetapi kenyataannya tidak. Hukum supply-demand Adam Smith seakan tidak berlaku.
Mungkin tangan malaikat turut berperan dalam mengubah posisi hubungan supply-demand sehingga tidak berjalan sebagaimana biasa. Dan, tangan malaikat itu adalah latah !

Tidak dapat dipungkiri kalau kenaikan TDL akan berdampak pada harga setiap lini kehidupan sebagaimana isyu harga BBM tak bersubsidi yang belum juga kelar. Naiknya berbagai komoditi pangan di pasaran pun tak dapat dihindari sebagai efek langsung ataupun tidak langsung kebijakan pemerintah tersebut.

Di sisi lain, tradisi relative konsumtif sebagian besar masyarakat kita di bulan ramadhan pun tidak dapat dipungkiri. Puasa, buka dengan makanan lebih enak daripada biasa. Bahkan tidak sedikit yang di bulan penuh barokah ini bukan hanya berlomba meraih berkah tetapi juga seakan berlomba mengumpulkan makanan untuk berbuka.
Padahal akhirnya yang dikonsumsi sebatas itu-itu juga. Banyak bersisa. Tetapi kebiasaan itu tidak jadi bahan pelajaran pada puasa berikutnya, malah seperti menjadi tradisi saja.

Tidak heran kalau ramadhan identik dengan meningkatnya harga gula, tepung, minyak atau bahkan singkong dan sebagainya. Dan, seperti latah, beras pun harganya ikut bertengger sedemikian jaya di angkasa.

Sama sekali bukan karena efek musim, pengaruh produktivitasS yang rendah, harga beras hanya latah, ikut-ikutan merangkak naik sebagaimana harga-harga bahan makanan dan komoditi lain yang merajut harga sendiri.

Sumber :
http://ekonomi.kompasiana.com/group/marketing/2010/08/20/latah/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar