Jumat, 06 Agustus 2010

“GARBAGE IN GARBAGE OUT”

Kalau sampah yang masuk maka yang akan keluar juga sampah !

Tiga dasa warsa yang lalu, adegium itu saya kenal dari sebuah buku. Apa yang ditulis disana sangat mengena, melukiskan dengan jelas keterkaitannya yang erat dengan kehidupan nyata.

Tidak berselang lama, Bapak Guru Matematika kami yang memperkenalkan teknologi computer pun mengulang untaian kata itu. Sambil manggut-manggut, hati mulai bertanya-tanya, “Apakah beliau belum belajar Ilmu Kimia?” Tapi, dalam konteks ini kan, masalah data, sisi hati yang lain membela.

Tetapi keraguan itu terus berkecamuk, banyak referensi terbitan BUTSI (Badan Usaha Tenaga Sukarela Indonesia, sebuah lembaga dibawah Menteri Tenaga Kerja) meyakinkan saya bahwa istilah itu tidak selalu benar.

Sebut saja dalam hal sampah yang satu ini, maaf: kotoran ternak. Dengan sedikit pulasan kreativitas, ampas yang keluar dari tubuh ternak ini bisa diubah menjadi gas yang bisa dimanfaatkan di dapur. Untuk masak, mematangkan bahan mentah menjadi asupan yang bisa membangkitkan organ tubuh dan kehidupan manusia secara keseluruhan.

Semakin banyak membaca, keresahan pun makin menggejolak. “Maaf, Pak. Saya ada keraguan tentang istilah yang pernah Bapak sampaikan di kelas.” Setelah cukup lama diskusi, maka lega dan harus lega saat itu dengan ucapan terakhir beliau, “Itu semua sangat tergantung pada pengalaman kehidupan kita masing-masing.”

Tahun 1980-an akhir adalah saat yang paling membuktikan bahwa adegium itu perlu koreksi yang signifikans. Tanpa pengolahan apapun, sampah dari kandang sapi perah bisa menjadikan King Grass sebagai raja rumput. Tumbuh subur dan produksi yang berlimpah melebihi rumput jenis apapun yang ada saat itu. Dan, rumput-rumput itupun kembali ke kandang, menghidupi sapi-sapi perah yang menghasilkan susu murni untuk konsumsi manusia.

Secara singkat, dengan sedikit alur kehidupan pupuk kandang itu mampu mengubah diri menjadi susu. Tetapi, jika dipikir lebih jauh, toh kahirnya balik jadi ampas kandang juga ya? Jadi ada benarnya juga dech.

Istilah itu ternyata juga popular di Ilmu Manajemen. Awal tahun 1990-an, beberapa trainer dengan bangga menyampaikan hal itu di depan para karyawan baru yang sangat perlu pencerahan. Saya tetap pada satu pendirian, adegium itu tidak selalu benar. Oleh karena itu ketika trainer terus mengulang dan mengulang istilah itu saya bertanya, “Kalau memang istilah itu benar, buat apa kami dijadikan trainee ?”

Saya bersikeras bahwa upaya brainstorming yang dilakukan justeru untuk memutar-balik istilah kuno itu. Biarpun semula kami beraneka ragam latar belakang pendidikan begitu keluar dari pelatihan menjadi satu pola pikir, berbuat maksimal untuk perusahaan. Demikian juga yang semula merasa rendah diri karena alasan tertentu sehingga merasa diri sebagai sarjana sampah suatu saat akan menjadi sarjana emas.

Jangan kaget kalau suatu saat saya pernah mengusir seorang fasilitator karena perdebatan istilah ini. Pada sebuah pelatihan kewirausahaan yang memanfaatkan limbah kehidupan sehari-hari menjadi pupuk organic, seorang fasilitator mengemukakan adegium itu dengan bangganya, “Apapun yang kita lakukan, kalau sampah yang masuk pasti akan jadi sampah juga keluarnya.”

Sekalipun beliau mengemukakan berbagai alasan yang membenarkan istilah yang terlanjur diucapkannya, saya menganggap beliau sangat tidak mengerti. Sama sekali tidak tahu bahwa tujuan dari pelatihan tersebut adalah mengubah sampah menjadi gulden alias emas. Membangkitkan semangat yang loyo karena bau sampah mengganggu menjadi kilauan emas sampah yang ditunggu.

“Kalau Bapak tetap ngotot dengan adegium yang keliru seperti itu, kami sepakat bubar saja!” Kata-kata itu ternyata sangat ampuh. Panitia mengganti beliau dengan fasilitator yang menjalankan perannya sebagai fasilitator semata.

Kehidupan nyata mendidik bahwa sampah jenis apapun ternyata bisa berubah menjadi emas, tergantung proses dan tujuan serta kepentingan yang melandasi. Bukan hanya yang berbentuk nyata, seperti halnya sampah-sampah yang menggunduk berubah menjadi isi rekening gendut. Ternyata informasi seburuk apapun bisa dikemas dalam bentuk yang indah dan disampaikan menjadi kata-kata emas yang membuai perasaan pendengarnya. Begitulah perjalanan hidup membuktikan semuanya.

Lama sudah kata berbisa itu saya lupakan, namun tiba-tiba harus saya ingat kembali ketika berhadapan dengan seorang aktivis yang mengeluhkan masa lalunya yang sangat kontradiktif dengan impian masa depan gemilangnya.

“Kalau anda mau, saya bisa menjadikan perbuatan buruk dan berbagai informasi tentang masa lalu sampahmu itu jadi emas yang membuai masyarakat!”
“Ya?”
“Ya. Sesuatu yang gampang dilakukan.”
“Berapa aku harus bayar ?”
“Murah.” Dia makin tampak antusias dalam kebingungan, “Tidak perlu bayar.”
“Cepat kalo bisa bantu aku !” Pintanya, “Please …!”
“Saya sangat bisa,” kataku mantap, “Tetapi kalau saya melakukannya, maka sesungguhnya saya adalah sampah yang sebenarnya !”

Setelah itu kami terdiam, saya merenung sebentar, “Sampah yang sebenarnya itulah yang akan diproses dengan cara apa dan bagaimanapun serta seberapa lama juga akan tetap menjadi sampah. Sekalipun penampilan mereka menyilaukan bagai kerlingan emas, sesungguhnya hati dan tujuan hidup mereka tetap busuk seperti sampah.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar