Di kota sekecil Indramayu, lampu merah bisa dihitung dengan jari. Tidak terlalu banyak, hanya di beberapa titik perempatan jalan atau simpang lima saja. Ada juga simpang tiga yang dijaga oleh lampu lalulintas ini.
Sebagaimana rambu lalulintas lain, sekalipun jumlahnya kecil sesungguhnya faedahnya sangatlah besar. Banyak nyawa terselamatkan oleh kelap-kelip hijau-kuning -merah-nya. Bukan hanya terhindarkan secara langsung dari kecelakaan yang mungkin timbul di persimpangan tetapi juga terlepas dari resiko stroke dan jantungan akibat kemacetan.
Jumlah kecil pun tidak berarti perawatannya mudah. Tidak usah bertele-tele, buktinya saja lampu lalulintas ini sering tidak berfungsi. Ada yang warnanya sudah pudar, sering juga mati sekalipun tidak sedang mati listrik.
Lampu merah yang paling sering terganggu fungsinya adalah di simpang lima Tugu Mangga. Memang inilah jalur tersibuk di tepian kota ini. Tiga lampu lalu-lintas yang terpasang di ujung Jalan Gatot Subroto adalah yang paling sering byar-pet.
Menjelang arus mudik, ternyata bukan halangan bagi lampu merah untuk persiapan cuti. Kali ini yang mati dari arah Jatibarang dan Jalan Kembar. Dua lampu lalu-litas dari dan ke Kota Indramayu itu mati total beberapa hari ini. Oleh karena itu sekalipun posisi pengguna jalan melihat lampu hijau menyala di sampingnya, namun jangan heran kalau banyak kendaraan dari kedua arah tersebut yang tetap melaju.
Bisa dibayangkan, betapa bahayanya kalau keadaan ini terus berlangsung ketika arus mudik dimulai. Apalagi pengguna kendaraan roda dua biasanya dialihkan ke jalur ini. Motor berhamburan dari barat begitu menyala lampu hijau, sementara dari dua arah di depannya juga lalu-lalang kendaraan yang penggunanya tidak mau mengalah. Perjalanan panjang dari Jakarta dan sekitarnya membuat pengendara lelah, mudah tersulut emosi. Di sisi lain, wong reang (orang local, begitu orang Indramayu menyebut dirinya), punya prinsip lain, dalan-dalan reang ya pujare reang (jalan-jalan saya ya terserah saya).
Sebulan lalu, ketika lampu lalu-lintas mati maka pengendara motor dan mobil masih mau tengok kiri dan kanan atau bahkan menunggu giliran. Paling yang berani menerobos langsung mobil dinas polisi itu sendiri. Sekarang tidak lagi, tabrak saja. Makin meratanya perilaku tabrak lampu mati ini mungkin karena seringnya lampu lalu-lintas tak berfungsi. Atau bahkan mencontoh beberapa anggota polisi melakukan hal terlarang itu. Kalau keadaan terakhir yang terjadi, berarti sekalipun kita hidup di era modern tidak boleh lupa adegium lama tinggalan leluhur, guru kencing berdiri murid kencing berlari.
Bagi pemudik yang tersesat masuk tengah Kota Indramayu pun harus hati-hati. Lampu merah di tersibuk di samping Kantor Polres lama sering menyala kelap-kelip warna kuning saja. Seorang teman berkelakar kalau hal itu berhubungan erat dengan warna lambing partai yang menjadi penguasa. “Merah dan hijau sengaja dimatikan !” Tentu sama sekali bukan itu penyebabnya, bukan juga karena petugas yang mengoperasikan lampu lalu-lintas kecapaian atau tertidur menunggu buka puasa.
Ada juga yang menyatakan sebuah asumsi lain tentang tidak berfungsi baiknya lampu lalu-lintas, kemungkinan besar lampu itu mungkes karena salah namanya. Sudah tahu lampu yang ada menyalakan warna hijau-kuning-merah (dari bawah ke atas), masih dibilang sebagai Lampu Merah. Padahal jelas-jelas ada warna dua warna lain menemani warna merah disana. Demikian juga yang menyala terus kedap-kedip warna kuningnya saja, masih disebut Lampu Merah. Lebih parah lagi kalau yang tidak bisa menyala sekalipun, eh, masih dibilang lampu merah juga.
Di Yogyakarta dan beberapa kota di Jawa Tengah, lampu sejenis diberi nama Bangjo (abang-ijo, merah-hijau). Mungkin karena sebutannya mendekati kebenaran, mereka lebih baik dalam menjalankan fungsinya. Warna “kuning” tidak disebut warna kuning adalah yang terpenting. Dapat dimaknai sebagai hati-hati dan paling suka ditaati sebagai hati-hati lampu merah sudah sangat dekat alias segera tancap gas.
Supaya lampu lalulintas di Kota Indramayu ataupun kota lainnya berfungsi dengan baik mungkin perlu juga diberi nama yang sesuai, bukan Lampu Merah lagi tetapi dirubah menjadi Bang Kujo atau Akui (abang-kuning-ijo) atau sebutan lainnya yang menunjukkan ketiga warna yang seharusnya dimiliki lampu tersebut.
Tetapi, Shakespeare sudah sejak lama mengingatkan, “Apalah arti sebuah nama.” Hal ini tentu berlaku juga untuk Lampu Merah. Apapun namanya, sebagus dan sehebat apapun sebutannya, kalau perawatannya tidak dilakukan dengan baik maka hasilnya akan begitu-begitu juga.
Seperti lampu lalulintas di ujung simpang lima tepian Kota Mangga ini ataupun di kota-kota lainnya, sekalipun namanya berubah menjadi Bang Kujo atau Akui misalnya, tanpa perawatan yang baik maka tidak akan dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Atau bahkan hanya menjadi sekedar pajangan belaka.
Sumber :
http://sosbud.kompasiana.com/2010/08/27/lampu-merah/
Kamis, 26 Agustus 2010
Rabu, 25 Agustus 2010
LAGI-LAGI, INDRAMAYU BARAT MERDEKA !
Berjalan ke arah timur Kota Indramayu, menelusuri jalan alternative arus mudik/balik, panjang, lebar dan lurus. Betapa indahnya kalau semua jalan besar di negeri kecilku seindah jalan yang satu ini.
Kekaguman bukan berhenti sampai disitu, jalan kabupaten yang menghubungkan beberapa kecamatan pun tidak kalah mulus. Memasuki wilayah Juntinyuat, salah jalan dapat Desa Pondoh dan kemudian menembus Desa Segeran Kidul. Sama sekalai tidak masalah, jalan hotmix-nya sangat mulus.
Tak kalah bagusnya jalan yang mengikuti lika-liku sungai yang menghubungkan Tenajar Lor dan Tenajar Kidul. Demikian juga jalan yang melintas Desa Gadingan sampai akhirnya melintasi Kantor Kecamatn Sliyeg dan seterusnya.
Sepanjang perjalanan, hamparan sawah seakan tak pernah putus. Sambung-menyambung dengan pekarangan dan perumahan masyarakat. Sungai-sungai masih mengalirkan air diantara hempasan udara panas kemarau.
Untaian padi siap panen menghampar di beberapa lokasi, sebagian sedang diambil bulirnya. Sebagian lagi jerami padi kering disawah tak termanfaatkan. Beberapa petak sawah mulai dimanfaatkan untuk tanaman palawija.
Sungguh indahnya, Indramayu, Indramayu tahan air kecilku yang subur makmur. Tetapi hati ini begitu ter-iris, pilu, pedih, bercampur-aduk dengan sakit yang menyayat.
Hal ini tidak lain karena kemarin kami sempat berjalan jauh ke Indramayu sebelah barat. Mendekati perbatasan dengan Subang, jalan kabupaten uang menghubungkan Patrol dengan Haurgeulis (jalan masuk ke Pesantren Modern Al-Zaitun) lumayan bagus alis banyak rusaknya. Sepanjang pesawahan antara Haurgeulis ke Gantar (jalan ke Al-Zaitun juga) lebih parah karena konstruksinya lebih jelek.
Ada sedikit hotmix baru sebelah timur Kantor Camat Gantar, tetapi dilanjutkan dengan jalan yang kemungkinan besar jadi kubangan saat musim penghujan. Bahkan mendekati ibukota Kecamatan Gabuswetan mobil harus melewati kubangan di tengah kemarau panjang.
Sungai-sungai kerontang tak berisi. Sepanjang mata memandang, sawah menghampar luas. Kering tak berair. Sebagian menyisakan pilu, padi yang belum sempat berisi sudah kehabisan air. Hamparan tanaman cabe berumur muda pun sebagian mulai layu tak kuat menahan sengat matahari.
Indramayu sebelah barat dan timur sesungguhnya seperti dua sisi mata uang. Suatu kesatuan sekalipun gambarnya berbeda satu dengan yang lainnya.
Perbedaan gambar yang sangat mencolok itulah yang menyebabkan saya tak bosan berteriak, “Indramayu Barat Merdeka !”
Sama sekali bukan tindakan makar untuk terlepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sudah merdeka ini. Bukan, tetapi merdeka dari keterpurukan yang selama puluhan tahun tidak pernah berubah. Berubah menjadi sebuah wilayah yang mampu menggali potensi internalnya secara optimal. Sebuah daerah yang memberdayakan masyarakat penghuninya sehingga bukan hanya menjadi pemanut dan penurut untuk sesuatu yang tidak dimengerti secara jelas oleh mereka.
Seperti diketahui, masyarakat Indramayu sebelah barat sudah lama dikenal sebagai pemanut dan penurut. Bahkan seorang mantan Camat Kota Indramayu pernah berujar, “Kota Indramayu akan gelap gulita kalau Indramayu barat berdiri !”
Kata-kata pamong senior itu bukan tanpa alasan, masyarakat Indramayu sebelah barat tidak pernah rebut, menuntut tetapi tetap menurut ketika sepanjang bulan harus bayar Pajak Pnerangan Jalan sekalipun tidak pernah menikmatinya. Jalan-jalan gulita, kecuali beberapa tiang listrik yang diberi lampu. Sebagian terbesar lampu itupun lampu milik masyarakat yang dibayar dari kwh meter di rumah mereka.
Bukan hanya itu, beliau yang sudah malang melintang menjadi Camat di wilayah Indramayu sebelah barat, tahu benar karakter masyarakatnya. PBB selalu lunas sekalipun saat itu belum ada Alokasi Dana Desa (ADD) yang sekarang tidak sedikit dimanfaatkan Kepala Desa (Kuwu) sebagai Dewa Penolong.
Kesahajaan masyarakat Indramayu sebelah barat berpadu dengan berbagai karunia Tuhan yang berlimpah adalah sebuah anomaly dengan keadaan sekarang.
Lihatlah sepanjang jalur pantura Jawa Barat yang dikenal sebagai jalur tengkorak, hempasan ombak di pantai mengantar penduduk pesisir mencari kehidupan di laut lepas. Menghantarkan kekayaan para pahlawan bahari menikmati kehidupan yang layak. Amis bau jemuran ikan diantara hamparan ladang garam adalah potensi yang sampai sekarang belum sepenuhnya tersentuh teknologi.
Demikian juga sumber minyak bumi di kabupaten yang terkenal karena Unit Pengolahan VI Balongan-nya ini, sesungguhnya kebanyakan dari Indramayu sebelah barat. http://segudang-cerita-tua.blogspot.com/2010/02/indramayu-subur.html
Demikian juga kesuburan lahan Indramayu sebelah barat sungguh luar biasa. Hamparan sawahnya tak terkira luasnya. Bukan berita kalau sebagian masyarakat desa di Indramayu sebelah timur dulunya sering numpang menjadi kuli sawah di beberapa desa di wilayah ini. Setiap musim hujan, mulai pengolahan, tanam dan panen banyak masyarakat Desa Pranggong, Panyindangan, Cangkingan, Segeran dan sekitarnya yang ngadon hidup di Desa Kedokangabus, Sumbon dan sekitarnya.
Sebagian bisa panen dua kali, banyak yang cuma sekali. Tapi palawija seperti semangka, cabe, sayur-sayuran merupakan komoditi yang tak terlupakan. Tanpa disadari dengan pengetahuan yang cukup, sesungguhnya mereka memutuskan rantai penyakit dari setiap musim ke musim berikutnya.
Seorang sahabat bertanya, “Mengapa orang Indramayu sebelah barat justeru banyak yang pergi ke Batam, Saritem, Mabes?”
Bukan rahasia kalau memang sebagian warga yang mengambil jalan pintas dalam mengatasi permasalahan ekonominya. Sebuah alternative terpahit yang ditempuh ketika hamparan sawah tidak lagi berperan menghidupi mereka. Ketika jalan berkerikil tajam berkubang menghalangi mereka mendapatkan hak berusaha yang layak.
Ketika perut berteriak, saat anak dan keponakan merintih, di tengah berbagai tantangan kehidupan yang makin kuat menimpa. Sementara kesempatan memanfaatkan sawah dan pekarangan sebagai sumber kehidupan terputus. Sawah dan pekarangan lain adalah alternative terakhir yang tidak dikehendaki sebagai sumber kehidupan baru. Ketika keadaan sudah sangat terbelit, pilihan terakhir dalam keterpaksaan adalah bukanlah sumur gas dan minyakbumi sebagai harapan tetapi sumur yang lain.
Keadaan Indramayu sebelah barat memang demikian adanya, kalau ada semilir udara dingin ringang dan suburnya pepohonan di Pesantren Al-Zaitun, maka seputar tembok tinggi itu saja adanya. Diseputarnya udara panas tak tertahankan, lahan sawah dan pekarangan kering-kerontang. Jalan-jalan berantakan, kontras dan jauh sekali dengan di dalam komplek pesantren terbesar itu.
Namun demikian, jika semua potensi yang ada termanfaatkan. Seandainya berbagai penghasilan daerah barat ini termanfaatkan kembali untuk masyarakat penghuninya. Insya Allah, badai kemiskinan yang selalu membelit akan berlalu. Demikian juga berbagai alasan yang menyebabkan rusaknya citra tak perlu berlanjut.
Indramayu Barat, masyarakat merindukan kehadiranmu walau sampai sekarang mereka tidak pernah menyadari atau bahkan secara vulgar menentangnya.
Sumber :
http://sosbud.kompasiana.com/2010/08/25/indramayu-barat-merdeka/
Kekaguman bukan berhenti sampai disitu, jalan kabupaten yang menghubungkan beberapa kecamatan pun tidak kalah mulus. Memasuki wilayah Juntinyuat, salah jalan dapat Desa Pondoh dan kemudian menembus Desa Segeran Kidul. Sama sekalai tidak masalah, jalan hotmix-nya sangat mulus.
Tak kalah bagusnya jalan yang mengikuti lika-liku sungai yang menghubungkan Tenajar Lor dan Tenajar Kidul. Demikian juga jalan yang melintas Desa Gadingan sampai akhirnya melintasi Kantor Kecamatn Sliyeg dan seterusnya.
Sepanjang perjalanan, hamparan sawah seakan tak pernah putus. Sambung-menyambung dengan pekarangan dan perumahan masyarakat. Sungai-sungai masih mengalirkan air diantara hempasan udara panas kemarau.
Untaian padi siap panen menghampar di beberapa lokasi, sebagian sedang diambil bulirnya. Sebagian lagi jerami padi kering disawah tak termanfaatkan. Beberapa petak sawah mulai dimanfaatkan untuk tanaman palawija.
Sungguh indahnya, Indramayu, Indramayu tahan air kecilku yang subur makmur. Tetapi hati ini begitu ter-iris, pilu, pedih, bercampur-aduk dengan sakit yang menyayat.
Hal ini tidak lain karena kemarin kami sempat berjalan jauh ke Indramayu sebelah barat. Mendekati perbatasan dengan Subang, jalan kabupaten uang menghubungkan Patrol dengan Haurgeulis (jalan masuk ke Pesantren Modern Al-Zaitun) lumayan bagus alis banyak rusaknya. Sepanjang pesawahan antara Haurgeulis ke Gantar (jalan ke Al-Zaitun juga) lebih parah karena konstruksinya lebih jelek.
Ada sedikit hotmix baru sebelah timur Kantor Camat Gantar, tetapi dilanjutkan dengan jalan yang kemungkinan besar jadi kubangan saat musim penghujan. Bahkan mendekati ibukota Kecamatan Gabuswetan mobil harus melewati kubangan di tengah kemarau panjang.
Sungai-sungai kerontang tak berisi. Sepanjang mata memandang, sawah menghampar luas. Kering tak berair. Sebagian menyisakan pilu, padi yang belum sempat berisi sudah kehabisan air. Hamparan tanaman cabe berumur muda pun sebagian mulai layu tak kuat menahan sengat matahari.
Indramayu sebelah barat dan timur sesungguhnya seperti dua sisi mata uang. Suatu kesatuan sekalipun gambarnya berbeda satu dengan yang lainnya.
Perbedaan gambar yang sangat mencolok itulah yang menyebabkan saya tak bosan berteriak, “Indramayu Barat Merdeka !”
Sama sekali bukan tindakan makar untuk terlepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sudah merdeka ini. Bukan, tetapi merdeka dari keterpurukan yang selama puluhan tahun tidak pernah berubah. Berubah menjadi sebuah wilayah yang mampu menggali potensi internalnya secara optimal. Sebuah daerah yang memberdayakan masyarakat penghuninya sehingga bukan hanya menjadi pemanut dan penurut untuk sesuatu yang tidak dimengerti secara jelas oleh mereka.
Seperti diketahui, masyarakat Indramayu sebelah barat sudah lama dikenal sebagai pemanut dan penurut. Bahkan seorang mantan Camat Kota Indramayu pernah berujar, “Kota Indramayu akan gelap gulita kalau Indramayu barat berdiri !”
Kata-kata pamong senior itu bukan tanpa alasan, masyarakat Indramayu sebelah barat tidak pernah rebut, menuntut tetapi tetap menurut ketika sepanjang bulan harus bayar Pajak Pnerangan Jalan sekalipun tidak pernah menikmatinya. Jalan-jalan gulita, kecuali beberapa tiang listrik yang diberi lampu. Sebagian terbesar lampu itupun lampu milik masyarakat yang dibayar dari kwh meter di rumah mereka.
Bukan hanya itu, beliau yang sudah malang melintang menjadi Camat di wilayah Indramayu sebelah barat, tahu benar karakter masyarakatnya. PBB selalu lunas sekalipun saat itu belum ada Alokasi Dana Desa (ADD) yang sekarang tidak sedikit dimanfaatkan Kepala Desa (Kuwu) sebagai Dewa Penolong.
Kesahajaan masyarakat Indramayu sebelah barat berpadu dengan berbagai karunia Tuhan yang berlimpah adalah sebuah anomaly dengan keadaan sekarang.
Lihatlah sepanjang jalur pantura Jawa Barat yang dikenal sebagai jalur tengkorak, hempasan ombak di pantai mengantar penduduk pesisir mencari kehidupan di laut lepas. Menghantarkan kekayaan para pahlawan bahari menikmati kehidupan yang layak. Amis bau jemuran ikan diantara hamparan ladang garam adalah potensi yang sampai sekarang belum sepenuhnya tersentuh teknologi.
Demikian juga sumber minyak bumi di kabupaten yang terkenal karena Unit Pengolahan VI Balongan-nya ini, sesungguhnya kebanyakan dari Indramayu sebelah barat. http://segudang-cerita-tua.blogspot.com/2010/02/indramayu-subur.html
Demikian juga kesuburan lahan Indramayu sebelah barat sungguh luar biasa. Hamparan sawahnya tak terkira luasnya. Bukan berita kalau sebagian masyarakat desa di Indramayu sebelah timur dulunya sering numpang menjadi kuli sawah di beberapa desa di wilayah ini. Setiap musim hujan, mulai pengolahan, tanam dan panen banyak masyarakat Desa Pranggong, Panyindangan, Cangkingan, Segeran dan sekitarnya yang ngadon hidup di Desa Kedokangabus, Sumbon dan sekitarnya.
Sebagian bisa panen dua kali, banyak yang cuma sekali. Tapi palawija seperti semangka, cabe, sayur-sayuran merupakan komoditi yang tak terlupakan. Tanpa disadari dengan pengetahuan yang cukup, sesungguhnya mereka memutuskan rantai penyakit dari setiap musim ke musim berikutnya.
Seorang sahabat bertanya, “Mengapa orang Indramayu sebelah barat justeru banyak yang pergi ke Batam, Saritem, Mabes?”
Bukan rahasia kalau memang sebagian warga yang mengambil jalan pintas dalam mengatasi permasalahan ekonominya. Sebuah alternative terpahit yang ditempuh ketika hamparan sawah tidak lagi berperan menghidupi mereka. Ketika jalan berkerikil tajam berkubang menghalangi mereka mendapatkan hak berusaha yang layak.
Ketika perut berteriak, saat anak dan keponakan merintih, di tengah berbagai tantangan kehidupan yang makin kuat menimpa. Sementara kesempatan memanfaatkan sawah dan pekarangan sebagai sumber kehidupan terputus. Sawah dan pekarangan lain adalah alternative terakhir yang tidak dikehendaki sebagai sumber kehidupan baru. Ketika keadaan sudah sangat terbelit, pilihan terakhir dalam keterpaksaan adalah bukanlah sumur gas dan minyakbumi sebagai harapan tetapi sumur yang lain.
Keadaan Indramayu sebelah barat memang demikian adanya, kalau ada semilir udara dingin ringang dan suburnya pepohonan di Pesantren Al-Zaitun, maka seputar tembok tinggi itu saja adanya. Diseputarnya udara panas tak tertahankan, lahan sawah dan pekarangan kering-kerontang. Jalan-jalan berantakan, kontras dan jauh sekali dengan di dalam komplek pesantren terbesar itu.
Namun demikian, jika semua potensi yang ada termanfaatkan. Seandainya berbagai penghasilan daerah barat ini termanfaatkan kembali untuk masyarakat penghuninya. Insya Allah, badai kemiskinan yang selalu membelit akan berlalu. Demikian juga berbagai alasan yang menyebabkan rusaknya citra tak perlu berlanjut.
Indramayu Barat, masyarakat merindukan kehadiranmu walau sampai sekarang mereka tidak pernah menyadari atau bahkan secara vulgar menentangnya.
Sumber :
http://sosbud.kompasiana.com/2010/08/25/indramayu-barat-merdeka/
Kamis, 19 Agustus 2010
LATAH
“Harga beras Rp. 7.000,- per kg !”
Sebuah harga yang fantastis di pasaran, hampir dua kali lipat daripada harga biasanya. Banyak yang teriak, tetapi tidak sedikit yang diuntungkan oleh situasi yang tak menentu ini. Apakah petani diuntungkan ?
Semestinya, banyak petani menikmati harga gabah yang tinggi ini sebagai suatu berkah. Namun sayang, kebanyakan petani secara real sudah tidak punya padi lagi. Karena kebanyakan petani sesungguhnya hanyalah buruh tani yang mengandalkan upah dari mereka yang empunya lahan. Sehingga hal ini juga merupakan beban tersendiri.
Ironisnya, kenaikan harga beras ini terjadi pada saat panen masih terus berlangsung. Bukan paceklik sebagaimana hal itu biasa terjadi. Panen masih terus berlangsung di beberapa daerah. Menurut pembicaraan tingkat tinggi para pejabat yang mengurusi pangan di Jakarta pun, ternyata stok pangan untuk 2 bulan masih cukup. Apalagi ditambah panen bulan ini dan September masih berlangsung, tentu stock akan melambung.
Tetapi kenapa harga beras naik di tengah supply yang menggelembung ini? Ketika supply melambung tinggi dan permintaan relative tetap maka harga semestinya tuurun. Bukankah Hukum Ekonomi yang sejak dua abad lalu mengingatkan hubungan supply dan demand tak sejalan dengan hal ini?
Padahal secara logika, banyaknya supply tentu bisa menekan harga, tetapi kenyataannya tidak. Hukum supply-demand Adam Smith seakan tidak berlaku.
Mungkin tangan malaikat turut berperan dalam mengubah posisi hubungan supply-demand sehingga tidak berjalan sebagaimana biasa. Dan, tangan malaikat itu adalah latah !
Tidak dapat dipungkiri kalau kenaikan TDL akan berdampak pada harga setiap lini kehidupan sebagaimana isyu harga BBM tak bersubsidi yang belum juga kelar. Naiknya berbagai komoditi pangan di pasaran pun tak dapat dihindari sebagai efek langsung ataupun tidak langsung kebijakan pemerintah tersebut.
Di sisi lain, tradisi relative konsumtif sebagian besar masyarakat kita di bulan ramadhan pun tidak dapat dipungkiri. Puasa, buka dengan makanan lebih enak daripada biasa. Bahkan tidak sedikit yang di bulan penuh barokah ini bukan hanya berlomba meraih berkah tetapi juga seakan berlomba mengumpulkan makanan untuk berbuka.
Padahal akhirnya yang dikonsumsi sebatas itu-itu juga. Banyak bersisa. Tetapi kebiasaan itu tidak jadi bahan pelajaran pada puasa berikutnya, malah seperti menjadi tradisi saja.
Tidak heran kalau ramadhan identik dengan meningkatnya harga gula, tepung, minyak atau bahkan singkong dan sebagainya. Dan, seperti latah, beras pun harganya ikut bertengger sedemikian jaya di angkasa.
Sama sekali bukan karena efek musim, pengaruh produktivitasS yang rendah, harga beras hanya latah, ikut-ikutan merangkak naik sebagaimana harga-harga bahan makanan dan komoditi lain yang merajut harga sendiri.
Sumber :
http://ekonomi.kompasiana.com/group/marketing/2010/08/20/latah/
Sebuah harga yang fantastis di pasaran, hampir dua kali lipat daripada harga biasanya. Banyak yang teriak, tetapi tidak sedikit yang diuntungkan oleh situasi yang tak menentu ini. Apakah petani diuntungkan ?
Semestinya, banyak petani menikmati harga gabah yang tinggi ini sebagai suatu berkah. Namun sayang, kebanyakan petani secara real sudah tidak punya padi lagi. Karena kebanyakan petani sesungguhnya hanyalah buruh tani yang mengandalkan upah dari mereka yang empunya lahan. Sehingga hal ini juga merupakan beban tersendiri.
Ironisnya, kenaikan harga beras ini terjadi pada saat panen masih terus berlangsung. Bukan paceklik sebagaimana hal itu biasa terjadi. Panen masih terus berlangsung di beberapa daerah. Menurut pembicaraan tingkat tinggi para pejabat yang mengurusi pangan di Jakarta pun, ternyata stok pangan untuk 2 bulan masih cukup. Apalagi ditambah panen bulan ini dan September masih berlangsung, tentu stock akan melambung.
Tetapi kenapa harga beras naik di tengah supply yang menggelembung ini? Ketika supply melambung tinggi dan permintaan relative tetap maka harga semestinya tuurun. Bukankah Hukum Ekonomi yang sejak dua abad lalu mengingatkan hubungan supply dan demand tak sejalan dengan hal ini?
Padahal secara logika, banyaknya supply tentu bisa menekan harga, tetapi kenyataannya tidak. Hukum supply-demand Adam Smith seakan tidak berlaku.
Mungkin tangan malaikat turut berperan dalam mengubah posisi hubungan supply-demand sehingga tidak berjalan sebagaimana biasa. Dan, tangan malaikat itu adalah latah !
Tidak dapat dipungkiri kalau kenaikan TDL akan berdampak pada harga setiap lini kehidupan sebagaimana isyu harga BBM tak bersubsidi yang belum juga kelar. Naiknya berbagai komoditi pangan di pasaran pun tak dapat dihindari sebagai efek langsung ataupun tidak langsung kebijakan pemerintah tersebut.
Di sisi lain, tradisi relative konsumtif sebagian besar masyarakat kita di bulan ramadhan pun tidak dapat dipungkiri. Puasa, buka dengan makanan lebih enak daripada biasa. Bahkan tidak sedikit yang di bulan penuh barokah ini bukan hanya berlomba meraih berkah tetapi juga seakan berlomba mengumpulkan makanan untuk berbuka.
Padahal akhirnya yang dikonsumsi sebatas itu-itu juga. Banyak bersisa. Tetapi kebiasaan itu tidak jadi bahan pelajaran pada puasa berikutnya, malah seperti menjadi tradisi saja.
Tidak heran kalau ramadhan identik dengan meningkatnya harga gula, tepung, minyak atau bahkan singkong dan sebagainya. Dan, seperti latah, beras pun harganya ikut bertengger sedemikian jaya di angkasa.
Sama sekali bukan karena efek musim, pengaruh produktivitasS yang rendah, harga beras hanya latah, ikut-ikutan merangkak naik sebagaimana harga-harga bahan makanan dan komoditi lain yang merajut harga sendiri.
Sumber :
http://ekonomi.kompasiana.com/group/marketing/2010/08/20/latah/
Jumat, 06 Agustus 2010
“GARBAGE IN GARBAGE OUT”
Kalau sampah yang masuk maka yang akan keluar juga sampah !
Tiga dasa warsa yang lalu, adegium itu saya kenal dari sebuah buku. Apa yang ditulis disana sangat mengena, melukiskan dengan jelas keterkaitannya yang erat dengan kehidupan nyata.
Tidak berselang lama, Bapak Guru Matematika kami yang memperkenalkan teknologi computer pun mengulang untaian kata itu. Sambil manggut-manggut, hati mulai bertanya-tanya, “Apakah beliau belum belajar Ilmu Kimia?” Tapi, dalam konteks ini kan, masalah data, sisi hati yang lain membela.
Tetapi keraguan itu terus berkecamuk, banyak referensi terbitan BUTSI (Badan Usaha Tenaga Sukarela Indonesia, sebuah lembaga dibawah Menteri Tenaga Kerja) meyakinkan saya bahwa istilah itu tidak selalu benar.
Sebut saja dalam hal sampah yang satu ini, maaf: kotoran ternak. Dengan sedikit pulasan kreativitas, ampas yang keluar dari tubuh ternak ini bisa diubah menjadi gas yang bisa dimanfaatkan di dapur. Untuk masak, mematangkan bahan mentah menjadi asupan yang bisa membangkitkan organ tubuh dan kehidupan manusia secara keseluruhan.
Semakin banyak membaca, keresahan pun makin menggejolak. “Maaf, Pak. Saya ada keraguan tentang istilah yang pernah Bapak sampaikan di kelas.” Setelah cukup lama diskusi, maka lega dan harus lega saat itu dengan ucapan terakhir beliau, “Itu semua sangat tergantung pada pengalaman kehidupan kita masing-masing.”
Tahun 1980-an akhir adalah saat yang paling membuktikan bahwa adegium itu perlu koreksi yang signifikans. Tanpa pengolahan apapun, sampah dari kandang sapi perah bisa menjadikan King Grass sebagai raja rumput. Tumbuh subur dan produksi yang berlimpah melebihi rumput jenis apapun yang ada saat itu. Dan, rumput-rumput itupun kembali ke kandang, menghidupi sapi-sapi perah yang menghasilkan susu murni untuk konsumsi manusia.
Secara singkat, dengan sedikit alur kehidupan pupuk kandang itu mampu mengubah diri menjadi susu. Tetapi, jika dipikir lebih jauh, toh kahirnya balik jadi ampas kandang juga ya? Jadi ada benarnya juga dech.
Istilah itu ternyata juga popular di Ilmu Manajemen. Awal tahun 1990-an, beberapa trainer dengan bangga menyampaikan hal itu di depan para karyawan baru yang sangat perlu pencerahan. Saya tetap pada satu pendirian, adegium itu tidak selalu benar. Oleh karena itu ketika trainer terus mengulang dan mengulang istilah itu saya bertanya, “Kalau memang istilah itu benar, buat apa kami dijadikan trainee ?”
Saya bersikeras bahwa upaya brainstorming yang dilakukan justeru untuk memutar-balik istilah kuno itu. Biarpun semula kami beraneka ragam latar belakang pendidikan begitu keluar dari pelatihan menjadi satu pola pikir, berbuat maksimal untuk perusahaan. Demikian juga yang semula merasa rendah diri karena alasan tertentu sehingga merasa diri sebagai sarjana sampah suatu saat akan menjadi sarjana emas.
Jangan kaget kalau suatu saat saya pernah mengusir seorang fasilitator karena perdebatan istilah ini. Pada sebuah pelatihan kewirausahaan yang memanfaatkan limbah kehidupan sehari-hari menjadi pupuk organic, seorang fasilitator mengemukakan adegium itu dengan bangganya, “Apapun yang kita lakukan, kalau sampah yang masuk pasti akan jadi sampah juga keluarnya.”
Sekalipun beliau mengemukakan berbagai alasan yang membenarkan istilah yang terlanjur diucapkannya, saya menganggap beliau sangat tidak mengerti. Sama sekali tidak tahu bahwa tujuan dari pelatihan tersebut adalah mengubah sampah menjadi gulden alias emas. Membangkitkan semangat yang loyo karena bau sampah mengganggu menjadi kilauan emas sampah yang ditunggu.
“Kalau Bapak tetap ngotot dengan adegium yang keliru seperti itu, kami sepakat bubar saja!” Kata-kata itu ternyata sangat ampuh. Panitia mengganti beliau dengan fasilitator yang menjalankan perannya sebagai fasilitator semata.
Kehidupan nyata mendidik bahwa sampah jenis apapun ternyata bisa berubah menjadi emas, tergantung proses dan tujuan serta kepentingan yang melandasi. Bukan hanya yang berbentuk nyata, seperti halnya sampah-sampah yang menggunduk berubah menjadi isi rekening gendut. Ternyata informasi seburuk apapun bisa dikemas dalam bentuk yang indah dan disampaikan menjadi kata-kata emas yang membuai perasaan pendengarnya. Begitulah perjalanan hidup membuktikan semuanya.
Lama sudah kata berbisa itu saya lupakan, namun tiba-tiba harus saya ingat kembali ketika berhadapan dengan seorang aktivis yang mengeluhkan masa lalunya yang sangat kontradiktif dengan impian masa depan gemilangnya.
“Kalau anda mau, saya bisa menjadikan perbuatan buruk dan berbagai informasi tentang masa lalu sampahmu itu jadi emas yang membuai masyarakat!”
“Ya?”
“Ya. Sesuatu yang gampang dilakukan.”
“Berapa aku harus bayar ?”
“Murah.” Dia makin tampak antusias dalam kebingungan, “Tidak perlu bayar.”
“Cepat kalo bisa bantu aku !” Pintanya, “Please …!”
“Saya sangat bisa,” kataku mantap, “Tetapi kalau saya melakukannya, maka sesungguhnya saya adalah sampah yang sebenarnya !”
Setelah itu kami terdiam, saya merenung sebentar, “Sampah yang sebenarnya itulah yang akan diproses dengan cara apa dan bagaimanapun serta seberapa lama juga akan tetap menjadi sampah. Sekalipun penampilan mereka menyilaukan bagai kerlingan emas, sesungguhnya hati dan tujuan hidup mereka tetap busuk seperti sampah.”
Tiga dasa warsa yang lalu, adegium itu saya kenal dari sebuah buku. Apa yang ditulis disana sangat mengena, melukiskan dengan jelas keterkaitannya yang erat dengan kehidupan nyata.
Tidak berselang lama, Bapak Guru Matematika kami yang memperkenalkan teknologi computer pun mengulang untaian kata itu. Sambil manggut-manggut, hati mulai bertanya-tanya, “Apakah beliau belum belajar Ilmu Kimia?” Tapi, dalam konteks ini kan, masalah data, sisi hati yang lain membela.
Tetapi keraguan itu terus berkecamuk, banyak referensi terbitan BUTSI (Badan Usaha Tenaga Sukarela Indonesia, sebuah lembaga dibawah Menteri Tenaga Kerja) meyakinkan saya bahwa istilah itu tidak selalu benar.
Sebut saja dalam hal sampah yang satu ini, maaf: kotoran ternak. Dengan sedikit pulasan kreativitas, ampas yang keluar dari tubuh ternak ini bisa diubah menjadi gas yang bisa dimanfaatkan di dapur. Untuk masak, mematangkan bahan mentah menjadi asupan yang bisa membangkitkan organ tubuh dan kehidupan manusia secara keseluruhan.
Semakin banyak membaca, keresahan pun makin menggejolak. “Maaf, Pak. Saya ada keraguan tentang istilah yang pernah Bapak sampaikan di kelas.” Setelah cukup lama diskusi, maka lega dan harus lega saat itu dengan ucapan terakhir beliau, “Itu semua sangat tergantung pada pengalaman kehidupan kita masing-masing.”
Tahun 1980-an akhir adalah saat yang paling membuktikan bahwa adegium itu perlu koreksi yang signifikans. Tanpa pengolahan apapun, sampah dari kandang sapi perah bisa menjadikan King Grass sebagai raja rumput. Tumbuh subur dan produksi yang berlimpah melebihi rumput jenis apapun yang ada saat itu. Dan, rumput-rumput itupun kembali ke kandang, menghidupi sapi-sapi perah yang menghasilkan susu murni untuk konsumsi manusia.
Secara singkat, dengan sedikit alur kehidupan pupuk kandang itu mampu mengubah diri menjadi susu. Tetapi, jika dipikir lebih jauh, toh kahirnya balik jadi ampas kandang juga ya? Jadi ada benarnya juga dech.
Istilah itu ternyata juga popular di Ilmu Manajemen. Awal tahun 1990-an, beberapa trainer dengan bangga menyampaikan hal itu di depan para karyawan baru yang sangat perlu pencerahan. Saya tetap pada satu pendirian, adegium itu tidak selalu benar. Oleh karena itu ketika trainer terus mengulang dan mengulang istilah itu saya bertanya, “Kalau memang istilah itu benar, buat apa kami dijadikan trainee ?”
Saya bersikeras bahwa upaya brainstorming yang dilakukan justeru untuk memutar-balik istilah kuno itu. Biarpun semula kami beraneka ragam latar belakang pendidikan begitu keluar dari pelatihan menjadi satu pola pikir, berbuat maksimal untuk perusahaan. Demikian juga yang semula merasa rendah diri karena alasan tertentu sehingga merasa diri sebagai sarjana sampah suatu saat akan menjadi sarjana emas.
Jangan kaget kalau suatu saat saya pernah mengusir seorang fasilitator karena perdebatan istilah ini. Pada sebuah pelatihan kewirausahaan yang memanfaatkan limbah kehidupan sehari-hari menjadi pupuk organic, seorang fasilitator mengemukakan adegium itu dengan bangganya, “Apapun yang kita lakukan, kalau sampah yang masuk pasti akan jadi sampah juga keluarnya.”
Sekalipun beliau mengemukakan berbagai alasan yang membenarkan istilah yang terlanjur diucapkannya, saya menganggap beliau sangat tidak mengerti. Sama sekali tidak tahu bahwa tujuan dari pelatihan tersebut adalah mengubah sampah menjadi gulden alias emas. Membangkitkan semangat yang loyo karena bau sampah mengganggu menjadi kilauan emas sampah yang ditunggu.
“Kalau Bapak tetap ngotot dengan adegium yang keliru seperti itu, kami sepakat bubar saja!” Kata-kata itu ternyata sangat ampuh. Panitia mengganti beliau dengan fasilitator yang menjalankan perannya sebagai fasilitator semata.
Kehidupan nyata mendidik bahwa sampah jenis apapun ternyata bisa berubah menjadi emas, tergantung proses dan tujuan serta kepentingan yang melandasi. Bukan hanya yang berbentuk nyata, seperti halnya sampah-sampah yang menggunduk berubah menjadi isi rekening gendut. Ternyata informasi seburuk apapun bisa dikemas dalam bentuk yang indah dan disampaikan menjadi kata-kata emas yang membuai perasaan pendengarnya. Begitulah perjalanan hidup membuktikan semuanya.
Lama sudah kata berbisa itu saya lupakan, namun tiba-tiba harus saya ingat kembali ketika berhadapan dengan seorang aktivis yang mengeluhkan masa lalunya yang sangat kontradiktif dengan impian masa depan gemilangnya.
“Kalau anda mau, saya bisa menjadikan perbuatan buruk dan berbagai informasi tentang masa lalu sampahmu itu jadi emas yang membuai masyarakat!”
“Ya?”
“Ya. Sesuatu yang gampang dilakukan.”
“Berapa aku harus bayar ?”
“Murah.” Dia makin tampak antusias dalam kebingungan, “Tidak perlu bayar.”
“Cepat kalo bisa bantu aku !” Pintanya, “Please …!”
“Saya sangat bisa,” kataku mantap, “Tetapi kalau saya melakukannya, maka sesungguhnya saya adalah sampah yang sebenarnya !”
Setelah itu kami terdiam, saya merenung sebentar, “Sampah yang sebenarnya itulah yang akan diproses dengan cara apa dan bagaimanapun serta seberapa lama juga akan tetap menjadi sampah. Sekalipun penampilan mereka menyilaukan bagai kerlingan emas, sesungguhnya hati dan tujuan hidup mereka tetap busuk seperti sampah.”
PRANATA MANGSA
“Mungkin alam mulai bosan
Bersahabat dengan kita ….”
Rangkaian indah kalimat yang didendangkan Ebiet G Ade sudah sepantasnya saat ini dipopulerkan kembali. Di bulan Agustus yang kita injak sekarang, hujan masih tetap berlanjut dari bulan sebelumnya seakan tak mau putus.
Sungguh berbeda ketika alam masih bersahabat. Air curahan langit datang disaat yang tepat, di bulan bar-bir-ber alias yang berakhiran ber. Mulai September, Oktober, November dan Desember. Empat bulan yang mnghujani, cukup untuk menghidupi padi petani dan tanaman serta seisi alam. Setelah itu, berangsur kemarau pun datang. Memutus siklus kehidupan bulan basah sehingga tidak menjadi serba terlalu.
Nah, kalau sekarang suasananya seperti ini, apakah kemarau atau masih musim huijan ya ?
Nenek moyang kita yang hidup di zaman yang masih serba bersahabat sesungguhnya tidak hanya membagi musim menjadi kemarau dan musim hujan. Bahkan tidak tanggung-tanggung, 12 macam. Semua didasarkan tanda-tanda alam yang dirasakan.
Keduabelas lukisan musim berdasar suasana ala mini biasa disebut Pranata Mangsa atau Candraning Mangsa. Jumlahnya yang 12 ini ternyata sesuai dengan hitungan bulan, yaitu (dikutip dari Tradisi Lisan Jawa oleh Suwardi Endraswara):
(1) Sotya murca saking embanan, mangsa kasa (kesatu), biasanya pepohonan berguguran daunnya.
(2) Bantala rengka, mangsa karo (kedua), biasanya musim kemarau, hampir semua tanah retak-retak.
(3) Suta manut ing bapa, mangsa katelu (ketiga), tumbuhan seperti gembili, gadung dan sirih mulai merambat tumbuh.
(4) Waspa kumembeng jroning kalbu, mangsa kapat (keempat), biasanya mata air kering, dan saat yang tepat untuk membuat sumur.
(5) Pancuran emas sumawur ing bumi, mangsa kalmia (kelima), biasanya musim penhujan dan kaum tani di Jawa mulai mengolah tanah.
(6) Rasa mulya kasucian, mangsa kanem (keenam), biasanya ditandai musim buah-buahan mulai masak dan enak rasanya.
(7) Wisa kentar ing maruta, mangsa kapitu (ketujuh), sering banyak penyakit mewabah.
(8) Anjrah jroning kayun, mangsa kawolu (kedelapan), biasanya saat kucing kawin, mulai jarang hujan.
(9) Wedharing wacana mulya, mangsa kasanga (kesembilan), banyak gareng berbunyi dan gangsir berdesir, suasana mulai sepi dan jarang hujan.
(10) Gedhong minep jroning kalbu, mangsa kesepuluh, biasanya musim hewan bunting dan burung bertelur.
(11) Satyo sinarawedi, mangsa kasawelah (kesebelas), banyak burung meloloh anaknya.
(12) Tirta sah saking sasana, mangsa rolas (keduabelas), musim dingin.
Betapa indahnya ketika semua berjalan dalam keteraturan, sesuatu yang akan terjadi dapat diprediksi. Sedia paying sebelum hujan bukan sekedar adegium tetapi merupakan pola hidup yang dijalankan jika ingin terhindar dari kemungkinan terburuk.
Tetapi tidak ada yang abadi kecuali perubahan. Perubahan yang selalu berubah. Kucing kawin dapat terjadi setiap saat karena makanan bergizi yang diberikan majikannya, hewan bunting dapat terjadi waktu yang diinginkan pemiliknya karena inseminasi buatan dapat dilakukan.
Burung bertelur dan meloloh anaknya …. Akh, sebuah pemandangan yang sudah hampir tidak ada. Sebagian mereka terkurung dalam sangkar emas dan dipaksa untuk mengabdikan diri demi kesenangan manusia semata.
Alam memang sudah tidak lagi bersahabat, selalu berubah dan terus berubah. Lenyap sudah serba keteraturan ….
Bersahabat dengan kita ….”
Rangkaian indah kalimat yang didendangkan Ebiet G Ade sudah sepantasnya saat ini dipopulerkan kembali. Di bulan Agustus yang kita injak sekarang, hujan masih tetap berlanjut dari bulan sebelumnya seakan tak mau putus.
Sungguh berbeda ketika alam masih bersahabat. Air curahan langit datang disaat yang tepat, di bulan bar-bir-ber alias yang berakhiran ber. Mulai September, Oktober, November dan Desember. Empat bulan yang mnghujani, cukup untuk menghidupi padi petani dan tanaman serta seisi alam. Setelah itu, berangsur kemarau pun datang. Memutus siklus kehidupan bulan basah sehingga tidak menjadi serba terlalu.
Nah, kalau sekarang suasananya seperti ini, apakah kemarau atau masih musim huijan ya ?
Nenek moyang kita yang hidup di zaman yang masih serba bersahabat sesungguhnya tidak hanya membagi musim menjadi kemarau dan musim hujan. Bahkan tidak tanggung-tanggung, 12 macam. Semua didasarkan tanda-tanda alam yang dirasakan.
Keduabelas lukisan musim berdasar suasana ala mini biasa disebut Pranata Mangsa atau Candraning Mangsa. Jumlahnya yang 12 ini ternyata sesuai dengan hitungan bulan, yaitu (dikutip dari Tradisi Lisan Jawa oleh Suwardi Endraswara):
(1) Sotya murca saking embanan, mangsa kasa (kesatu), biasanya pepohonan berguguran daunnya.
(2) Bantala rengka, mangsa karo (kedua), biasanya musim kemarau, hampir semua tanah retak-retak.
(3) Suta manut ing bapa, mangsa katelu (ketiga), tumbuhan seperti gembili, gadung dan sirih mulai merambat tumbuh.
(4) Waspa kumembeng jroning kalbu, mangsa kapat (keempat), biasanya mata air kering, dan saat yang tepat untuk membuat sumur.
(5) Pancuran emas sumawur ing bumi, mangsa kalmia (kelima), biasanya musim penhujan dan kaum tani di Jawa mulai mengolah tanah.
(6) Rasa mulya kasucian, mangsa kanem (keenam), biasanya ditandai musim buah-buahan mulai masak dan enak rasanya.
(7) Wisa kentar ing maruta, mangsa kapitu (ketujuh), sering banyak penyakit mewabah.
(8) Anjrah jroning kayun, mangsa kawolu (kedelapan), biasanya saat kucing kawin, mulai jarang hujan.
(9) Wedharing wacana mulya, mangsa kasanga (kesembilan), banyak gareng berbunyi dan gangsir berdesir, suasana mulai sepi dan jarang hujan.
(10) Gedhong minep jroning kalbu, mangsa kesepuluh, biasanya musim hewan bunting dan burung bertelur.
(11) Satyo sinarawedi, mangsa kasawelah (kesebelas), banyak burung meloloh anaknya.
(12) Tirta sah saking sasana, mangsa rolas (keduabelas), musim dingin.
Betapa indahnya ketika semua berjalan dalam keteraturan, sesuatu yang akan terjadi dapat diprediksi. Sedia paying sebelum hujan bukan sekedar adegium tetapi merupakan pola hidup yang dijalankan jika ingin terhindar dari kemungkinan terburuk.
Tetapi tidak ada yang abadi kecuali perubahan. Perubahan yang selalu berubah. Kucing kawin dapat terjadi setiap saat karena makanan bergizi yang diberikan majikannya, hewan bunting dapat terjadi waktu yang diinginkan pemiliknya karena inseminasi buatan dapat dilakukan.
Burung bertelur dan meloloh anaknya …. Akh, sebuah pemandangan yang sudah hampir tidak ada. Sebagian mereka terkurung dalam sangkar emas dan dipaksa untuk mengabdikan diri demi kesenangan manusia semata.
Alam memang sudah tidak lagi bersahabat, selalu berubah dan terus berubah. Lenyap sudah serba keteraturan ….
Rabu, 04 Agustus 2010
SANGKAN PARANING DUMADI (2)
"Kongsiha sasar jroning pati
dadya tiwas uripe kesasar
tanpa pencokan sukmane
separan-paran nglangut
kadya mega katut ing angin
wekasan dadi udan
mulih marang banyu
dadi bali marang wadhag
ing wajibe sukma tan kena ing pati
langgeng donya akherat."
"Jika sampai tersesat dalam kematian
berarti hidupnya juga tersesat
sukma tak ada tempat
hanya pergi kemana-mana
seperti mega yang terseret angin
akhirnya menjadi hujan
kembali menjadi air
kembali ke badan jasmani
padahal kewajiban sukma itu tak boleh mati
langgeng di dunia dan akhirat."
Sumber : Tradisi Lisan Jawa oleh Suwardi Endraswara
Kesesatan dalam menikmati hidup yang fana akan menyengsarakan kehiidupan di akhirat nanti. Bahkan jauh sebelum pengadilan dari Yang Maha Adil dilakukan, karma itu telah terjadi. Jiwa yang telah terpisah dari raganya melanglang buana tak menentu, menderita di dunia dan akhirat.
Hal itu semua bermuara pada ketidaktahuan manusia akan dirinya sendiri, jati dirinya, asal-usulnya. Semua itu mengantar mereka ke dalam jurang kenikmatan sesaat walaupun sesat. Manusia yang lupa dengan asal-usul keberadaannya demi kenikmatan dunia akan dihempaskan oleh kenikmatan fana yang dikejarnya itu sendiri.
dadya tiwas uripe kesasar
tanpa pencokan sukmane
separan-paran nglangut
kadya mega katut ing angin
wekasan dadi udan
mulih marang banyu
dadi bali marang wadhag
ing wajibe sukma tan kena ing pati
langgeng donya akherat."
"Jika sampai tersesat dalam kematian
berarti hidupnya juga tersesat
sukma tak ada tempat
hanya pergi kemana-mana
seperti mega yang terseret angin
akhirnya menjadi hujan
kembali menjadi air
kembali ke badan jasmani
padahal kewajiban sukma itu tak boleh mati
langgeng di dunia dan akhirat."
Sumber : Tradisi Lisan Jawa oleh Suwardi Endraswara
Kesesatan dalam menikmati hidup yang fana akan menyengsarakan kehiidupan di akhirat nanti. Bahkan jauh sebelum pengadilan dari Yang Maha Adil dilakukan, karma itu telah terjadi. Jiwa yang telah terpisah dari raganya melanglang buana tak menentu, menderita di dunia dan akhirat.
Hal itu semua bermuara pada ketidaktahuan manusia akan dirinya sendiri, jati dirinya, asal-usulnya. Semua itu mengantar mereka ke dalam jurang kenikmatan sesaat walaupun sesat. Manusia yang lupa dengan asal-usul keberadaannya demi kenikmatan dunia akan dihempaskan oleh kenikmatan fana yang dikejarnya itu sendiri.
SANGKAN PARANING DUMADI (1)
"Urip iku neng donya tan lami
Umpamane jebeng menyang pasar
tan langgeng neng pasar wae
tan wurung nuli mantuk
mring wismane sangkane uni
ing mengko aja samar
sangkan paranipun
ing mengko padha weruha
yen asale sangkan paran duk ing nguni
aja nganti kesasar."
"Hidup di dunia tak akan lama
ibaratnya jebeng hanya orang pergi ke pasar saja
tak lama juga di pasar
tak akan urung segera pulang
ke rumahnya sendiri (asalnya)
maka jangan sampai suram
terhadap sangkan paraning dumadi
nanti lihatlah dengan tajam
bahwa asal sangkan para dulu
jangan sampai tersesat."
Sumber : Tradisi Lisan Jawa oleh Suwardi Endraswara)
Nenek moyang kita dengan segala keterbatasannya mengingatkan dengan tembung lisan bahwa hidup ini hanyalah sementara. Diibaratkan orang yang pergi ke pasar, tidak akan berlama-lama, segera akan kembali ke rumahnya sendiri. Oleh karena itu harus tahu siapa diri kita sebenarnya dan jangan sampai tersesat dalam mengarungi kehidupan mengejar tujuan hidup duniawi.
Tembung sangkan paraning dumadi (asal usul) dan tujuan hidup ini adalah salah satu warisan berharga yang sebagian besar kita tidak pernah mengetahuinya. Namun demikian, mudah-mudahan di dalam kehidupan sehari-hari selalu melekat.
Jika sampai tersesat .....ke SANGKAN PARANING DUMADI (2)
Umpamane jebeng menyang pasar
tan langgeng neng pasar wae
tan wurung nuli mantuk
mring wismane sangkane uni
ing mengko aja samar
sangkan paranipun
ing mengko padha weruha
yen asale sangkan paran duk ing nguni
aja nganti kesasar."
"Hidup di dunia tak akan lama
ibaratnya jebeng hanya orang pergi ke pasar saja
tak lama juga di pasar
tak akan urung segera pulang
ke rumahnya sendiri (asalnya)
maka jangan sampai suram
terhadap sangkan paraning dumadi
nanti lihatlah dengan tajam
bahwa asal sangkan para dulu
jangan sampai tersesat."
Sumber : Tradisi Lisan Jawa oleh Suwardi Endraswara)
Nenek moyang kita dengan segala keterbatasannya mengingatkan dengan tembung lisan bahwa hidup ini hanyalah sementara. Diibaratkan orang yang pergi ke pasar, tidak akan berlama-lama, segera akan kembali ke rumahnya sendiri. Oleh karena itu harus tahu siapa diri kita sebenarnya dan jangan sampai tersesat dalam mengarungi kehidupan mengejar tujuan hidup duniawi.
Tembung sangkan paraning dumadi (asal usul) dan tujuan hidup ini adalah salah satu warisan berharga yang sebagian besar kita tidak pernah mengetahuinya. Namun demikian, mudah-mudahan di dalam kehidupan sehari-hari selalu melekat.
Jika sampai tersesat .....ke SANGKAN PARANING DUMADI (2)
Kamis, 15 Juli 2010
BRAVO SMA 1 CIREBON !
Di kawah Candradimuka bertajuk Wak Braja Elmuning Ciswa kita dibesarkan dan dihantar mencapai tujuan yang diharapkan. Tak dapat dipungkiri semangat Burung Hantu di dada adalah bagian penting dari apa yang kita capai sekarang. Tentu saja, melalui dengan do’a dan belajar serta kerja keras.
Kejayaan tahun 80-an yang kita alami, tak dapat dipungkiri saat ini hanya tinggal kenangan. Bukan berarti tidak dapat dicapai, dengan do’a, belajar dan kerja keras akan bisa mengembalikan kenangan menjadi harapan dan Insya Allah segera menjadi kenyataan.
Almamater kita memerlukan pemikiran bersama ….
Sebuah Kegalauan
Kegalauan yang saya alami sesungguhnya berawal dari ketidaksengajaan. Anak kami, 13 tahun sudah waktunya masuk SMA. Pilihan saya, seperti Bapak/Ibu semua, tentu almamater tercinta. Tetapi ketika niat itu saya bicarakan dengan beberapa guru dan kepala sekolah yang berkiprah di SMAN/SMKN di Kota Cirebon, jawabannya sangat menv=cengangkan.
“Jangan ! SMA 1 tidak seperti dulu.” Sergah mereka, “Prestasinya down, sementara saku harus tebal.”
Begitulah kesan mereka, para praktisi pendidikan yang saya temui. Rekomendasi mereka sama, “Kalau mau, masuklah SMA 2. Saat ini dialah yang terbaik !”
Bagi saya, SMA 1 masih yang terbaik. Demikian juga pemikiran di mata para alumni semua. Oleh karena itu, pencarian informasi dari teman-teman itu saya lanjutkan via internet dan juga beberapa rekan yang anaknya sekolah di almamater kita.
Sungguh tak dapat dipercaya, kejayaan yang kita rasakan dan masih terus terpikirkan sekarang terpinggirkan. Tidak ada pilihan lain, saya pun akhirnya setuju dengan saran mereka.
Namun demikian, kecintaan terhadap almamater yang turut menghantarkan ke capaian sekarang tidak pernah luntur, bahkan semakin menjadi-jadi ketika berbagai informasi yang didapat turut melemahkan.
Saya juga berdiskusi dengan salah satu alumnus yang menjadi guru di almamater kita, betrbicara blak-blakan di dunia maya. Tentang berbagai permasalahan mulai dari kurangnya marketing sampai black campaign dalam penerimaan siswa baru. Info terbaru tentang almamater kita banyak termuat disini, di blog beliau : http://yandriana.wordpress.com/
Walau belum ada kesepakatan dari rekan-rekan semua, saya memberanikan diri untuk berjanji, “Kami akan memberikan saran dan solusi pada saat reuni nanti !” Kerena tak dapat dipungkiri, almamater kita membutuhkan pemikiran kita semua ….
Sebuah Pengakuan
Satria sejati selalu mengakui keunggulan lawan ….
Burung Hantu kita adalah satria sejati, mengakui keunggulan lawan kalau memang unggul. Mengaku kalah kalau memang kalah. Tetapi tidak berhenti sampai disitu, sebuah tujuan harus dicapai, menjadi yang terbaik !
Para alumni SMA 1 Cirebon, prestasi dan prestise almamater kita berdasarkan informasi memang sedang diuji. Dari table di bawah ini kita bisa lihat posisi sekolah beberapa tahun terakhir.
Data passing grade SMA NEGERI di Cirebon
tahun pelajaran 2003/2004 sampai 2008/2009
SMA NEGERI TAHUN PELAJARAN
2003/2004 2004/2005 2005/2006 2006/2007 2007/2008 2008/2009
1 20.30 20.16 26.33 26.67 27.00 34.70
2 21.47 19.41 25.67 26.53 26.53 36.00
3 19.99 18.30 23.66 24.47 25.87 35.05
4 20.38 18.41 24.33 26.00 25.27 35.20
5 19.04 17.96 22.34 24.80 24.27 34.35
6 21.17 19.58 25.17 26.53 26.47 35.80
7 19.81 18.32 23.51 25.27 25.33 35.20
8 18.24 17.40 21.00 23.93 22.71 34.05
9 17.82 17.20 19.84 23.73 19.53 22.80
Sumber : http://bebasazasich.blogspot.com/2010/06/passing-grade-terkini-sma-negeri-kota.html
Publikasi lain dengan jelas menerangkan tentang posisi SMA 1 Cirebon yang sangat memprihatinkan di tahun 2008/2009. Berdasarkan peringkat adalah sebagai berikut :
1. SMA Negeri 2 Crb : 36,00
2. SMA Negeri 6 Crb : 35,80
3. SMA Negeri 4 Crb : 35,20
4. SMA Negeri 7 Crb : 35,20
5. SMA Negeri 3 Crb : 35,05
6. SMA Negeri 1 Crb : 34,70
7. SMA Negeri 5 Crb : 34,35
8. SMA Negeri 8 Crb : 34,05
9. SMA Negeri 9 Crb : 32,80
Sumber : http://basahfc.multiply.com/journal/item/53
Posting : 9 Juli 2008
Walau data ini berbeda dengan yang dipublikasikan almamater kita namun tidak dapat dipungkiri dampaknya akan sangat besar terhadap kepercayaan masyarakat. Ujung-ujungnya ya, minat mereka untuk menempuh pendidikan di sekolah kita.
Data passing grade SMA NEGERI di Cirebon
tahun pelajaran 2005/2006 sampai 2008/2009
SMA NEGERI TAHUN PELAJARAN
2005/2006 2006/2007 2007/2008 2008/2009
1 26.33 26.67 27.00 34.70
2 25.67 26.53 26.87 35.45
3 23.66 24.47 26.53 34.65
4 24.33 26.00 26.53 34.50
5 22.34 24.80 25.73 33.15
6 25.17 26.53 26.80 35.10
7 23.51 25.27 26.20 34.15
8 21.00 23.93 25.33 31.65
9 19.84 23.73 25.27 23.95
Sumber : http://www.smansacirebon.net/psbonline.php
Passing Grade nilai masuk merupakan salah satu indikator tentang seberapa hebat bibit yang akan masuk sebuah sekolah. Terlepas dari “asli” atau “palsu’-nya nilai yang didapat oleh para peserta didik dalam mengakhiri masa SMP-nya dulu.
Untuk tahun 2009 penilaian untuk memasuki SMA 1 tidak semata-mata dari SKHU tetapi mengikuti aturan dan tata cara tes merupakan bagian dari proses penerimaan siswa baru yang dibuat berdasar SK Walikota Cirebon.
“Diharapkan dengan tes ini masing masing calon siswa memiliki kesempatan yang sama untuk masuk SMA negeri di kota Cirebon. Karena bobot nilai tes hanya 50% dari kumulatif nilai siswa untuk masuk ke sekolah selain nilai skhu sebesar 30% dan prestasi sebesar 20%.”
Sumber : http://yandriana.wordpress.com/2009/06/27/penerimaan-siswa-baru-2009-2010-sma-negeri-1-cirebon/
Dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PDB) tahun 2010/2011 sama sekali tidak dipertimbangkan SKHU. Sama seperti zaman kita dulu, test. Cuma lebih variatif, ada test administrative, test tulis dan wawancara. Hal yang sama juga diterapkan di SMA 2 Cirebon.
Perbedaannya adalah bahwa segala informasi, publikasi dan kenyataan yang terjadi menyebabkan minat orangtua ataupun anak untuk memasuki SMA 2 Cirebon mendekati dua kali lipat dibandingkan dengan almamater kita.
Sekalipun jumlah siswa yang akan diterima sama, 288 orang. Namun peserta test masuk SMA 2 Cirebon mencapai 605 orang. Dengan demikian hanya mereka-mereka yang mempunyai keistimewaanlah yang bisa menjadi siswa di sekolah tersebut. Sementara almamater kita, hanya diminati oleh 300-an orang. Hanya beberapa orang saja yang harus dieksekusi dalam seleksi.
Bahkan salah satu orangtua murid yang anaknya sama-sama test di SMA 2 menuturkan bahwa peminat SMA 1 sampai akhir pendaftaran (10 April 2020) cuma 75 orang. Sehingga panitia harus sibuk menghubungi sekolah dan orangtua calon siswa, pendaftaran pun diperpanjang. Benar atau tidaknya informasi itu, tetap harus diterima, sebagai bahan koreksi.
Kecilnya nyali masyarakat terhadap almamater kita juga dipicu oleh informasi yang sangat mencengangkan soal biaya. Di Indramayu beredar khabar, bahwa untuk masuk SMA 1 Cirebon, paling sedikit harus siap 10 juta dan untuk 2010 bisa 15 juta, hanya untuk DSP tahunan. Uang bulanan pun tidak main-main besarnya, bisa jutaan. Bahkan seorang kerabat menceritakan tentang temannya yang mesti mengeluarkan dana Rp. 30 juta agar anaknya bisa sekolah disana.
Sekali lagi, jangan terpancing untuk menyalahkan informasi itu, tetapi terimalah sebagai bahan koreksi untuk memberikan sumbangan pemikiran terbaik bagi almamater kita.
Sumber dari SMA 1 Cirebon menyebutkan, itulah salah satu praktek black campaign yang mencemarkan nama baik almamater kita. Dampaknya yang diharapkan sangat jelas, minat ke SMA 1 berkurang !
Walaupun demikian, secara pribadi saya yakin, almamater kita bisa menghantar adik-adik kita ke masa depan yang gilang-gemilang.
Penutup
Bapak dan Ibu se-almamater ….
Berbagai informasi tadi beserta informasi dari tautan-tautan yang disertakan adalah bahan yang mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kita untuk member kritik, saran serta masukan yang berharga dan bermanfaat bagi kemajuan almamater tercinta kita.
Kapan kita reuni ? Tentu bukan sekedar untuk temu-kangen semata tetapi juga menyumbangkan pemikiran yang berarti buat kita semua.
Bravo SMA 1 Cirebon ….
Salam “Wak Braja Elmuning Ciswa !”
Kejayaan tahun 80-an yang kita alami, tak dapat dipungkiri saat ini hanya tinggal kenangan. Bukan berarti tidak dapat dicapai, dengan do’a, belajar dan kerja keras akan bisa mengembalikan kenangan menjadi harapan dan Insya Allah segera menjadi kenyataan.
Almamater kita memerlukan pemikiran bersama ….
Sebuah Kegalauan
Kegalauan yang saya alami sesungguhnya berawal dari ketidaksengajaan. Anak kami, 13 tahun sudah waktunya masuk SMA. Pilihan saya, seperti Bapak/Ibu semua, tentu almamater tercinta. Tetapi ketika niat itu saya bicarakan dengan beberapa guru dan kepala sekolah yang berkiprah di SMAN/SMKN di Kota Cirebon, jawabannya sangat menv=cengangkan.
“Jangan ! SMA 1 tidak seperti dulu.” Sergah mereka, “Prestasinya down, sementara saku harus tebal.”
Begitulah kesan mereka, para praktisi pendidikan yang saya temui. Rekomendasi mereka sama, “Kalau mau, masuklah SMA 2. Saat ini dialah yang terbaik !”
Bagi saya, SMA 1 masih yang terbaik. Demikian juga pemikiran di mata para alumni semua. Oleh karena itu, pencarian informasi dari teman-teman itu saya lanjutkan via internet dan juga beberapa rekan yang anaknya sekolah di almamater kita.
Sungguh tak dapat dipercaya, kejayaan yang kita rasakan dan masih terus terpikirkan sekarang terpinggirkan. Tidak ada pilihan lain, saya pun akhirnya setuju dengan saran mereka.
Namun demikian, kecintaan terhadap almamater yang turut menghantarkan ke capaian sekarang tidak pernah luntur, bahkan semakin menjadi-jadi ketika berbagai informasi yang didapat turut melemahkan.
Saya juga berdiskusi dengan salah satu alumnus yang menjadi guru di almamater kita, betrbicara blak-blakan di dunia maya. Tentang berbagai permasalahan mulai dari kurangnya marketing sampai black campaign dalam penerimaan siswa baru. Info terbaru tentang almamater kita banyak termuat disini, di blog beliau : http://yandriana.wordpress.com/
Walau belum ada kesepakatan dari rekan-rekan semua, saya memberanikan diri untuk berjanji, “Kami akan memberikan saran dan solusi pada saat reuni nanti !” Kerena tak dapat dipungkiri, almamater kita membutuhkan pemikiran kita semua ….
Sebuah Pengakuan
Satria sejati selalu mengakui keunggulan lawan ….
Burung Hantu kita adalah satria sejati, mengakui keunggulan lawan kalau memang unggul. Mengaku kalah kalau memang kalah. Tetapi tidak berhenti sampai disitu, sebuah tujuan harus dicapai, menjadi yang terbaik !
Para alumni SMA 1 Cirebon, prestasi dan prestise almamater kita berdasarkan informasi memang sedang diuji. Dari table di bawah ini kita bisa lihat posisi sekolah beberapa tahun terakhir.
Data passing grade SMA NEGERI di Cirebon
tahun pelajaran 2003/2004 sampai 2008/2009
SMA NEGERI TAHUN PELAJARAN
2003/2004 2004/2005 2005/2006 2006/2007 2007/2008 2008/2009
1 20.30 20.16 26.33 26.67 27.00 34.70
2 21.47 19.41 25.67 26.53 26.53 36.00
3 19.99 18.30 23.66 24.47 25.87 35.05
4 20.38 18.41 24.33 26.00 25.27 35.20
5 19.04 17.96 22.34 24.80 24.27 34.35
6 21.17 19.58 25.17 26.53 26.47 35.80
7 19.81 18.32 23.51 25.27 25.33 35.20
8 18.24 17.40 21.00 23.93 22.71 34.05
9 17.82 17.20 19.84 23.73 19.53 22.80
Sumber : http://bebasazasich.blogspot.com/2010/06/passing-grade-terkini-sma-negeri-kota.html
Publikasi lain dengan jelas menerangkan tentang posisi SMA 1 Cirebon yang sangat memprihatinkan di tahun 2008/2009. Berdasarkan peringkat adalah sebagai berikut :
1. SMA Negeri 2 Crb : 36,00
2. SMA Negeri 6 Crb : 35,80
3. SMA Negeri 4 Crb : 35,20
4. SMA Negeri 7 Crb : 35,20
5. SMA Negeri 3 Crb : 35,05
6. SMA Negeri 1 Crb : 34,70
7. SMA Negeri 5 Crb : 34,35
8. SMA Negeri 8 Crb : 34,05
9. SMA Negeri 9 Crb : 32,80
Sumber : http://basahfc.multiply.com/journal/item/53
Posting : 9 Juli 2008
Walau data ini berbeda dengan yang dipublikasikan almamater kita namun tidak dapat dipungkiri dampaknya akan sangat besar terhadap kepercayaan masyarakat. Ujung-ujungnya ya, minat mereka untuk menempuh pendidikan di sekolah kita.
Data passing grade SMA NEGERI di Cirebon
tahun pelajaran 2005/2006 sampai 2008/2009
SMA NEGERI TAHUN PELAJARAN
2005/2006 2006/2007 2007/2008 2008/2009
1 26.33 26.67 27.00 34.70
2 25.67 26.53 26.87 35.45
3 23.66 24.47 26.53 34.65
4 24.33 26.00 26.53 34.50
5 22.34 24.80 25.73 33.15
6 25.17 26.53 26.80 35.10
7 23.51 25.27 26.20 34.15
8 21.00 23.93 25.33 31.65
9 19.84 23.73 25.27 23.95
Sumber : http://www.smansacirebon.net/psbonline.php
Passing Grade nilai masuk merupakan salah satu indikator tentang seberapa hebat bibit yang akan masuk sebuah sekolah. Terlepas dari “asli” atau “palsu’-nya nilai yang didapat oleh para peserta didik dalam mengakhiri masa SMP-nya dulu.
Untuk tahun 2009 penilaian untuk memasuki SMA 1 tidak semata-mata dari SKHU tetapi mengikuti aturan dan tata cara tes merupakan bagian dari proses penerimaan siswa baru yang dibuat berdasar SK Walikota Cirebon.
“Diharapkan dengan tes ini masing masing calon siswa memiliki kesempatan yang sama untuk masuk SMA negeri di kota Cirebon. Karena bobot nilai tes hanya 50% dari kumulatif nilai siswa untuk masuk ke sekolah selain nilai skhu sebesar 30% dan prestasi sebesar 20%.”
Sumber : http://yandriana.wordpress.com/2009/06/27/penerimaan-siswa-baru-2009-2010-sma-negeri-1-cirebon/
Dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PDB) tahun 2010/2011 sama sekali tidak dipertimbangkan SKHU. Sama seperti zaman kita dulu, test. Cuma lebih variatif, ada test administrative, test tulis dan wawancara. Hal yang sama juga diterapkan di SMA 2 Cirebon.
Perbedaannya adalah bahwa segala informasi, publikasi dan kenyataan yang terjadi menyebabkan minat orangtua ataupun anak untuk memasuki SMA 2 Cirebon mendekati dua kali lipat dibandingkan dengan almamater kita.
Sekalipun jumlah siswa yang akan diterima sama, 288 orang. Namun peserta test masuk SMA 2 Cirebon mencapai 605 orang. Dengan demikian hanya mereka-mereka yang mempunyai keistimewaanlah yang bisa menjadi siswa di sekolah tersebut. Sementara almamater kita, hanya diminati oleh 300-an orang. Hanya beberapa orang saja yang harus dieksekusi dalam seleksi.
Bahkan salah satu orangtua murid yang anaknya sama-sama test di SMA 2 menuturkan bahwa peminat SMA 1 sampai akhir pendaftaran (10 April 2020) cuma 75 orang. Sehingga panitia harus sibuk menghubungi sekolah dan orangtua calon siswa, pendaftaran pun diperpanjang. Benar atau tidaknya informasi itu, tetap harus diterima, sebagai bahan koreksi.
Kecilnya nyali masyarakat terhadap almamater kita juga dipicu oleh informasi yang sangat mencengangkan soal biaya. Di Indramayu beredar khabar, bahwa untuk masuk SMA 1 Cirebon, paling sedikit harus siap 10 juta dan untuk 2010 bisa 15 juta, hanya untuk DSP tahunan. Uang bulanan pun tidak main-main besarnya, bisa jutaan. Bahkan seorang kerabat menceritakan tentang temannya yang mesti mengeluarkan dana Rp. 30 juta agar anaknya bisa sekolah disana.
Sekali lagi, jangan terpancing untuk menyalahkan informasi itu, tetapi terimalah sebagai bahan koreksi untuk memberikan sumbangan pemikiran terbaik bagi almamater kita.
Sumber dari SMA 1 Cirebon menyebutkan, itulah salah satu praktek black campaign yang mencemarkan nama baik almamater kita. Dampaknya yang diharapkan sangat jelas, minat ke SMA 1 berkurang !
Walaupun demikian, secara pribadi saya yakin, almamater kita bisa menghantar adik-adik kita ke masa depan yang gilang-gemilang.
Penutup
Bapak dan Ibu se-almamater ….
Berbagai informasi tadi beserta informasi dari tautan-tautan yang disertakan adalah bahan yang mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kita untuk member kritik, saran serta masukan yang berharga dan bermanfaat bagi kemajuan almamater tercinta kita.
Kapan kita reuni ? Tentu bukan sekedar untuk temu-kangen semata tetapi juga menyumbangkan pemikiran yang berarti buat kita semua.
Bravo SMA 1 Cirebon ….
Salam “Wak Braja Elmuning Ciswa !”
Minggu, 11 Juli 2010
SABDA PENGIKUT
"Bebek berduyun-duyun, garuda terbang sendiri !"
Adegium dari seorang tokoh revolusioner wanita itu berulangkali diucapkan Bung Karno pada saat menuju zaman keemasannya.
Sebagian besar penghuni bumi ini sesungguhnya adalah para pengikut, hanya sedikit diantara mereka yang merupakan garuda yang berani terbang sendiri di angkasa raya dengan berbagai resiko dan konsekuensi yang harus dihadapinya.
Namun pengikut bukanlah bebek-bebek yang berduyun mengikuti tanpa akal pikiran dan perasaan,. Mereka bukanlah orang yang selalu setuju dengan apa yang ada di depan tanpa pertimbangan. Mereka adalah manusia yang juga perlu penghargaan segaimana mereka yang berkoar di kursi pimpinan. Mereka adalah manusia perkasa, yang disadari atau tidak, menentukan kepemimpinan seorang penguasa.
Sekelompok manajer yang menyadari pentingnya sebuah tim yang kuat bertemu untuk membicarakan solusi agar terbentuk kerjasama yang baik antara bawahan dan atasan. Kesimpulan mereka dikenal sebagai “Sabda Pengikut”, yang isinya :
AKU AKAN MENGIKUTIMU, JIKA ENGKAU :
1. Memperlakukanku dengan hormat
2. Memberi inspirasi dengan visimu
3. Mengajarku
4. Bertoleransi pada kekeliruanku
5. Dapat dilihat dan selalu ada
6. Berbicara dengan (dan mendengarkan)-ku
7. Memberiku kesempatan untuk berkembang
8. Jangan menyerah, atau berubah arah semaunya
9. Memiliki keberanian dalam keyakinan
10. Berterusteranglah dan lakukan apa yang kau katakan
Sepuluh butir rangkaian kata indah yang dikenal sebagai Followers Creed (Sabda Pengikut) itu dihasilkan oleh sekelompok para manajer penuh imajinasi yang pernah bertemu di Universitas Cape Town.
Dan, tentu saja dikutip dari buku James O’toole, Leadership A to Z yang diterjemahkan Neneng Natalina dan diterbitka n Penerbit Erlangga. Sebuah buku yang berisi berbagai keteladanan dari kehidupan nyata, keberhasilan dan kegagalan kepemimpinan.
Adegium dari seorang tokoh revolusioner wanita itu berulangkali diucapkan Bung Karno pada saat menuju zaman keemasannya.
Sebagian besar penghuni bumi ini sesungguhnya adalah para pengikut, hanya sedikit diantara mereka yang merupakan garuda yang berani terbang sendiri di angkasa raya dengan berbagai resiko dan konsekuensi yang harus dihadapinya.
Namun pengikut bukanlah bebek-bebek yang berduyun mengikuti tanpa akal pikiran dan perasaan,. Mereka bukanlah orang yang selalu setuju dengan apa yang ada di depan tanpa pertimbangan. Mereka adalah manusia yang juga perlu penghargaan segaimana mereka yang berkoar di kursi pimpinan. Mereka adalah manusia perkasa, yang disadari atau tidak, menentukan kepemimpinan seorang penguasa.
Sekelompok manajer yang menyadari pentingnya sebuah tim yang kuat bertemu untuk membicarakan solusi agar terbentuk kerjasama yang baik antara bawahan dan atasan. Kesimpulan mereka dikenal sebagai “Sabda Pengikut”, yang isinya :
AKU AKAN MENGIKUTIMU, JIKA ENGKAU :
1. Memperlakukanku dengan hormat
2. Memberi inspirasi dengan visimu
3. Mengajarku
4. Bertoleransi pada kekeliruanku
5. Dapat dilihat dan selalu ada
6. Berbicara dengan (dan mendengarkan)-ku
7. Memberiku kesempatan untuk berkembang
8. Jangan menyerah, atau berubah arah semaunya
9. Memiliki keberanian dalam keyakinan
10. Berterusteranglah dan lakukan apa yang kau katakan
Sepuluh butir rangkaian kata indah yang dikenal sebagai Followers Creed (Sabda Pengikut) itu dihasilkan oleh sekelompok para manajer penuh imajinasi yang pernah bertemu di Universitas Cape Town.
Dan, tentu saja dikutip dari buku James O’toole, Leadership A to Z yang diterjemahkan Neneng Natalina dan diterbitka n Penerbit Erlangga. Sebuah buku yang berisi berbagai keteladanan dari kehidupan nyata, keberhasilan dan kegagalan kepemimpinan.
Rabu, 30 Juni 2010
ATURAN TENTANG JASA LAYANAN AKSES INTERNET
Artikel ini diterbitkan di MEDIKOM Edisi 375 Tahun VII, 28 Juni-04 Juli 2010
Kehebatan Teknologi Informasi
Beredarnya video mesum berhambur bintang akhir-akhir ini menyadarkan kita betapa hebatnya teknologi informasi. Dalam hitungan detik, adegan suami-isteri itu bisa disaksikan siapapun, dimanapun dan kapanpun. Ketiga bintang langsung mendunia, melibas kepopuleran karier yang selama bertahun-tahun dirintisnya.
Seorang bintang porno sekelas Miyabi pun menyanjung kehebatan bintang pria dan memuji keelokan paras kedua artis lawan mainnya. Sesuatu yang wajar, artis seprofesional Miyabi saja selalu harus menggunakan scenario dalam memainkan adegan. Ketiga selebritis Indonesia itu memang berbakat dan sangat lihai menjalankan tugasnya.
Walau setinggi langit pujian Miyabi, sesungguhnya, apabila diamati secara seksama, maka “Bandung Lautan Asmara” jauh lebih dahsyat. Berangkat dari dua anak manusia yang tidak terlalu dikenal, Ahmad dan Nanda langsung meroket jadi idola. Tidak banyak yang menampakannya, sebagian besar berpura-pura atau bahkan tidak sedikit yang sembunyi di balik caci. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa keping perak tentang apa yang dilakukan keduanya melebihi peredaran VCD karya artis papan atas sekalipun.
Kalau video yang membuat heboh nusantara itu tidak dapat mendongkrak langsung pemerannya mendunia, itu hanya karena keterbatasan media informasi. Teknologi informasi sepuluh tahun lalu masih relative terbatas. Bagaimana kalau video Ahmad dan Nanda sekarang di-uplod ke dunia maya ? Tidak akan bisa menembus kehebatan Peterporn karena seperti kata adegium lama, “Kesempatan hanya muncul sekali.”
Berbeda dengan Ahmad dan Nanda yang gambarnya baru bisa dinikmati umum dengan enak melalui keeping VCD yang merepotkan, klip Peterporn bisa dinikmati dengan mudah melalui berbagai perangkat yang saat ini banyak tersedia. Telepon genggam pun bisa, bila kurang puas maka layar computer bisa jadi pilihan. Tempat yang paling aman untuk melakukannya, di tempat umum, warung internet atau lebih populer disebut warnet !
Banyak keuntungan yang didapat dengan menggunakan jasa warnet, selain akses data yang biasanya lebih cepat juga masih ada kemungkinan untuk mendapatkan gambar dan video yang sudah dibrangus sekalipun. Tayangan Peterporn boleh saja dihapus dari dunia maya tetapi di CPU warnet kemungkinan masih ada beberapa downloada-an yang tidak pernah diketahui oleh pengelolanya sekalipun, termasuk Peterporn.
Dengan sedikit permainan tuts maka dapatlah dengan mudah gambar itu diputar, dipindah-simpan ke tempat yang dikehendaki. Copy-an pun bukan hanya bisa diputar-ulang tetapi akan dengan lebih mudah ditransfer ke berbagai media lainnya. Tidak mengherankan kalau peredaran video klip terakhir Ariel tersebut terus berlangsung sekalipun peredarannya di dunia maya sudah sedemikian di-nol-kan.
Tanpa bermaksud memojokkan usaha warung internet yang saat ini berkembang pesat, razia aparat keamanan terhadap warung internet membuktikan kalau di CPU computer mereka tersimpan banyak gambar dan video serta materi lainnya yang tidak pernah dihapus.
Persaingan usaha satu dengan yang lainnya membuat pengunjung warnet seakan dimanja. Tempatnya nyaman, akses yang cepat dan berbagai kemudahan lainnya menjadi keunggulan untuk dapat meraih konsumen. Tetapi, sebagai bagian dari teknologi informasi yang berkembang sangat cepat maka cepat atau lambat berbagai usaha ini akan menemui titik klimaks. Tragedi Wartel adalah contoh nyata kehebatan bisnis di bidang teknologi informasi.
Sekitar dua dasa warsa yang lalu, ketika PT Telkom meluncurkan STO (Sambungan Telepon Otomatis) maka dunia telepon ongkel mengalami revolusi. Komunikasi jarak jauh sampai menembus negara lain pun menjadi sangat mudah dan murah. Warung Telekomunikasi atau wartel pun bermunculan seiring kebutuhan masyarakat yang sangat tinggi. Sebagai sebuah bisnis yang menggiurkan, wartel tumbuh tak terkendali. Selain tiadanya aturan yang jelas keadaan ini diperparah dengan munculnya berbagai makelar penyedia jasa yang bisa menjadikan telepon rumah menjadi wartel atau bahkan mendirikan wartel pada wilayah tanpa telepon kabel sekalipun.
Titik balik pun tercapai ketika teknologi telepon seluler menjadi sangat populer. Persaingan antar operator menjadikan akses informasi tanpa kabel menjadi sangat mudah dan murah. Demikian juga pesawat telepon saku makin bisa dibeli dengan biaya yang sangat ringan. Warung telekomunikasi pun dikubur oleh bapaknya seendiri, teknologi informasi.
Demikian juga perkembangan warnet yang saat ini sangat pesat sebenarnya sudah dihadang oleh kemajuan teknologi informasi lainnya. Teknologi hot spot saat ini memang masih terlalu mahal dan terbatas, tetapi merupakan indikasi persaingan. Hal ini mengingatkan kejadian sebelumnya, ketika wartel tumbuh pesat diantara harga telepon genggam dan pulsa yang mahal, untuk nomor SIM saja saat itu masih harus dibeli.
Selain itu teknologi wide spot dengan jangkauan lebih luas dari hot spot sudah juga mengintip. Beberapa tahun yang lalu sebuah perusahaan India telah bekerjasama dengan sebuah operator telepon seluler dalam negeri untuk mengembangkan teknologi informasi yang sudah diterapkan di negaranya ini di Indonesia. Hot spot dan wide spot tidak berjalan sendiri, produsen laptop pun sudah mulai beradu type dan harga dalam merebut hati konsumen. Laptop dengan berbagai model dan ukuran saat ini dapat dibeli dengan harga terjangkau. Diperkirakan pada tahun-tahun mendatang harganya makin menggeser ke bawah seiring banyaknya produsen yang merengsek ke pasar nasional.
Hot spot dan wide spot juga memungkinkan pengguna telepon genggam dapat mengakses internet secara gratis, tanpa harus membayar pulsa telepon seluler seperti sekarang terjadi. Bahkan personal computer (PC) yang saat ini sudah banyak dimiliki kantor dan keluarga di Indonesia pun dengan tambahan sedikit perangkat akan bisa memngakses internet tanpa kabel dan bayar sedikitpun.
Seperti biasa maka cepat atau lambat, kemajuan teknologi informasi baru akan menggilas teknologi informasi lama yang mahal dan merepotkan. Teknologi lama akan menjadi barang kuno yang antik dan menjadi penghuni museum teknologi informasi.
Jasa Layanan Akses Internet
Kebutuhan masyarakat akan jasa akses internet berbanding lurus dengan perkembangan teknologi informasi itu sendiri. Hal ini jelas merupakan suatu pertanda bahwa teknologi terbaru yang selalu terbaharukan diciptakan untuk membantu masyarakat. Bukan hanya dalam hal fungsinya tetapi juga biaya mengaksesnya semakin hari semakin relative terjangkau.
Perkembangan telepon genggam yang semula lahir sebagai pengganti telepon kabel yang terbatas ke-mobile-annya, saat ini justeru jauh lebih berkembang sebagai salah satu media pengakses berbagai informasi dunia yang sangat mobile. Namun demikian, dibalik kemobile-annya terdapat beberapa keterbatasan misalnya biaya akses yang relative tinggi, sekalipun demi alasan bisnis beberapa operator telepon memberikan tarif lebih murah atau bahkan gratis. Faktor lain yang tidak bisa digantikan adalah kelebaran layar yang dapat dilihat yang relative berbanding lurus dengan kepuasan mengakses internet.
Oleh karena itu tidak mengherankan kalau perkembangan keinginan masyarakat dalam mengakses teknologi informasi identik dengan sebuah jenis usaha baru yang dikenal sebagai Warung Internet atau Warnet. Sekalipun namanya mirip dengan pendahulunya Warung Telekom atau Wartel, sangat diharapkan kalau nasibnya tidak akan sama seperti pendahulunya itu.
Di Kabupaten Indramayu misalnya, dua tahun yang lalu layanan internet masih hanya bisa diakses dari beberapa Warung Internet di tengah kota dengan tarif yang relative mahal. Seiring perkembangan maka bukan hanya kualitas pelayanan yang meningkat tetapi jumlanya pun membludak. Sementara tarif per jamnya hanya seperempat dari semula.
Di kota sekecil Indramayu, Warnet terdapat di setiap suduk kota. Usaha yang semula hanya disediakan di tempat yang luas seperti toko, sekarang sudah merambah kemana-mana. Sebuah garasi atau bahkan kamar kos bisa diubah menjadi usaha yang menggiurkan ini. Selain biaya produksi yang relative terjangkau, pangsa pasar pun masih akan terus berkembang dan bertambah.
Hal yang sama terjadi di perdesaan, penyedia jasa layanan akses internet berkembang lebih cepat daripada telepon kabel yang sudah puluhan tahun disediakan PT Telekom. Tanpa telepon kabel pun mereka bisa membuka usaha ini, banyak penyedia jasa yang membantu mereka mewujudkan harapan masyarakat untuk meraih dunia yang semakin sempit ini, terlepas dari resmi atau tidak resmi, legal maupun gelap. Melanggar hukum atau tidak belum menjadi bahan pertimbangan karena selain pengetahuan mereka yang terbats soal itu, godaan keuntungan materiil sering membuat mereka lupa akan sanksi yang berat sekalipun.
Oleh karena itu, sebelum terlanjur terjadinya banyak dampak negative dan pelanggaran yang bukan hanya merugikan masyarakat tetapi juga dunia usaha maka Pemerintah perlu membuat sebuah aturan yang melindungi masyarakat dan dunia usaha itu sendiri.
Aturan oh Aturan
Anekdot yang sudah lazim di masyarakat negeri ini adalah bahwa peraturan dibuat setelah efek negative menyebar luas, selalu datang terlambat. Sebuah anekdot lainnya yang tidak kalah menggelikan, “Aturan dibuat untuk dilanggar !” Tidak dapat dipungkiri kalau kedua opini itu ada benarnya. Tetapi sesungguhnya hal tidak selalu benar.
Dalam hal perkembangan teknologi informasi yang selalu berkembang sangat cepat, jelas proses pembuatan produk hukum yang harus mengikuti alur kaidah birokrasi yang berlaku akan terlihat seperti jalan di tempat. Jika keduanya dipersandingkan maka ibarat pesawat jet yang melaju makin cepat meninggalkan landasan dengan pejalan kaki yang menatap burung besi itu terbang makin jauh.
Oleh karena itu tidak mengherankan apabila anekdot pertama ada benarnya, ketika peraturan masih berupa rancangan dan mengalami berbagai proses yang menghambatnya untuk segera melaju menjadi produk hukum yang baku sementara teknologi informasi tak mempedulikannya, terus melaju meninggalkan peraturan yang sulit kelar.
Banyak peraturan bahkan justeru memang lahir setelah berbagai dampak negative timbul di masyarakat. Ironisnya, sudah lumrah di telinga kalau pengusung produk hukum itu justeru mensiasati untuk menyiasati aturan yang dibuatnya.
Dalam menyiasati perkembangan teknologi informasi bahkan pernah ada kebijakan yang justeru jadi bahan tertawaan masyarakat, misalya pemblokiran situs www.youtube.com beberapa waktu lalu. Dalih menyebarkan pornografi dan porno aksi jelas sama sekali tidak bisa diterima masyarakat. Sangat banyak informasi yang dapat diraih dari web tersebut.
Selain itu, ternyata Pemerintah tidak cerdas, menganggap bahwa semua masyarakatnya maniak ketelanjangan. Pemerintah lupa akan manfaat pendidikan yang dibiayai dengan dana sangat besar selama ini, tidak tahu bahwa masyarakatnya sudah sedemikian cerdas, bisa membedakan mana yang pantas diakses dan mana yang mesti ditinggalkan.
Beruntunglah upaya membunuh tikus dengan membakar gudangnya ini tidak berlangsung lama, namun dampaknya sangat terasa. Sebagian masyarakat yang tidak terima identik dengan pornografi dan porno aksi mengacak-acak berbagai situs lain dengan berbagai konten yang bernada benar-benar prono. Mudah-mudahan keteledoran Pemerintah seperti yang dilakukan terhadap www.youtube.com tidak perlu terjadi lagi.
Sebuah aturan semestinya bukan hanya harus lahir dari aspirasi dan melibatkan partisipasi masyarakat tetapi juga untuk melindungi segenap masyarakat itu sendiri, termasuk di dalamnya adalah dunia usaha.
Belajar dari Daerah lain
Dalam hal melindungi masyarakat pemanfaat dan usaha jasa penyedia layanan internet di suatu daerah maka akan lebih aplikatif kalau peraturan itu setingkat Peraturan Bupati. Hal ini mengingat terdapat perbedaan social-kultural antara satu daerah dengan daerah. Apalagi iklim otonomi daerah yang diterapkan hampir sepuluh tahun terakhir semakin mempertajam adanya ‘kekuasaan daerah’.
Salah satu daerah yang telah membuat peraturan ini adalah Kabupaten Tanah Datar di Provinsi Sumatera Barat. Aturan yang ditetapkan di batusangkar tanggal 10 Maret 2010 itu diberi nama sebagai Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 3 Tahun 2010 tentang Usaha jasa Layanan Akses Internet.
Sekali lagi aturan itu dibuat bukan untuk menghambat perkembangan teknologi informasi ataupun membatasi masyarakat untuk meraih berbagai informasi dunia dengan mudah atau bahkan mematikan usaha Warnet yang semakin menjamur. Sama sekali tidak, tetapi justeru bertujuan untuk mengawasi perkembangan jasa usaha layanan akses internet dan membantu kelancaran perkembangan teknologi informasi itu sendiri. Namun sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila maka tidak boleh melupakan norma agama, kesopanan, kesusilaan dan hokum yang berlaku.
Kewajiban dan larangan penyedia jasa layanan askses internet perlu ditegaskan secara tertulis sehingga tidak ada pihak yang dirugikan satu sama lain.
Peraturan yang dibuat hendaknya memuat beberapa hal penting diantaranya diantaranya :
a. Perlindungan kepada konsumen dan masyarakat umum
Masyarakat sebagai pengguna jasa internet bukan hanya mempunyai hak mendapatkan pelayanan yang memuaskan tetapi juga perlu dilindungi dari berbagai dampak yang ditimbulkan akibat mengakses jasa layanan internet.
Sebagai daerah yang bertumpu pada “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah,” maka Pemerintah Kabupaten Tanah Datar melarang pengusaha jasa layanan internet melakukan beberapa hal diantaranya (Pasal 8, ayat (1)) :
1) Membuat sekat pembatas diantara pengguna jasa layanan akses internet.
2) Menghadapkan monitor computer ke ruang tertutup dan menghadap dinding
Mungkin lebih tepatnya kalau kata “dan” pada 2) diganti dengan “atau” karena kalau menggunakan kata “dan” maka kedua klausal harus dipenuhi, sementara penggunaan kata “atau” bermakna “salah satu atau keduanya” dilakukan. Sehingga penyedia jasa layanan internet dilarang menghadapkan computer ke ruang tertutup, demikian juga dianggap melanggar apabila monitor komputernya menghadap ke dinding. Apalagi kalau kedua-duanya dilakukan.
Sementara masyarakat sendiri dilarang melakukan (Pasal 8, ayat (2)) :
1) Mengakses situs porno dan atau konten porno
2) Mengakses situs yang mengandung unsur judi
3) Membawa minuman yang mengandung alkohol
4) Berpakaian seragam sekolah bagi peserta didik kecuali ada surat izin dari sekolah
5) Berpasangan dengan lawan jenis pada monitor yang sama
Pembatasan terhadap anak-anak berseragam sekolah tentu bukan berarti membatasi ruang gerak para generasi muda dalam mengakses berbagai informasi di dunia maya tetapi memberi pelajaran berharga bagi mereka agar mengakses internet sesuai dengan keperluan serta tetap terbimbing dan terawasi.
Secara umum pengguna internet sebagai konsumen juga dapat perlakuan istimewa oleh karena itu setiap pengusaha jasa internet diwajibkan menyediakan jasa layanan akses internet yang memadai kepada pengguna jasanya (Pasal 9 huruf a).
Aturan yang berlaku tentu berbeda dari satu daerah dengan wilayah lainnya tetapi Peraturan Bupati yang berlaku di Luhak Nan Tuo itu dapat jadi bahan referensi untuk melindungi dan mengarahkan serta mendidik masyarakat, termasuk di dalamnya anak-anak sekolah, untuk berinternet secara bijak.
b. Perlindungan kepada dunia usaha
Tragedy Wartel yang diceritakan di atas adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga. Animo masyarakat yang sangat tinggi dan rayuan keuntungan berlimpah dari para penyedia jasa pembuatan Wartel, legal ataupun terlarang melambungkan bisnis teknologi informasi ini menjadi sangat populer.
Tetapi drama usaha potensial ini harus berakhir menyedihkan, box-box ruang bicara harus beristirahat selamanya. Hal itu terjadi karena perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat. Handphone bukan lagi menjadi barang mewah diiringi dengan berbagai perang tariff antar operator seluler dalam berebut pasar.
Perkembangan teknologi informasi selanjutnya sudah sangat jelas, oleh karena itu tragedi bisnis ini tidak boleh terulang kembali. Oleh karena itu penyedia usaha jasa layanan internet harus dilindungi keberadaannya baik oleh ulah para konsumen yang usil ataupun dalam persaingan usaha.
Oleh karena itu hanya mereka yang memenuhi persyaratan teknis dan administrasi yang ditentukan saja yang boleh membuka jasa usala layanan internet. Berbagai persyaratan ini tentu saja bukan untuk mempersulit tetapi untuk menertibkan keberadaan mereka sehingga diharapkan tidak terjadi persaingan usaha yang tidak sehat yang bukan hanya merugikan salah satu pihak tetapi mengancam bangkrutnya semua usaha penyedia jasa layanan internet.
Bagi penyedia jasa layanan akses internet yang sudah berdiri dan tidak sesuai dengan aturan diberi tenggang waktu 3 bulan untuk menyesuaikan dengan aturan yang bagi beberapa daerah lain terasa berat dilakukan !
Perlindungan bagi Semua
Sekali lagi, sebuah peraturan dibuat bukan untuk mempersulit tetapi demi melindungi masyarakat luas dari berbagai dampak yang tidak dikehendaki mereka sebelumnya. Menghindarkan masyarakat dari keinginan mengakses sesuatu informasi yang tidak pernah terbayang di kepala mereka sebelumnya. Medidik masyarakat bijak menyikapi perkembangan teknologi informasi yang tidak bisa dibendung lagi.
Masyarakat harus dilindungi dari ketertarikan mengakses situs dan hal-hal yang tidak dikehendaki sebelumnya. Hal ini berguna juga untuk mendewasakan pengguna internet agar mempersiapkan diri sebelum mengakses informasi, hanya mengakses informasi yang memang diperlukan.
Cara sederhana yang dapat dilakukan penyedia jasa layanan internet adalah dengan membersihkan CPU-nya setiap hari. Berbagai web yang pernah diakses dibersihkan, demikian juga CPU dibersihkan dari berbagai file download-an para pengguna hari itu.
Dengan menyempatkan setiap computer beristirahat kurang dari 1 jam dalam sehari maka kegiatan ini akan sangat bermanfaat untuk melindungi pengguna dan perangkat computer yang digunakan serta keberlanjutan usaha warnet itu sendiri.
Kehebatan Teknologi Informasi
Beredarnya video mesum berhambur bintang akhir-akhir ini menyadarkan kita betapa hebatnya teknologi informasi. Dalam hitungan detik, adegan suami-isteri itu bisa disaksikan siapapun, dimanapun dan kapanpun. Ketiga bintang langsung mendunia, melibas kepopuleran karier yang selama bertahun-tahun dirintisnya.
Seorang bintang porno sekelas Miyabi pun menyanjung kehebatan bintang pria dan memuji keelokan paras kedua artis lawan mainnya. Sesuatu yang wajar, artis seprofesional Miyabi saja selalu harus menggunakan scenario dalam memainkan adegan. Ketiga selebritis Indonesia itu memang berbakat dan sangat lihai menjalankan tugasnya.
Walau setinggi langit pujian Miyabi, sesungguhnya, apabila diamati secara seksama, maka “Bandung Lautan Asmara” jauh lebih dahsyat. Berangkat dari dua anak manusia yang tidak terlalu dikenal, Ahmad dan Nanda langsung meroket jadi idola. Tidak banyak yang menampakannya, sebagian besar berpura-pura atau bahkan tidak sedikit yang sembunyi di balik caci. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa keping perak tentang apa yang dilakukan keduanya melebihi peredaran VCD karya artis papan atas sekalipun.
Kalau video yang membuat heboh nusantara itu tidak dapat mendongkrak langsung pemerannya mendunia, itu hanya karena keterbatasan media informasi. Teknologi informasi sepuluh tahun lalu masih relative terbatas. Bagaimana kalau video Ahmad dan Nanda sekarang di-uplod ke dunia maya ? Tidak akan bisa menembus kehebatan Peterporn karena seperti kata adegium lama, “Kesempatan hanya muncul sekali.”
Berbeda dengan Ahmad dan Nanda yang gambarnya baru bisa dinikmati umum dengan enak melalui keeping VCD yang merepotkan, klip Peterporn bisa dinikmati dengan mudah melalui berbagai perangkat yang saat ini banyak tersedia. Telepon genggam pun bisa, bila kurang puas maka layar computer bisa jadi pilihan. Tempat yang paling aman untuk melakukannya, di tempat umum, warung internet atau lebih populer disebut warnet !
Banyak keuntungan yang didapat dengan menggunakan jasa warnet, selain akses data yang biasanya lebih cepat juga masih ada kemungkinan untuk mendapatkan gambar dan video yang sudah dibrangus sekalipun. Tayangan Peterporn boleh saja dihapus dari dunia maya tetapi di CPU warnet kemungkinan masih ada beberapa downloada-an yang tidak pernah diketahui oleh pengelolanya sekalipun, termasuk Peterporn.
Dengan sedikit permainan tuts maka dapatlah dengan mudah gambar itu diputar, dipindah-simpan ke tempat yang dikehendaki. Copy-an pun bukan hanya bisa diputar-ulang tetapi akan dengan lebih mudah ditransfer ke berbagai media lainnya. Tidak mengherankan kalau peredaran video klip terakhir Ariel tersebut terus berlangsung sekalipun peredarannya di dunia maya sudah sedemikian di-nol-kan.
Tanpa bermaksud memojokkan usaha warung internet yang saat ini berkembang pesat, razia aparat keamanan terhadap warung internet membuktikan kalau di CPU computer mereka tersimpan banyak gambar dan video serta materi lainnya yang tidak pernah dihapus.
Persaingan usaha satu dengan yang lainnya membuat pengunjung warnet seakan dimanja. Tempatnya nyaman, akses yang cepat dan berbagai kemudahan lainnya menjadi keunggulan untuk dapat meraih konsumen. Tetapi, sebagai bagian dari teknologi informasi yang berkembang sangat cepat maka cepat atau lambat berbagai usaha ini akan menemui titik klimaks. Tragedi Wartel adalah contoh nyata kehebatan bisnis di bidang teknologi informasi.
Sekitar dua dasa warsa yang lalu, ketika PT Telkom meluncurkan STO (Sambungan Telepon Otomatis) maka dunia telepon ongkel mengalami revolusi. Komunikasi jarak jauh sampai menembus negara lain pun menjadi sangat mudah dan murah. Warung Telekomunikasi atau wartel pun bermunculan seiring kebutuhan masyarakat yang sangat tinggi. Sebagai sebuah bisnis yang menggiurkan, wartel tumbuh tak terkendali. Selain tiadanya aturan yang jelas keadaan ini diperparah dengan munculnya berbagai makelar penyedia jasa yang bisa menjadikan telepon rumah menjadi wartel atau bahkan mendirikan wartel pada wilayah tanpa telepon kabel sekalipun.
Titik balik pun tercapai ketika teknologi telepon seluler menjadi sangat populer. Persaingan antar operator menjadikan akses informasi tanpa kabel menjadi sangat mudah dan murah. Demikian juga pesawat telepon saku makin bisa dibeli dengan biaya yang sangat ringan. Warung telekomunikasi pun dikubur oleh bapaknya seendiri, teknologi informasi.
Demikian juga perkembangan warnet yang saat ini sangat pesat sebenarnya sudah dihadang oleh kemajuan teknologi informasi lainnya. Teknologi hot spot saat ini memang masih terlalu mahal dan terbatas, tetapi merupakan indikasi persaingan. Hal ini mengingatkan kejadian sebelumnya, ketika wartel tumbuh pesat diantara harga telepon genggam dan pulsa yang mahal, untuk nomor SIM saja saat itu masih harus dibeli.
Selain itu teknologi wide spot dengan jangkauan lebih luas dari hot spot sudah juga mengintip. Beberapa tahun yang lalu sebuah perusahaan India telah bekerjasama dengan sebuah operator telepon seluler dalam negeri untuk mengembangkan teknologi informasi yang sudah diterapkan di negaranya ini di Indonesia. Hot spot dan wide spot tidak berjalan sendiri, produsen laptop pun sudah mulai beradu type dan harga dalam merebut hati konsumen. Laptop dengan berbagai model dan ukuran saat ini dapat dibeli dengan harga terjangkau. Diperkirakan pada tahun-tahun mendatang harganya makin menggeser ke bawah seiring banyaknya produsen yang merengsek ke pasar nasional.
Hot spot dan wide spot juga memungkinkan pengguna telepon genggam dapat mengakses internet secara gratis, tanpa harus membayar pulsa telepon seluler seperti sekarang terjadi. Bahkan personal computer (PC) yang saat ini sudah banyak dimiliki kantor dan keluarga di Indonesia pun dengan tambahan sedikit perangkat akan bisa memngakses internet tanpa kabel dan bayar sedikitpun.
Seperti biasa maka cepat atau lambat, kemajuan teknologi informasi baru akan menggilas teknologi informasi lama yang mahal dan merepotkan. Teknologi lama akan menjadi barang kuno yang antik dan menjadi penghuni museum teknologi informasi.
Jasa Layanan Akses Internet
Kebutuhan masyarakat akan jasa akses internet berbanding lurus dengan perkembangan teknologi informasi itu sendiri. Hal ini jelas merupakan suatu pertanda bahwa teknologi terbaru yang selalu terbaharukan diciptakan untuk membantu masyarakat. Bukan hanya dalam hal fungsinya tetapi juga biaya mengaksesnya semakin hari semakin relative terjangkau.
Perkembangan telepon genggam yang semula lahir sebagai pengganti telepon kabel yang terbatas ke-mobile-annya, saat ini justeru jauh lebih berkembang sebagai salah satu media pengakses berbagai informasi dunia yang sangat mobile. Namun demikian, dibalik kemobile-annya terdapat beberapa keterbatasan misalnya biaya akses yang relative tinggi, sekalipun demi alasan bisnis beberapa operator telepon memberikan tarif lebih murah atau bahkan gratis. Faktor lain yang tidak bisa digantikan adalah kelebaran layar yang dapat dilihat yang relative berbanding lurus dengan kepuasan mengakses internet.
Oleh karena itu tidak mengherankan kalau perkembangan keinginan masyarakat dalam mengakses teknologi informasi identik dengan sebuah jenis usaha baru yang dikenal sebagai Warung Internet atau Warnet. Sekalipun namanya mirip dengan pendahulunya Warung Telekom atau Wartel, sangat diharapkan kalau nasibnya tidak akan sama seperti pendahulunya itu.
Di Kabupaten Indramayu misalnya, dua tahun yang lalu layanan internet masih hanya bisa diakses dari beberapa Warung Internet di tengah kota dengan tarif yang relative mahal. Seiring perkembangan maka bukan hanya kualitas pelayanan yang meningkat tetapi jumlanya pun membludak. Sementara tarif per jamnya hanya seperempat dari semula.
Di kota sekecil Indramayu, Warnet terdapat di setiap suduk kota. Usaha yang semula hanya disediakan di tempat yang luas seperti toko, sekarang sudah merambah kemana-mana. Sebuah garasi atau bahkan kamar kos bisa diubah menjadi usaha yang menggiurkan ini. Selain biaya produksi yang relative terjangkau, pangsa pasar pun masih akan terus berkembang dan bertambah.
Hal yang sama terjadi di perdesaan, penyedia jasa layanan akses internet berkembang lebih cepat daripada telepon kabel yang sudah puluhan tahun disediakan PT Telekom. Tanpa telepon kabel pun mereka bisa membuka usaha ini, banyak penyedia jasa yang membantu mereka mewujudkan harapan masyarakat untuk meraih dunia yang semakin sempit ini, terlepas dari resmi atau tidak resmi, legal maupun gelap. Melanggar hukum atau tidak belum menjadi bahan pertimbangan karena selain pengetahuan mereka yang terbats soal itu, godaan keuntungan materiil sering membuat mereka lupa akan sanksi yang berat sekalipun.
Oleh karena itu, sebelum terlanjur terjadinya banyak dampak negative dan pelanggaran yang bukan hanya merugikan masyarakat tetapi juga dunia usaha maka Pemerintah perlu membuat sebuah aturan yang melindungi masyarakat dan dunia usaha itu sendiri.
Aturan oh Aturan
Anekdot yang sudah lazim di masyarakat negeri ini adalah bahwa peraturan dibuat setelah efek negative menyebar luas, selalu datang terlambat. Sebuah anekdot lainnya yang tidak kalah menggelikan, “Aturan dibuat untuk dilanggar !” Tidak dapat dipungkiri kalau kedua opini itu ada benarnya. Tetapi sesungguhnya hal tidak selalu benar.
Dalam hal perkembangan teknologi informasi yang selalu berkembang sangat cepat, jelas proses pembuatan produk hukum yang harus mengikuti alur kaidah birokrasi yang berlaku akan terlihat seperti jalan di tempat. Jika keduanya dipersandingkan maka ibarat pesawat jet yang melaju makin cepat meninggalkan landasan dengan pejalan kaki yang menatap burung besi itu terbang makin jauh.
Oleh karena itu tidak mengherankan apabila anekdot pertama ada benarnya, ketika peraturan masih berupa rancangan dan mengalami berbagai proses yang menghambatnya untuk segera melaju menjadi produk hukum yang baku sementara teknologi informasi tak mempedulikannya, terus melaju meninggalkan peraturan yang sulit kelar.
Banyak peraturan bahkan justeru memang lahir setelah berbagai dampak negative timbul di masyarakat. Ironisnya, sudah lumrah di telinga kalau pengusung produk hukum itu justeru mensiasati untuk menyiasati aturan yang dibuatnya.
Dalam menyiasati perkembangan teknologi informasi bahkan pernah ada kebijakan yang justeru jadi bahan tertawaan masyarakat, misalya pemblokiran situs www.youtube.com beberapa waktu lalu. Dalih menyebarkan pornografi dan porno aksi jelas sama sekali tidak bisa diterima masyarakat. Sangat banyak informasi yang dapat diraih dari web tersebut.
Selain itu, ternyata Pemerintah tidak cerdas, menganggap bahwa semua masyarakatnya maniak ketelanjangan. Pemerintah lupa akan manfaat pendidikan yang dibiayai dengan dana sangat besar selama ini, tidak tahu bahwa masyarakatnya sudah sedemikian cerdas, bisa membedakan mana yang pantas diakses dan mana yang mesti ditinggalkan.
Beruntunglah upaya membunuh tikus dengan membakar gudangnya ini tidak berlangsung lama, namun dampaknya sangat terasa. Sebagian masyarakat yang tidak terima identik dengan pornografi dan porno aksi mengacak-acak berbagai situs lain dengan berbagai konten yang bernada benar-benar prono. Mudah-mudahan keteledoran Pemerintah seperti yang dilakukan terhadap www.youtube.com tidak perlu terjadi lagi.
Sebuah aturan semestinya bukan hanya harus lahir dari aspirasi dan melibatkan partisipasi masyarakat tetapi juga untuk melindungi segenap masyarakat itu sendiri, termasuk di dalamnya adalah dunia usaha.
Belajar dari Daerah lain
Dalam hal melindungi masyarakat pemanfaat dan usaha jasa penyedia layanan internet di suatu daerah maka akan lebih aplikatif kalau peraturan itu setingkat Peraturan Bupati. Hal ini mengingat terdapat perbedaan social-kultural antara satu daerah dengan daerah. Apalagi iklim otonomi daerah yang diterapkan hampir sepuluh tahun terakhir semakin mempertajam adanya ‘kekuasaan daerah’.
Salah satu daerah yang telah membuat peraturan ini adalah Kabupaten Tanah Datar di Provinsi Sumatera Barat. Aturan yang ditetapkan di batusangkar tanggal 10 Maret 2010 itu diberi nama sebagai Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor 3 Tahun 2010 tentang Usaha jasa Layanan Akses Internet.
Sekali lagi aturan itu dibuat bukan untuk menghambat perkembangan teknologi informasi ataupun membatasi masyarakat untuk meraih berbagai informasi dunia dengan mudah atau bahkan mematikan usaha Warnet yang semakin menjamur. Sama sekali tidak, tetapi justeru bertujuan untuk mengawasi perkembangan jasa usaha layanan akses internet dan membantu kelancaran perkembangan teknologi informasi itu sendiri. Namun sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila maka tidak boleh melupakan norma agama, kesopanan, kesusilaan dan hokum yang berlaku.
Kewajiban dan larangan penyedia jasa layanan askses internet perlu ditegaskan secara tertulis sehingga tidak ada pihak yang dirugikan satu sama lain.
Peraturan yang dibuat hendaknya memuat beberapa hal penting diantaranya diantaranya :
a. Perlindungan kepada konsumen dan masyarakat umum
Masyarakat sebagai pengguna jasa internet bukan hanya mempunyai hak mendapatkan pelayanan yang memuaskan tetapi juga perlu dilindungi dari berbagai dampak yang ditimbulkan akibat mengakses jasa layanan internet.
Sebagai daerah yang bertumpu pada “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah,” maka Pemerintah Kabupaten Tanah Datar melarang pengusaha jasa layanan internet melakukan beberapa hal diantaranya (Pasal 8, ayat (1)) :
1) Membuat sekat pembatas diantara pengguna jasa layanan akses internet.
2) Menghadapkan monitor computer ke ruang tertutup dan menghadap dinding
Mungkin lebih tepatnya kalau kata “dan” pada 2) diganti dengan “atau” karena kalau menggunakan kata “dan” maka kedua klausal harus dipenuhi, sementara penggunaan kata “atau” bermakna “salah satu atau keduanya” dilakukan. Sehingga penyedia jasa layanan internet dilarang menghadapkan computer ke ruang tertutup, demikian juga dianggap melanggar apabila monitor komputernya menghadap ke dinding. Apalagi kalau kedua-duanya dilakukan.
Sementara masyarakat sendiri dilarang melakukan (Pasal 8, ayat (2)) :
1) Mengakses situs porno dan atau konten porno
2) Mengakses situs yang mengandung unsur judi
3) Membawa minuman yang mengandung alkohol
4) Berpakaian seragam sekolah bagi peserta didik kecuali ada surat izin dari sekolah
5) Berpasangan dengan lawan jenis pada monitor yang sama
Pembatasan terhadap anak-anak berseragam sekolah tentu bukan berarti membatasi ruang gerak para generasi muda dalam mengakses berbagai informasi di dunia maya tetapi memberi pelajaran berharga bagi mereka agar mengakses internet sesuai dengan keperluan serta tetap terbimbing dan terawasi.
Secara umum pengguna internet sebagai konsumen juga dapat perlakuan istimewa oleh karena itu setiap pengusaha jasa internet diwajibkan menyediakan jasa layanan akses internet yang memadai kepada pengguna jasanya (Pasal 9 huruf a).
Aturan yang berlaku tentu berbeda dari satu daerah dengan wilayah lainnya tetapi Peraturan Bupati yang berlaku di Luhak Nan Tuo itu dapat jadi bahan referensi untuk melindungi dan mengarahkan serta mendidik masyarakat, termasuk di dalamnya anak-anak sekolah, untuk berinternet secara bijak.
b. Perlindungan kepada dunia usaha
Tragedy Wartel yang diceritakan di atas adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga. Animo masyarakat yang sangat tinggi dan rayuan keuntungan berlimpah dari para penyedia jasa pembuatan Wartel, legal ataupun terlarang melambungkan bisnis teknologi informasi ini menjadi sangat populer.
Tetapi drama usaha potensial ini harus berakhir menyedihkan, box-box ruang bicara harus beristirahat selamanya. Hal itu terjadi karena perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat. Handphone bukan lagi menjadi barang mewah diiringi dengan berbagai perang tariff antar operator seluler dalam berebut pasar.
Perkembangan teknologi informasi selanjutnya sudah sangat jelas, oleh karena itu tragedi bisnis ini tidak boleh terulang kembali. Oleh karena itu penyedia usaha jasa layanan internet harus dilindungi keberadaannya baik oleh ulah para konsumen yang usil ataupun dalam persaingan usaha.
Oleh karena itu hanya mereka yang memenuhi persyaratan teknis dan administrasi yang ditentukan saja yang boleh membuka jasa usala layanan internet. Berbagai persyaratan ini tentu saja bukan untuk mempersulit tetapi untuk menertibkan keberadaan mereka sehingga diharapkan tidak terjadi persaingan usaha yang tidak sehat yang bukan hanya merugikan salah satu pihak tetapi mengancam bangkrutnya semua usaha penyedia jasa layanan internet.
Bagi penyedia jasa layanan akses internet yang sudah berdiri dan tidak sesuai dengan aturan diberi tenggang waktu 3 bulan untuk menyesuaikan dengan aturan yang bagi beberapa daerah lain terasa berat dilakukan !
Perlindungan bagi Semua
Sekali lagi, sebuah peraturan dibuat bukan untuk mempersulit tetapi demi melindungi masyarakat luas dari berbagai dampak yang tidak dikehendaki mereka sebelumnya. Menghindarkan masyarakat dari keinginan mengakses sesuatu informasi yang tidak pernah terbayang di kepala mereka sebelumnya. Medidik masyarakat bijak menyikapi perkembangan teknologi informasi yang tidak bisa dibendung lagi.
Masyarakat harus dilindungi dari ketertarikan mengakses situs dan hal-hal yang tidak dikehendaki sebelumnya. Hal ini berguna juga untuk mendewasakan pengguna internet agar mempersiapkan diri sebelum mengakses informasi, hanya mengakses informasi yang memang diperlukan.
Cara sederhana yang dapat dilakukan penyedia jasa layanan internet adalah dengan membersihkan CPU-nya setiap hari. Berbagai web yang pernah diakses dibersihkan, demikian juga CPU dibersihkan dari berbagai file download-an para pengguna hari itu.
Dengan menyempatkan setiap computer beristirahat kurang dari 1 jam dalam sehari maka kegiatan ini akan sangat bermanfaat untuk melindungi pengguna dan perangkat computer yang digunakan serta keberlanjutan usaha warnet itu sendiri.
Senin, 28 Juni 2010
HIDUP INI SESUNGGUHNYA HANYALAH NOL BELAKA
HIDUP INI SESUNGGUHNYA HANYALAH NOL BELAKA
"Simpul kehidupan sesungguhnya adalah titik nadir alias nol besar belaka …!"
Kata bijak lain mengatakan bahwa dunia ini hanyalah panggung sandiwara. Tentu banyak mutiara kata lain yang berkesimpulan hal yang sama atau sejenis ataupun sekedar bermakna sama setelah melalui berbagai proses kirata basa.
Perjalanan kehidupan yang singkat ini telah dengan gamblang menggambarkan kebenaran adegium yang cukup menjadi pengobat bagi yang merasa patah dalam menjalani hidup yang di mata mereka sangat penuh tantangan.
Ketika kehidupan dianggap penuh tantangan yang semakin hari semakin menghimpit maka perjalanan kehidupan semakin menderita. Tanpa disadari, di luar sana, seabreg tentangan terhadap tantangan itu dilaksanakan. Mereka melawan hambatan, memanfaatkan potensi dan peluang yang sebenarnya tercipta oleh tantangan itu sendiri. Mereka bahagia menikmati tantangan yang selalu datang dan semakin tertantang untuk memanfaatkan tantangan yang baru.
Sebagian orang mengalami kehidupan ini dalam berbagai kemewahan, tidak pernah ada sedikit kekurangan sedikit pun. Semua itu hanya tampak dari luar, semua selalu indah tampak dari luar, semua serba enak jika dilihat, semua begitu senang jika hanya dipandang. Tidak pernah ada yang tahu isi hatinya ….
Tidak sedikit mereka yang tampak bergelimang kemewahan ternyata serba kekurangan. Bahkan dalam kehidupan sejatinya serba terbatas, dibatasi oleh kekayaan dan harta serta fasilitas yang dimilikinya sendiri. Mereka pun dibatasi untuk memanfaatkan apa yang dipunyainya sendiri. Banyak yang bergelimang kemewahan tetapi malah dijerumuskan ke dalam jurang kesengsaraan oleh kemewahan yang dari luar sangat dinikmatinya.
Di luar dunia kemewahan itu, berjejer berbagai penderitaan manusia lain yang hanya bisa berdecak ketika kemegahan dipamerkan. Jangan lupa, tidak sedikit yang malah mencibir menyaksikan berbagai kelebihan yang ditonjolkan itu. Sebagian merasakan penderitaan telah melekat selama hidupnya, yang lain mengumpat, “Saya dulu lebih dari kamu !” atau bahkan “Tanpa saya, kamu tidak akan pernah hidup mewah seperti sekarang !”
Ketika dunia dipenuhi manusia yang berpendidikan makin tinggi maka sesungguhnya di sisi lain berjibun orang-orang yang putus sekolah atau bahkan tidak mengenyam rasa sekolah sama sekali. Tidak sedikit yang hanya meningkat dari segi tingkatan ijazah, sementara pola pikir masih tetap pada ijazah pertama yang diraihnya. Banyak yang malah lebih rendah dari itu, karena setelah ijazah sedemikian tinggi maka muncul suatu keinginan tak terbendung yang setara dengan tingkatan baru sementara kemampuan mereka masih seperti dahulu.
Jangan dilupakan bahwa disamping orang-orang yang selalu bangga dengan sederet gelar kesarjanaan maka terdapat banyak peraih gelar kesekolahan yang lebih mementingkan kemampuan dari pada menenteng ijazah kemana pergi tanpa diiringi dengan aksi. Gelar selalu digelar dimanapun berada di satu pihak, di yang lain sangat hati-hati menggunakannya, hanya untuk kepetingan formal. Bahkan jangan kaget kalau ada yang sangat bangga dengan nama pemberian ayah dan ibu semata, tidak pernah ada embel-embel lain yang boleh mengotori.
Sebuah kreativitas yang dimiliki seseorang adalah sebuah berkah dan karunia yang tak ternilai. Ide-ide cemerlang bermunculan tiada henti. Salah satu cara mensyukurinya adalah dengan mewujudkannya dalam kerja nyata. Tetapi apakah kreativitas yang ditunjukkan selalu dapat tanggapan positif ? Tidak selalu.
Bagi sebagian orang, kreativitas yang ditunjukkan merupakan pembaharuan yang sangat patut dihargai dan dijalankan untuk mencapai perubahan kea rah yang lebih baik. Bisa memfasilitasi agar ide cemerlang semakin terarah dan sesuai dengan kondisi real yang akan diwarnainya. Dapat diwadahi dalam satu kesatuan sehingga bisa berkolaborasi dengan para penghasil pemikiran cemerlang lainnya. Ide-ide cemerlang dapat tempat yang layak untuk berkembang.
Di sisi lain banyak yang menilai munculnya pemikiran baru adalah ancaman yang dapat menghancurkan apa yang sudah diraihnya sekarang. Berbagai cara dilakukan agar kreativitas tidak berkembang atau bahkan berkesempatan muncul ke dunia sama sekali. Tidak ada yang lebih baik kecuali apa yang sekarang terjadi.
Manusia lain berpikiran berbeda, ide-de baru sesuatu yang harus ada dan diterima. Tetapi berlaku hokum, hanya dan hanya jika dari diri mereka sendiri. Pemikiran orang lain adalah kekayaan yang luar biasa tetapi tidak ada artinya jika tidak keluar dari mulut mereka. Pembaharuan diperlukan tetapi lebih perlu lagi seolah harus keluar dari kepala mereka. Aplikasinya, berbagai pemikiran baru diterima dengan senang hati dan di belakang itu semua mereka menyampaikannya kepada yang lain seakan haril pemikiran sendiri.
Dunia plagiat bahkan dapat menjadikan kreativitas sebagai bumerang. Ketulusan menyampaikan pemikiran dimanfaatkan para pem-fotocopy ini sebagai sejata untuk menghancurkan penyampai ide itu sendiri. Sang Plagiator menari-nari menikmati hasil kecemerlangan pemikiran, sementara penggagas ide menahan sakit dan derita terkena bumerang yang kembali tanpa disangka sebelumnya. Bahkan sebagian harus terbunuh tergilas kenikmatan hasil kreativitas yang diaku orang lain.
Pada setiap lini kehidupan, arah ke titik nadir selalu terjadi. Dalam kesenangan yang dialami terdapat berbagai kegundahan di sisi yang lain. Gampangnya, selalu ada yang tertusuk kalau ada yang menusuk. Banyak tusukan yang tidak tepat arah pun tak masalah karena tidak sedikit tusukan terjadi karena tak sengaja. Bahkan, disamping tusukan yang menyakitkan terdapat berbagai tusukan yang menyenangkan !
Oleh karena itu dalam menghadapi berbagai kontraversi kehidupan ini tidak boleh berat sebelah. Tidak harus susah-susah mencari formula dan rumus untuk keseimbangan hidup, karena alam telah dan selalu akan menyeimbangkan dirinya sendiri ! Nikmatilah hidup ini apa adanya ….
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
"Simpul kehidupan sesungguhnya adalah titik nadir alias nol besar belaka …!"
Kata bijak lain mengatakan bahwa dunia ini hanyalah panggung sandiwara. Tentu banyak mutiara kata lain yang berkesimpulan hal yang sama atau sejenis ataupun sekedar bermakna sama setelah melalui berbagai proses kirata basa.
Perjalanan kehidupan yang singkat ini telah dengan gamblang menggambarkan kebenaran adegium yang cukup menjadi pengobat bagi yang merasa patah dalam menjalani hidup yang di mata mereka sangat penuh tantangan.
Ketika kehidupan dianggap penuh tantangan yang semakin hari semakin menghimpit maka perjalanan kehidupan semakin menderita. Tanpa disadari, di luar sana, seabreg tentangan terhadap tantangan itu dilaksanakan. Mereka melawan hambatan, memanfaatkan potensi dan peluang yang sebenarnya tercipta oleh tantangan itu sendiri. Mereka bahagia menikmati tantangan yang selalu datang dan semakin tertantang untuk memanfaatkan tantangan yang baru.
Sebagian orang mengalami kehidupan ini dalam berbagai kemewahan, tidak pernah ada sedikit kekurangan sedikit pun. Semua itu hanya tampak dari luar, semua selalu indah tampak dari luar, semua serba enak jika dilihat, semua begitu senang jika hanya dipandang. Tidak pernah ada yang tahu isi hatinya ….
Tidak sedikit mereka yang tampak bergelimang kemewahan ternyata serba kekurangan. Bahkan dalam kehidupan sejatinya serba terbatas, dibatasi oleh kekayaan dan harta serta fasilitas yang dimilikinya sendiri. Mereka pun dibatasi untuk memanfaatkan apa yang dipunyainya sendiri. Banyak yang bergelimang kemewahan tetapi malah dijerumuskan ke dalam jurang kesengsaraan oleh kemewahan yang dari luar sangat dinikmatinya.
Di luar dunia kemewahan itu, berjejer berbagai penderitaan manusia lain yang hanya bisa berdecak ketika kemegahan dipamerkan. Jangan lupa, tidak sedikit yang malah mencibir menyaksikan berbagai kelebihan yang ditonjolkan itu. Sebagian merasakan penderitaan telah melekat selama hidupnya, yang lain mengumpat, “Saya dulu lebih dari kamu !” atau bahkan “Tanpa saya, kamu tidak akan pernah hidup mewah seperti sekarang !”
Ketika dunia dipenuhi manusia yang berpendidikan makin tinggi maka sesungguhnya di sisi lain berjibun orang-orang yang putus sekolah atau bahkan tidak mengenyam rasa sekolah sama sekali. Tidak sedikit yang hanya meningkat dari segi tingkatan ijazah, sementara pola pikir masih tetap pada ijazah pertama yang diraihnya. Banyak yang malah lebih rendah dari itu, karena setelah ijazah sedemikian tinggi maka muncul suatu keinginan tak terbendung yang setara dengan tingkatan baru sementara kemampuan mereka masih seperti dahulu.
Jangan dilupakan bahwa disamping orang-orang yang selalu bangga dengan sederet gelar kesarjanaan maka terdapat banyak peraih gelar kesekolahan yang lebih mementingkan kemampuan dari pada menenteng ijazah kemana pergi tanpa diiringi dengan aksi. Gelar selalu digelar dimanapun berada di satu pihak, di yang lain sangat hati-hati menggunakannya, hanya untuk kepetingan formal. Bahkan jangan kaget kalau ada yang sangat bangga dengan nama pemberian ayah dan ibu semata, tidak pernah ada embel-embel lain yang boleh mengotori.
Sebuah kreativitas yang dimiliki seseorang adalah sebuah berkah dan karunia yang tak ternilai. Ide-ide cemerlang bermunculan tiada henti. Salah satu cara mensyukurinya adalah dengan mewujudkannya dalam kerja nyata. Tetapi apakah kreativitas yang ditunjukkan selalu dapat tanggapan positif ? Tidak selalu.
Bagi sebagian orang, kreativitas yang ditunjukkan merupakan pembaharuan yang sangat patut dihargai dan dijalankan untuk mencapai perubahan kea rah yang lebih baik. Bisa memfasilitasi agar ide cemerlang semakin terarah dan sesuai dengan kondisi real yang akan diwarnainya. Dapat diwadahi dalam satu kesatuan sehingga bisa berkolaborasi dengan para penghasil pemikiran cemerlang lainnya. Ide-ide cemerlang dapat tempat yang layak untuk berkembang.
Di sisi lain banyak yang menilai munculnya pemikiran baru adalah ancaman yang dapat menghancurkan apa yang sudah diraihnya sekarang. Berbagai cara dilakukan agar kreativitas tidak berkembang atau bahkan berkesempatan muncul ke dunia sama sekali. Tidak ada yang lebih baik kecuali apa yang sekarang terjadi.
Manusia lain berpikiran berbeda, ide-de baru sesuatu yang harus ada dan diterima. Tetapi berlaku hokum, hanya dan hanya jika dari diri mereka sendiri. Pemikiran orang lain adalah kekayaan yang luar biasa tetapi tidak ada artinya jika tidak keluar dari mulut mereka. Pembaharuan diperlukan tetapi lebih perlu lagi seolah harus keluar dari kepala mereka. Aplikasinya, berbagai pemikiran baru diterima dengan senang hati dan di belakang itu semua mereka menyampaikannya kepada yang lain seakan haril pemikiran sendiri.
Dunia plagiat bahkan dapat menjadikan kreativitas sebagai bumerang. Ketulusan menyampaikan pemikiran dimanfaatkan para pem-fotocopy ini sebagai sejata untuk menghancurkan penyampai ide itu sendiri. Sang Plagiator menari-nari menikmati hasil kecemerlangan pemikiran, sementara penggagas ide menahan sakit dan derita terkena bumerang yang kembali tanpa disangka sebelumnya. Bahkan sebagian harus terbunuh tergilas kenikmatan hasil kreativitas yang diaku orang lain.
Pada setiap lini kehidupan, arah ke titik nadir selalu terjadi. Dalam kesenangan yang dialami terdapat berbagai kegundahan di sisi yang lain. Gampangnya, selalu ada yang tertusuk kalau ada yang menusuk. Banyak tusukan yang tidak tepat arah pun tak masalah karena tidak sedikit tusukan terjadi karena tak sengaja. Bahkan, disamping tusukan yang menyakitkan terdapat berbagai tusukan yang menyenangkan !
Oleh karena itu dalam menghadapi berbagai kontraversi kehidupan ini tidak boleh berat sebelah. Tidak harus susah-susah mencari formula dan rumus untuk keseimbangan hidup, karena alam telah dan selalu akan menyeimbangkan dirinya sendiri ! Nikmatilah hidup ini apa adanya ….
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
KIAT MENGATASI BAU PETAI
Bau hangseur petai memang sudah dari sononya. Bahkan begitu baunya melintas di ujung hidung, nikmat petai sudah terasa di sudut bibir. Bau khas ini sudah ada sebelum nenek moyang manusia menjadi penggemarnya.
Bau tajam petai memang bukan hanya sebatas urusan mulut. Sisa terakhirnya pun harus dibuang dengan hati-hati. Apalagi kalau di tempat umum atau sedang bertandang di rumah orang. Bisa membuat repot tuan rumah.
“Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.” Adegium lama yang sangat dipatuhi penggemar petai. Walaupun sikap seperti itu kadang-kadang menjadi bumerang yang dapat memalukan diri sendiri.
Namun demikian penggemar petai tidak berkurang karena termakan zaman, malah terus berkembang. Padahal pergaulan sekarang berbanding terbalik dengan bau pesing itu. Oleh karena itu berbagai upaya dilakukan untuk meredam bom bau yang ditimbulkan sementara kenikmatan petai tetap dirasakan.
Dengan rekayasa genetika mungkin suatu saat bisa tercipta petai dengan bau yang lebih dikehendaki. Tapi akan sangat mahal dan masih perlu menunggu waktu. Atau mungkin juga akan mengurangi cita rasa yang menjadi makna dasar petai itu sendiri. Petai tanpa bau adalah bukan petai, hanya serupa.
Sambil menunggu teknologi terapan itu mencapai sasaran, maka untuk menikmati petai dengan bau yang agak berkurang dapat ditempuh dengan berbagai cara, baik sebelum petai dikonsumsi maupun sesudah remah di dalam perut.
Untuk mengurangi ketajaman bau petai dengan sedikit mungkin mengurangi daya tarik selera maka dapat dilakukan beberapa cara seperti :
a. Petai Bakar
Petai segar dibakar secara langsung di perapian sampai timbul gelembung kecil bagian luar kulitnya dan terbakar. Bau tajamnya semakin berkurang dengan menghitamnya kulit petai. Hati-hati saja, kalau kelewat hitam bisa menjadi arang.
b. Petai Panggang
Untuk menghindari terlalu matangnya petai maka dapat dilakukan dengan memanggang baik dengan cara seperti membakar sate ataupun mmenaruhnya di atas seng tanpa diberi minyak seperti mensangrai. Selain menghindarkan hangusnya petai, cara sederhana dengan cara kedua ini menghasilkan petai yang lebih renyah.
c. Petai Goreng
Masyarakat Sumatera Barat biasa menggoreng petai berkulit yang telah dipotong-potong dan menuanginya dengan tumbukan cabai keriting. Jadilah sambal bumbu petai yang sangat lezat. Apalagi bila ditaburi dengan ikan bilih yang sudah dikeringkan, atau setidaknya ikan teri yang tidak asin.
Untuk menjadikannya sebagai teman sambal maka sebelum digoreng dikupas dulu kulitnya. Selain tidak terlalu mengubah cita rasa, baunya pun relatif berkurang dengan sedikit resiko kegosongan. Kematangan petainya pun dapat disesuaikan dengan selera.
d. Petai Kukus
Cara ini merupakan metode pengurangan bau petai yang paling sering dilakukan di Pulau Jawa, termasuk di Jawa Barat yang dikenal doyan mentahan. Pengukusan bukan hanya mengurangi bau hangseur tetapi juga menghilangkan rasa renyah. Petai kukusan melepes. Tapi kalau anda suka, apa salahnya.
Bagi sebagian orang, keempat perlakuan seperti di atas akan dapat mengganggu selera. Petai segar memang sangat menggoda walalupun baunya sering tidak dapat dihindarkan. Bahkan setelah petai dikukus, dibakar ataupun digoreng maka problema belumlah berakhir, bahkan merupakan awal dari permasalahan bau selanjutnya.
Ada beberapa cara agar problema bau ini dapat dikurangi, baik efeknya yang langsung terasa sebagai bau mulut ataupun kelanjutannya yang berhubungan dengan kamar kecil, yaitu dengan mengkonsumsi atau hanya mengunyah bahan makanan lain yang sudah akrab di sekitar kita seperti :
a. Teh
Teh dapat mengurangi bau yang ditinggalkan petai. Dapat sebagai seduhan kental setelah mengkonsumsi petai atau hanya menguyahnya mentah-mentah seperti sirih. Rasa pahit yang ditimbulkan sebanding dengan bau mulut yang kembali segar dan berkurangnya bau yang mengganggu kamar kecil.
b. Kopi
Selain teh maka kopi pun dapat digunakan dengan cara yang sama bila anda menyukainya dan tidak ada masalah kesehatan. Bahkan masyarakat telah terbiasa menggunakan kopi untuk menumpas bau yang tidak sedap, bukan hanya urusan petai.
c. Mentimun
Sambil menyelam minum susui, begitulah kalau kita memadu lalapan petai dengan mentimun. Bukan hanya keduanya menimbulkan cita rasa baru tetapi juga bau yang biasanya timbul setelah makan petai sirna. Bau mulut tidak lagi menjadi masalah, demikian juga problema kamar kecil.
Bila tidak suka dengan paduan keduanya, mentimun pun dapat dilalap secara tunggal di akhir hidangan. Bahkan walaupun dikonsumsi beberapa jam setelah petai bersarang di perut, pengaruh mentimun menumpas bau masih sangat kuat.
Kalau tidak suka mentimun segar bisa juga dibuat acar ataupun mengukusnya. Namun kalau ada permasalahan kesehatan, hati-hati sedikit.
d. Kacang panjang
Kalau tak ada rotan, akar pun berguna. Bila tidak ada mentimun atau karena alasan lain maka kacang panjang akan sangat membantu menghilangkan bau petai. Sama seperti mentimun, kacang panjang tidak harus dikonsumsi bersamaan dengan petai.
Beberapa cara sederhana di atas terbukti dapat mengurangi bau petai baik sebelum dikonsumsi ataupun bila sudah terlanjur masuk perut. Jangan ragu untuk mencobanya.
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
Bau tajam petai memang bukan hanya sebatas urusan mulut. Sisa terakhirnya pun harus dibuang dengan hati-hati. Apalagi kalau di tempat umum atau sedang bertandang di rumah orang. Bisa membuat repot tuan rumah.
“Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.” Adegium lama yang sangat dipatuhi penggemar petai. Walaupun sikap seperti itu kadang-kadang menjadi bumerang yang dapat memalukan diri sendiri.
Namun demikian penggemar petai tidak berkurang karena termakan zaman, malah terus berkembang. Padahal pergaulan sekarang berbanding terbalik dengan bau pesing itu. Oleh karena itu berbagai upaya dilakukan untuk meredam bom bau yang ditimbulkan sementara kenikmatan petai tetap dirasakan.
Dengan rekayasa genetika mungkin suatu saat bisa tercipta petai dengan bau yang lebih dikehendaki. Tapi akan sangat mahal dan masih perlu menunggu waktu. Atau mungkin juga akan mengurangi cita rasa yang menjadi makna dasar petai itu sendiri. Petai tanpa bau adalah bukan petai, hanya serupa.
Sambil menunggu teknologi terapan itu mencapai sasaran, maka untuk menikmati petai dengan bau yang agak berkurang dapat ditempuh dengan berbagai cara, baik sebelum petai dikonsumsi maupun sesudah remah di dalam perut.
Untuk mengurangi ketajaman bau petai dengan sedikit mungkin mengurangi daya tarik selera maka dapat dilakukan beberapa cara seperti :
a. Petai Bakar
Petai segar dibakar secara langsung di perapian sampai timbul gelembung kecil bagian luar kulitnya dan terbakar. Bau tajamnya semakin berkurang dengan menghitamnya kulit petai. Hati-hati saja, kalau kelewat hitam bisa menjadi arang.
b. Petai Panggang
Untuk menghindari terlalu matangnya petai maka dapat dilakukan dengan memanggang baik dengan cara seperti membakar sate ataupun mmenaruhnya di atas seng tanpa diberi minyak seperti mensangrai. Selain menghindarkan hangusnya petai, cara sederhana dengan cara kedua ini menghasilkan petai yang lebih renyah.
c. Petai Goreng
Masyarakat Sumatera Barat biasa menggoreng petai berkulit yang telah dipotong-potong dan menuanginya dengan tumbukan cabai keriting. Jadilah sambal bumbu petai yang sangat lezat. Apalagi bila ditaburi dengan ikan bilih yang sudah dikeringkan, atau setidaknya ikan teri yang tidak asin.
Untuk menjadikannya sebagai teman sambal maka sebelum digoreng dikupas dulu kulitnya. Selain tidak terlalu mengubah cita rasa, baunya pun relatif berkurang dengan sedikit resiko kegosongan. Kematangan petainya pun dapat disesuaikan dengan selera.
d. Petai Kukus
Cara ini merupakan metode pengurangan bau petai yang paling sering dilakukan di Pulau Jawa, termasuk di Jawa Barat yang dikenal doyan mentahan. Pengukusan bukan hanya mengurangi bau hangseur tetapi juga menghilangkan rasa renyah. Petai kukusan melepes. Tapi kalau anda suka, apa salahnya.
Bagi sebagian orang, keempat perlakuan seperti di atas akan dapat mengganggu selera. Petai segar memang sangat menggoda walalupun baunya sering tidak dapat dihindarkan. Bahkan setelah petai dikukus, dibakar ataupun digoreng maka problema belumlah berakhir, bahkan merupakan awal dari permasalahan bau selanjutnya.
Ada beberapa cara agar problema bau ini dapat dikurangi, baik efeknya yang langsung terasa sebagai bau mulut ataupun kelanjutannya yang berhubungan dengan kamar kecil, yaitu dengan mengkonsumsi atau hanya mengunyah bahan makanan lain yang sudah akrab di sekitar kita seperti :
a. Teh
Teh dapat mengurangi bau yang ditinggalkan petai. Dapat sebagai seduhan kental setelah mengkonsumsi petai atau hanya menguyahnya mentah-mentah seperti sirih. Rasa pahit yang ditimbulkan sebanding dengan bau mulut yang kembali segar dan berkurangnya bau yang mengganggu kamar kecil.
b. Kopi
Selain teh maka kopi pun dapat digunakan dengan cara yang sama bila anda menyukainya dan tidak ada masalah kesehatan. Bahkan masyarakat telah terbiasa menggunakan kopi untuk menumpas bau yang tidak sedap, bukan hanya urusan petai.
c. Mentimun
Sambil menyelam minum susui, begitulah kalau kita memadu lalapan petai dengan mentimun. Bukan hanya keduanya menimbulkan cita rasa baru tetapi juga bau yang biasanya timbul setelah makan petai sirna. Bau mulut tidak lagi menjadi masalah, demikian juga problema kamar kecil.
Bila tidak suka dengan paduan keduanya, mentimun pun dapat dilalap secara tunggal di akhir hidangan. Bahkan walaupun dikonsumsi beberapa jam setelah petai bersarang di perut, pengaruh mentimun menumpas bau masih sangat kuat.
Kalau tidak suka mentimun segar bisa juga dibuat acar ataupun mengukusnya. Namun kalau ada permasalahan kesehatan, hati-hati sedikit.
d. Kacang panjang
Kalau tak ada rotan, akar pun berguna. Bila tidak ada mentimun atau karena alasan lain maka kacang panjang akan sangat membantu menghilangkan bau petai. Sama seperti mentimun, kacang panjang tidak harus dikonsumsi bersamaan dengan petai.
Beberapa cara sederhana di atas terbukti dapat mengurangi bau petai baik sebelum dikonsumsi ataupun bila sudah terlanjur masuk perut. Jangan ragu untuk mencobanya.
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
BALADA FACEBOOK
Dalam sebuah situs pertemanan, ajakan untuk bergabung dalam suatu club adalah biasa. Bahkan club-club bermunculan seiring perkembangan anggota situs yang semakin meningkat. Berbagai keistimewaan, kesamaan, identitas diri dan berbagai kepentingan lain, menjadi alas an terbentuknya sebuah club.
Tetapi, adalah sebuah keganjilan, ketika sebuah club terbentuk untuk melawan situs pertemanan yang menjadi ajang penyambung lidah selama ini. Di Facebook (FB) tiba-tiba muncul sebuah ajkan untuk bergabung dalam club yang menolak salah satu kebijakan yang akan diterapkan situs ini kepada para pemakainya.
KAMI TIDAK MAU BAYAR 150ribu/bln FAEEBOOK /Juli 2010 (butuh 1 JUTA member) Terima kasih atas Dukungan teman-teman semua. KAMI TIDAK MAU MEMBAYAR FACEBOOK !!! KAMI MAU TETAP GRATIS !!!
Sesungguhnya, pengenaan biaya adalah hal yang wajar dikenakan produsen kepada konsumen. Pembayaran atas pelayanan yang diberikan server terhadap berbagai manfaat yang dirasakan oleh pemakai, memang seharusnya ada imbal-balik seperti itu. Demikianlah hukum perdagangan, ada produsen dan konsumen serta barang yang menjadi komoditi pengubung keduanya sehingga terjadi transaksi.
Tidak dapat dipungkiri hukum dagang yang umurnya ber-abad-abad itu masih berlaku hingga sekarang. Tentu saja diiringi dengan berbagai perkembangannya hingga sekarang kebanyakan konsumen sesungguhnya membeli barang/jasa yang tidak pernah dibutuhkannya. Tiga hal yang tetap adalah, produsen , konsumen dan barang/jasa yang ditransaksikan.
Untuk menghasilkan sebuah produk, produsen memerlukan biaya yang tidak sedikit. Demikian juga situs pertemanan Facebook, bukan hanya dibayar mahal pendirinya, Mark Zuckerberg, yang harus hengkang dari perguruan tinggi favorit tempatnya, Harvard University tetapi juga diperlukan pendanaan tidak sedikit . Modal awalnya saja lebih dari 13 juta dollar, yang beasal dari 2 investor, Peter Thiel dan Jim Breyer.
Para investor Facebook tentu sangat senang, situs yang didanainya berkembang sedemikian pesat. Perkembangan anggotanya membludak, membawa mereka menenbus batas dunia dan melintasi kepopuleran situs sejenis lainnya seperti MySpace, Friendster, Twitter, Orkut, hi5 dan lain-lain.
Sebuah keputusan berinvestasi ditanamkan adalah bukan hanya demi bertumbuhkembangnya sebuah perusahaan tetapi harapan jangka panjangnya adalah hadirnya bunga dan buah yang bisa dipetik. Oleh Karena itu, sudah sewajarnya para penikmat Facebook pun berkontribusi terhadap pengorbanan para investor setelah menikmati berbagai layanan yang diberikan.
Jika saja pengguna yang aktif situs pertemanan ini 5 juta orang dan duapuluh preosen diantaranya dapat memaklumi keputusan pengelola maka denga biaya Rp. 150.000/bulan dalam 1 tahun akan terkumpul dana Rp. 1.800.000.000.000,- atau Rp. 1,8 trilyun. Jika dikonversikan ke dalam mata uang Paman San, sekitar US $ 180 juta. Sebuah angka yang fantastis ! bahkan ketika angka ketaatan hanya sepersepuluh dari angka tersebutpun, keuntungan financial yang diraih tidak sedikit.
Tetapi permasalahannya adalah bahwa penikmat Facebook sudah terbiasa memanfaatkan situs ini secara gratis. Hal itu sesungguhnya tidak terlalu penting bagi facebook, konsumen sudah terikat dan tinggal dijerat dengan kepentingan tertentu. Salah satunya kepentingan untuk menghasilkan laba bagi para investornya.
Permasalahan penting sesungguhnya adalah bahwa tidak dapat dipungkiri bahwa di dunia maya terdapat banyak fasilitas yang dapat dinikmati secara cuma-cuma. Salah satunya adalah situs pertemanan ini. Mendengar aka nada kebijakan yang berlaku bulan Juli 2010 nanti saja akan banyak pengguna Facebook yang berpikir untuk beralih ke situs pertemanan yang lain, yang masih gratis.
Ketika kebijakan pengenaan dana itu diberlakukan, maka akan banyak sekali dampaknya terhadap perkembangan anggota Facebook. Efek domino terjadi sedemikian cepat dan tak beraturan, hengkangnya seorang anggota diikuti dengan puluhan yang lain dan seterusnya.
Penerapan kebijakan ini menjadikan pengguna yang terbiasa gratis menjadi harus berpikir ekonomis. Tidak mengherankan apabila kebanyakan anggota berpikir lebih baik hengkang dan beralih kepada yang lain daripada harus membayar secara rutin Rp. 150.000,bulan.
Tetapi yang lebih penting adalah bahwa kebijakan ini menyebabkan Facebook kembali kepada masa silam. Perdagangan masa lalu ketika setiap konsumen harus membayar secara “blug-bleg” segala barang dan jasa yang dinikmatinya.
Jelas, bahwa hal ini adalah sesuatu yang tepat menurut hukum dagang seperti diuraikan dimuka. Tetapi, Facebook lupa bahwa seni marketing telah sedemikian berkembang, bukan hanya kebanyakan konsumen rela mengeluarkan kepemilikannya demi sesuatu yang sesungguhnya tidak dibutuhkannya tetapi juga pelaku pasar berlomba menemukan formula agar konsumen tidak sadar bahwa sesungguhnya dia membayar apa yang dinikmatinya.
Facebook juga sebenarnya sudah mencapai strategi marketing yang disebutkan terakhir, para pengguna sedemikian asyik membuang waktu di hadapan monitor. Tanpa terasa, para pengguna yang ketagihan sesungguhnya membayar saangat mahal apa yang dinikmatinya.
Tidak mengherankan akalau ada sebuah kebijakan dari Pemerintah Kota Cirebon yang memblokir situs pertemanan di jam kerja. Karena memang banyak karyawan yang melakukan kegiatan ini di sela-sela pekerjaannya atau bahkan sampai bisa lupa pekerjaan yang harus diselesaikanya. Banyak cerita dan pengalaman tentang banyaknya waktu terbuang oleh aktivitas pertemanan di dunia maya dengan berbagai dampak negative ataupun kueuntungannya.
“Waktu adalah uang !” Sebuah adegium lama ini mudah-mudahan mengingatkan facebook akan banyaknya “uang” yang telah dikorbankan pengguna demi tetap jalannya dapur situs pertemanan ini. Jadi sangat masuk akal kalau sebagian besar anggota lebih baik hengkang darpipada harus iuran bulanan.
Lantas, apa yang harus dilakukan Facebook untuk mengalirkan keuntungan financial tanpa harus membebani pengguna secara berlipatganda ? Diperlukan cara cerdas untuk menghadapi situasi persaingan yang semakin tanpa batas seperti sekarang ini.
Salah satu solusinya adalah dengan mengalihkan sumber biaya yang semula akan diberikan kepada pengguna kepada pemasang iklan. Kolom-kolom bernilai milyaran dollar masih sangat terbuka di beranda Facebook. Peluang inilah yang seharusnya dilirik menjadi sumber dollar.
Puluhan juta pasang mata adalah pangsa pasar yang sangat besar dari produk yang iklannya ditayangkan. Memang tidak semua iklan akan di-klik pengguna, apalagi untuk membeli produknya. Tetapi iklan tetaplah iklan sebuah sumber uang yang sangat besar, tergantung facebook mencerdasinya.
Pengguna akan dengan rela kalau harus meng-klik satu iklan untuk membuka situs pertemanan, demikian juga ketika diingatkan bahwa sudah satu jam menggunakan jasa Facebook tetapi tak berkontribusi terhadap perusahaan, meng-klik iklan berikutnya. Sebuah simbiosa mutualisma yang saling menguntungkan.
Bahkan Facebook akan kebanjiran pengguna jika saja membuat program baru, “Klick Iklan Raih Uang.” Sudah banyak situs lain yang memberikan keuntungan financial kepada pengguna hanya dengan mengklik iklan. Mereka hanyalah situs-situs kecil, jauh dibawah popularitas Facebook dan populasi Facebookers.
Kalau saja asumsi di atas diterapkan, maka kebijakan penarikan setoran dari pengguna Facebook bisa berubah menjadi distribusi uang dari Facebook kepada para pemakai. Bukan hanya itu, Facebook juga membuka banyak lapangan kerja, mulai dari tim kreatif penyusun iklan sampai jajaran penyelenggara di setiap wilayah dan negara.
Tetapi, jika Facebook tetap mau menerapkan rencananya, maka sesungguhnya juga membuka lapangan kerja baru. Terbuka peluang lebar bagi manusia kreatif untuk merancang sebuah situs pertemanan baru, yang bukan hanya gratis tetapi juga menguntungkan secara financial para penggunannya.
Peluang besar itu akan benar-benar terbuka karena efek domino tak terkendali akan terjadi pada kasus hengkangnya para anggota Facebook. Disebut “tak terkendalI” karena pada aturan main kartu domino, satu mata kartu hanya boleh disambungkan dengan satu mata kartu yang sama. Tetapi pada kasus ini tidak demikian, perginya satu anggota facebook akan disambut oleh puluhan atau ratusan sahabatnya, demikian juga seterusnya sehingga menjadi suatu rantai yang besarnya tak terkendali.
Jika hal terburuk ini terjadi, memang Facebook akan menjadi pahlawan. Tetap menjadi pahlawan yang patut dikenang karena telah menghubungkan jutaan pasang mata dengan banyak teman dan orang-orang yang selama ini hilang dari ingatan.
Terimakasih Facebook, keputusan ada di tanganmu. Termasuk memutuskan puluhan juta penggemar dari situsmu.
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
Tetapi, adalah sebuah keganjilan, ketika sebuah club terbentuk untuk melawan situs pertemanan yang menjadi ajang penyambung lidah selama ini. Di Facebook (FB) tiba-tiba muncul sebuah ajkan untuk bergabung dalam club yang menolak salah satu kebijakan yang akan diterapkan situs ini kepada para pemakainya.
KAMI TIDAK MAU BAYAR 150ribu/bln FAEEBOOK /Juli 2010 (butuh 1 JUTA member) Terima kasih atas Dukungan teman-teman semua. KAMI TIDAK MAU MEMBAYAR FACEBOOK !!! KAMI MAU TETAP GRATIS !!!
Sesungguhnya, pengenaan biaya adalah hal yang wajar dikenakan produsen kepada konsumen. Pembayaran atas pelayanan yang diberikan server terhadap berbagai manfaat yang dirasakan oleh pemakai, memang seharusnya ada imbal-balik seperti itu. Demikianlah hukum perdagangan, ada produsen dan konsumen serta barang yang menjadi komoditi pengubung keduanya sehingga terjadi transaksi.
Tidak dapat dipungkiri hukum dagang yang umurnya ber-abad-abad itu masih berlaku hingga sekarang. Tentu saja diiringi dengan berbagai perkembangannya hingga sekarang kebanyakan konsumen sesungguhnya membeli barang/jasa yang tidak pernah dibutuhkannya. Tiga hal yang tetap adalah, produsen , konsumen dan barang/jasa yang ditransaksikan.
Untuk menghasilkan sebuah produk, produsen memerlukan biaya yang tidak sedikit. Demikian juga situs pertemanan Facebook, bukan hanya dibayar mahal pendirinya, Mark Zuckerberg, yang harus hengkang dari perguruan tinggi favorit tempatnya, Harvard University tetapi juga diperlukan pendanaan tidak sedikit . Modal awalnya saja lebih dari 13 juta dollar, yang beasal dari 2 investor, Peter Thiel dan Jim Breyer.
Para investor Facebook tentu sangat senang, situs yang didanainya berkembang sedemikian pesat. Perkembangan anggotanya membludak, membawa mereka menenbus batas dunia dan melintasi kepopuleran situs sejenis lainnya seperti MySpace, Friendster, Twitter, Orkut, hi5 dan lain-lain.
Sebuah keputusan berinvestasi ditanamkan adalah bukan hanya demi bertumbuhkembangnya sebuah perusahaan tetapi harapan jangka panjangnya adalah hadirnya bunga dan buah yang bisa dipetik. Oleh Karena itu, sudah sewajarnya para penikmat Facebook pun berkontribusi terhadap pengorbanan para investor setelah menikmati berbagai layanan yang diberikan.
Jika saja pengguna yang aktif situs pertemanan ini 5 juta orang dan duapuluh preosen diantaranya dapat memaklumi keputusan pengelola maka denga biaya Rp. 150.000/bulan dalam 1 tahun akan terkumpul dana Rp. 1.800.000.000.000,- atau Rp. 1,8 trilyun. Jika dikonversikan ke dalam mata uang Paman San, sekitar US $ 180 juta. Sebuah angka yang fantastis ! bahkan ketika angka ketaatan hanya sepersepuluh dari angka tersebutpun, keuntungan financial yang diraih tidak sedikit.
Tetapi permasalahannya adalah bahwa penikmat Facebook sudah terbiasa memanfaatkan situs ini secara gratis. Hal itu sesungguhnya tidak terlalu penting bagi facebook, konsumen sudah terikat dan tinggal dijerat dengan kepentingan tertentu. Salah satunya kepentingan untuk menghasilkan laba bagi para investornya.
Permasalahan penting sesungguhnya adalah bahwa tidak dapat dipungkiri bahwa di dunia maya terdapat banyak fasilitas yang dapat dinikmati secara cuma-cuma. Salah satunya adalah situs pertemanan ini. Mendengar aka nada kebijakan yang berlaku bulan Juli 2010 nanti saja akan banyak pengguna Facebook yang berpikir untuk beralih ke situs pertemanan yang lain, yang masih gratis.
Ketika kebijakan pengenaan dana itu diberlakukan, maka akan banyak sekali dampaknya terhadap perkembangan anggota Facebook. Efek domino terjadi sedemikian cepat dan tak beraturan, hengkangnya seorang anggota diikuti dengan puluhan yang lain dan seterusnya.
Penerapan kebijakan ini menjadikan pengguna yang terbiasa gratis menjadi harus berpikir ekonomis. Tidak mengherankan apabila kebanyakan anggota berpikir lebih baik hengkang dan beralih kepada yang lain daripada harus membayar secara rutin Rp. 150.000,bulan.
Tetapi yang lebih penting adalah bahwa kebijakan ini menyebabkan Facebook kembali kepada masa silam. Perdagangan masa lalu ketika setiap konsumen harus membayar secara “blug-bleg” segala barang dan jasa yang dinikmatinya.
Jelas, bahwa hal ini adalah sesuatu yang tepat menurut hukum dagang seperti diuraikan dimuka. Tetapi, Facebook lupa bahwa seni marketing telah sedemikian berkembang, bukan hanya kebanyakan konsumen rela mengeluarkan kepemilikannya demi sesuatu yang sesungguhnya tidak dibutuhkannya tetapi juga pelaku pasar berlomba menemukan formula agar konsumen tidak sadar bahwa sesungguhnya dia membayar apa yang dinikmatinya.
Facebook juga sebenarnya sudah mencapai strategi marketing yang disebutkan terakhir, para pengguna sedemikian asyik membuang waktu di hadapan monitor. Tanpa terasa, para pengguna yang ketagihan sesungguhnya membayar saangat mahal apa yang dinikmatinya.
Tidak mengherankan akalau ada sebuah kebijakan dari Pemerintah Kota Cirebon yang memblokir situs pertemanan di jam kerja. Karena memang banyak karyawan yang melakukan kegiatan ini di sela-sela pekerjaannya atau bahkan sampai bisa lupa pekerjaan yang harus diselesaikanya. Banyak cerita dan pengalaman tentang banyaknya waktu terbuang oleh aktivitas pertemanan di dunia maya dengan berbagai dampak negative ataupun kueuntungannya.
“Waktu adalah uang !” Sebuah adegium lama ini mudah-mudahan mengingatkan facebook akan banyaknya “uang” yang telah dikorbankan pengguna demi tetap jalannya dapur situs pertemanan ini. Jadi sangat masuk akal kalau sebagian besar anggota lebih baik hengkang darpipada harus iuran bulanan.
Lantas, apa yang harus dilakukan Facebook untuk mengalirkan keuntungan financial tanpa harus membebani pengguna secara berlipatganda ? Diperlukan cara cerdas untuk menghadapi situasi persaingan yang semakin tanpa batas seperti sekarang ini.
Salah satu solusinya adalah dengan mengalihkan sumber biaya yang semula akan diberikan kepada pengguna kepada pemasang iklan. Kolom-kolom bernilai milyaran dollar masih sangat terbuka di beranda Facebook. Peluang inilah yang seharusnya dilirik menjadi sumber dollar.
Puluhan juta pasang mata adalah pangsa pasar yang sangat besar dari produk yang iklannya ditayangkan. Memang tidak semua iklan akan di-klik pengguna, apalagi untuk membeli produknya. Tetapi iklan tetaplah iklan sebuah sumber uang yang sangat besar, tergantung facebook mencerdasinya.
Pengguna akan dengan rela kalau harus meng-klik satu iklan untuk membuka situs pertemanan, demikian juga ketika diingatkan bahwa sudah satu jam menggunakan jasa Facebook tetapi tak berkontribusi terhadap perusahaan, meng-klik iklan berikutnya. Sebuah simbiosa mutualisma yang saling menguntungkan.
Bahkan Facebook akan kebanjiran pengguna jika saja membuat program baru, “Klick Iklan Raih Uang.” Sudah banyak situs lain yang memberikan keuntungan financial kepada pengguna hanya dengan mengklik iklan. Mereka hanyalah situs-situs kecil, jauh dibawah popularitas Facebook dan populasi Facebookers.
Kalau saja asumsi di atas diterapkan, maka kebijakan penarikan setoran dari pengguna Facebook bisa berubah menjadi distribusi uang dari Facebook kepada para pemakai. Bukan hanya itu, Facebook juga membuka banyak lapangan kerja, mulai dari tim kreatif penyusun iklan sampai jajaran penyelenggara di setiap wilayah dan negara.
Tetapi, jika Facebook tetap mau menerapkan rencananya, maka sesungguhnya juga membuka lapangan kerja baru. Terbuka peluang lebar bagi manusia kreatif untuk merancang sebuah situs pertemanan baru, yang bukan hanya gratis tetapi juga menguntungkan secara financial para penggunannya.
Peluang besar itu akan benar-benar terbuka karena efek domino tak terkendali akan terjadi pada kasus hengkangnya para anggota Facebook. Disebut “tak terkendalI” karena pada aturan main kartu domino, satu mata kartu hanya boleh disambungkan dengan satu mata kartu yang sama. Tetapi pada kasus ini tidak demikian, perginya satu anggota facebook akan disambut oleh puluhan atau ratusan sahabatnya, demikian juga seterusnya sehingga menjadi suatu rantai yang besarnya tak terkendali.
Jika hal terburuk ini terjadi, memang Facebook akan menjadi pahlawan. Tetap menjadi pahlawan yang patut dikenang karena telah menghubungkan jutaan pasang mata dengan banyak teman dan orang-orang yang selama ini hilang dari ingatan.
Terimakasih Facebook, keputusan ada di tanganmu. Termasuk memutuskan puluhan juta penggemar dari situsmu.
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
Senin, 14 Juni 2010
"JANGAN KIRIM KIYAI KAMI KE NERAKA !"
Judul di atas tidaklah sekedar mainan kata, karena saya mengucapkannya di sebuah forum resmi dan ditunjukkan kepada seorang pejabat tinggi negeri ini, Direktur Ruminansia Direktorat Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Bukan tanpa alasan kalau kata-kata pedas itu harus meluncur. Rangkaian kata tanpa basa-basi itu terucap dari hati yang terdalam. Ucapan pahit itu adalah perwujudan perasaan getir yang tak akan mungkin bisa terobati. Kalimat tak berarti itu merupakan bentuk keprihatinan seorang yang tak berdaya di antara kerumunan kedigdayaan yang dihadapinya.
Saya sampaikan kepada beliau akan kehebatan program LM3 (Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat). Sebuah program bantuan keuangan yang ditunjukkan kepada lembaga seperti pesantren, paroki dan lain-lain. Tujuannya sangat mulia, memberdayakan lembaga keagamaan itu melalui usaha pertanian. Tetapi permasalahannya adalah bahwa pada kenyataannya penggunaan dana usaha yang diberikan kebanyakan tidak sesuai sebagaimana mestinya.
Saya menjelaskan kepada beliau tentang dana LM3 sekitar Rp. 1 milyar yang sudah diterima beberapa pesantren di Kabupaten Indramayu dalam 3 tahun terakhir (2006, 2007 dan 2008). Hampir semuanya digunakan untuk usaha sapi potong. Dan, hampir semuanya amburadol. Anggapan ini sangatlah tepat karena hanya 1 pesantren yang menjalankan usaha sapi potong dengan benar.
Dari hasil monitoring awal 2009 itu menunjukkan bahwa hanya seorang Kiyai di Gabuswetan saja yang membelanjakan uang yang diterimanya sejumlah Rp. 70 juta untuk membeli 11 ekor sapi dan membiakkannya. Sisanya, melambungkan harga sapi. Dana sejumlah itu hanya dapat dibelikan 3 atau 4 ekor sapi atau bahkan ada yang tidak dapat membuktikan sapinya ada dimana dan berapa jumlahnya. Termasuk mereka yang mendapatkan alokasi ratusan juta rupiah.
Ada juga Kiyai yang tidak mau mempertanggungjawabkannya karena tidak mau bohong. Dana hampir seperempat milyar rupiah yang diterima melalui rekening pesantrennya tidak semua digunakan untuk usaha produktif pesantren yang gagal total. Kegagalan usaha pun bukan salah mereka karena memang proposal awalnya juga permintaan dana untuk pembuatan gedung pesantren. Kalau tiba-tiba berubah jadi proposal usaha ternak sapi potong dan dapat kucuran dana dari Kementerian Pertanian, itulah yang menyebabkan mereka pun harus merelakan separuh uang yang diterimanya diambil lagi oleh seseorang yang mengurusnya.
Dalam kekalutan kadang ada birokrat yang mendekat, ironisnya bukan membantu menyelesaikan masalah tetapi minta bagian, 2 ekor saja ! Itulah sebabnya beliaupun alergi dengan birokrasi yang tidak pernah disentuhnya untuk mendapatkan dana hibah yang sangat besar tersebut.
Informasi yang diterima pihak pesantren tentang dana juga sangat seragam. Hibah ! Pemberian secara cuma-cuma yang tidak perlu dikembalikan. Dana amal pemberian seorang Menteri yang muslim kepada sesama ummat-Nya. Beramal kok dilarang ? Ceramah mereka tidak semua salah, karena berdasarkan Pedoman Umum dana tersebut memang tidak perlu dikembalikan, tetapi apapun alasannya, uang negara hak seluruh masyarakat Indonesia yang multi agama itu harus bisa dipertanggungjawabkan penggunaannya. Dana HIBAH bukanlah uang HIlang BAH !
Keprihatinan saya memuncak ketika tak lama kemudian datang Tim Verifikasi LM3 dari Direktorat Jenderal Peternakan, dari 4 pesantren yang diverifikasi ternyata hanya 1 yang sebelumnya direkomendasi Dinas Pertanian dan Peternakan. Sisanya tidak melalui prosedur yang ditetapkan, bahkan satu diantaranya malah salah alamat (seharusnya di Kabupaten Cirebon tetapi dalam lampiran Surat Tugas Tim Verifikasi tertera di Kabupaten Indramayu).
Secara akal sehat sangat tidak mungkin 2 pesantren itu bisa lolos seleksi Tim Kementerian Pertanian. Pedoman Umum yang mereka terbitkan jelas-jelas mencantumkan keharusan mendapatkan rekomendasi dari dinas terkait di Kabupaten/Kota. Apakah berlaku anekdot, "Aturan hanya berlaku untuk yang diatur !" Pembuat bukan termasuk di dalamnya ?
“Kalau dana untuk 2 pesantren yang tidak direkomendasikan itu dapat dicairkan.” Saya berani berujar keras, “Maka sebagai konsekuensinya, hubungan tentang segala sesuatnya adalah langsung antara Kementerian Pertanian dengan pesantren ! Tanpa melibatkan kami di kabupaten sama sekali.”
Kelancangan saya jelas mengundang kemarahan seorang pejabat tinggi, “Coret Indramayu !” Serunya, “Masih banyak daerah lain yang memerlukan !”
Banyak muka yang mengkered mendengar ucapan saya saat itu, tidak sedikit yang mencibir, tidak terhitung mereka yang membuang muka, namun ada juga yang membesarkan hati, “Saya sangat setuju pendapat Anda tetapi Allah tidak memberi keberanian untuk ngomong sedikitpun masalah yang merugikan kami itu !”
Jelas, ucapan saya ini bukanlah pesanan dari kepala dinas. Bahkan mungkin melukai beliau. Ucapan garang itu semata-mata meluncur karena sebagai bagian dari masyarakat, maka sangat tidak tega kalau suatu saat harus menyaksikan pimpinan ummat duduk di kursi pesakitan. Apalagi kalau mesti membesuk mereka di balik terali besi. Neraka dunia !
Sesungguhnya penyimpangan bukan semata-mata karena pelaksanaannya yang tidak becus tetapi sudah bermula dari proses penyusunan proposal. Informasi yang diterima Kiyai dan pimpinan pondok pesantren bukan barang gratis, tidak sedikit yang datang memberikan informasi plus. Sekalian jasa pembuatan proposal, menguruskannya sampai pusat dan mendapatkan alokasi dana ! Imbalannya tidak seberapa, paling cuma secuil. Bukankah mereka juga menerima dana dengan modal cuma-cuma ?
Tidak mengherankan kalau banyak Kiyai yang tertarik dengan informasi yang setengah gratis itu. Cukup memberikan kop pesantren, semua beres. Tanpa harus berpikir rumit, proposal lengkap pun jadi, pimpinan pesantren bisa langsung tandatangan dan cap. Bahkan rekomendasi dari dinas/instansi terkait pun sudah jadi, lengkap dengan kop surat sehingga kepala dinas tinggal ret-kotret tandatangan.
Setelah melalui proses formal seperti verifikasi dan pelatihan serta berbagai perjanjian maka dana pun cair, langsung masuk ke rekening pesantren dan bisa dicairkan tanpa harus melalui rekomendasi siapapun. Sangat mudah. Kemudahan mendapatkan dana itulah yang menyebabkan mereka pun gampang mengeluarkan dana, termasuk membayar jasa pembuatan proposal yang sebenarnya sangat tidak sedikit.
Alhamdulillah, hanya 1 pesantren yang mendapat alokasi bidang peternakan pada tahun 2009. Walau tidak sedikit dana yang diterima, Rp. 256 juta tetapi sangat tidak sedikit dana tambahan yang harus dialokasikan oleh Pak Dedi Wahidi untuk mewujudkan usaha ternak sapi potong yang didambakannya. Jadilah sekarang peternakan di Pesantren Modern Darul Ma’arif Karangampel itu bisa dibanggakan.
Sementara rekan yang mengurus LM3 bidang pertanian kebingungan. Dari 16 pesantren yang diverifikasi hanya 1 saja yang sebelumnya direkomendasi. Berbagai pihak pun mendesak agar keseluruhan pesantren itu di-approve. Dan, dana untuk keenambelas pesantrenpun cair. Tidak terlalu besar, hanya Rp. 70 juta per-pesantren. Tapi keseluruhannya, ya, milyaran juga.
Sesungguhnya gejala “sakit” sejak awal bisa dideteksi, keberhasilan masa lalu yang mendekati level terendah adalah bukti nyata. Namun hal penting itu seakan terbias karena ada kerjasama saling menguntungkan diantara sesama pengelola pesantren sampai pihak Kementerian Pertanian, atau bahkan campur tangan dari gedung rakyat yang terhormat.
Awalnya semua pun berjalan aman-aman saja. Tahun baru pun diawali dengan pesta menghabiskan dana hibah milyaran rupiah. Keyakinan akan anggapan mereka semakin kuat, instansi di kabupaten hanya mempersulit mereka dalam mendapatkan dana hibah dari sesama ummat itu. Ada SMS yang nadanya sangat mengejek sehingga bagi saya pribadi lebih layak untuk di-ject ! Sebagai dampaknya, jangan heran kalau tahun ini akan ada banyak pesantren yang proposalnya sampai ke Kementerian Pertanian tanpa direkomendasi dinas terkait.
Permasalahan baru terkuak ketika Tim Monitoring Evaluasi dari Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian turun ke lapangan. Berbagai kegagalan program terungkap, mulai dari pelanggaran administrasi sampai teknis penerapannya. Bahkan praktek percaloan pembuatan proposal yang berusaha ditutup-tutupi dan berhasil ditutup, akhirnya dikuak oleh salah satu diantara mereka yang semula mau jadi pahlawan. Nama ALLAH yang Maha Besar dijadikan alat mengangkat sumpah sekaligus saksi serapah ucapan seorang pimpinan ummat.
Dengan tetap mengedepankan azas praduga tak bersalah, hari ini, Rabu 16 Oktober 2010, kegetiran yang sangat memilukan itu terjadi. Seorang pemimpin ummat harus duduk di kursi terdakwa Pengadilan Negeri Indramayu !
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
Bukan tanpa alasan kalau kata-kata pedas itu harus meluncur. Rangkaian kata tanpa basa-basi itu terucap dari hati yang terdalam. Ucapan pahit itu adalah perwujudan perasaan getir yang tak akan mungkin bisa terobati. Kalimat tak berarti itu merupakan bentuk keprihatinan seorang yang tak berdaya di antara kerumunan kedigdayaan yang dihadapinya.
Saya sampaikan kepada beliau akan kehebatan program LM3 (Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat). Sebuah program bantuan keuangan yang ditunjukkan kepada lembaga seperti pesantren, paroki dan lain-lain. Tujuannya sangat mulia, memberdayakan lembaga keagamaan itu melalui usaha pertanian. Tetapi permasalahannya adalah bahwa pada kenyataannya penggunaan dana usaha yang diberikan kebanyakan tidak sesuai sebagaimana mestinya.
Saya menjelaskan kepada beliau tentang dana LM3 sekitar Rp. 1 milyar yang sudah diterima beberapa pesantren di Kabupaten Indramayu dalam 3 tahun terakhir (2006, 2007 dan 2008). Hampir semuanya digunakan untuk usaha sapi potong. Dan, hampir semuanya amburadol. Anggapan ini sangatlah tepat karena hanya 1 pesantren yang menjalankan usaha sapi potong dengan benar.
Dari hasil monitoring awal 2009 itu menunjukkan bahwa hanya seorang Kiyai di Gabuswetan saja yang membelanjakan uang yang diterimanya sejumlah Rp. 70 juta untuk membeli 11 ekor sapi dan membiakkannya. Sisanya, melambungkan harga sapi. Dana sejumlah itu hanya dapat dibelikan 3 atau 4 ekor sapi atau bahkan ada yang tidak dapat membuktikan sapinya ada dimana dan berapa jumlahnya. Termasuk mereka yang mendapatkan alokasi ratusan juta rupiah.
Ada juga Kiyai yang tidak mau mempertanggungjawabkannya karena tidak mau bohong. Dana hampir seperempat milyar rupiah yang diterima melalui rekening pesantrennya tidak semua digunakan untuk usaha produktif pesantren yang gagal total. Kegagalan usaha pun bukan salah mereka karena memang proposal awalnya juga permintaan dana untuk pembuatan gedung pesantren. Kalau tiba-tiba berubah jadi proposal usaha ternak sapi potong dan dapat kucuran dana dari Kementerian Pertanian, itulah yang menyebabkan mereka pun harus merelakan separuh uang yang diterimanya diambil lagi oleh seseorang yang mengurusnya.
Dalam kekalutan kadang ada birokrat yang mendekat, ironisnya bukan membantu menyelesaikan masalah tetapi minta bagian, 2 ekor saja ! Itulah sebabnya beliaupun alergi dengan birokrasi yang tidak pernah disentuhnya untuk mendapatkan dana hibah yang sangat besar tersebut.
Informasi yang diterima pihak pesantren tentang dana juga sangat seragam. Hibah ! Pemberian secara cuma-cuma yang tidak perlu dikembalikan. Dana amal pemberian seorang Menteri yang muslim kepada sesama ummat-Nya. Beramal kok dilarang ? Ceramah mereka tidak semua salah, karena berdasarkan Pedoman Umum dana tersebut memang tidak perlu dikembalikan, tetapi apapun alasannya, uang negara hak seluruh masyarakat Indonesia yang multi agama itu harus bisa dipertanggungjawabkan penggunaannya. Dana HIBAH bukanlah uang HIlang BAH !
Keprihatinan saya memuncak ketika tak lama kemudian datang Tim Verifikasi LM3 dari Direktorat Jenderal Peternakan, dari 4 pesantren yang diverifikasi ternyata hanya 1 yang sebelumnya direkomendasi Dinas Pertanian dan Peternakan. Sisanya tidak melalui prosedur yang ditetapkan, bahkan satu diantaranya malah salah alamat (seharusnya di Kabupaten Cirebon tetapi dalam lampiran Surat Tugas Tim Verifikasi tertera di Kabupaten Indramayu).
Secara akal sehat sangat tidak mungkin 2 pesantren itu bisa lolos seleksi Tim Kementerian Pertanian. Pedoman Umum yang mereka terbitkan jelas-jelas mencantumkan keharusan mendapatkan rekomendasi dari dinas terkait di Kabupaten/Kota. Apakah berlaku anekdot, "Aturan hanya berlaku untuk yang diatur !" Pembuat bukan termasuk di dalamnya ?
“Kalau dana untuk 2 pesantren yang tidak direkomendasikan itu dapat dicairkan.” Saya berani berujar keras, “Maka sebagai konsekuensinya, hubungan tentang segala sesuatnya adalah langsung antara Kementerian Pertanian dengan pesantren ! Tanpa melibatkan kami di kabupaten sama sekali.”
Kelancangan saya jelas mengundang kemarahan seorang pejabat tinggi, “Coret Indramayu !” Serunya, “Masih banyak daerah lain yang memerlukan !”
Banyak muka yang mengkered mendengar ucapan saya saat itu, tidak sedikit yang mencibir, tidak terhitung mereka yang membuang muka, namun ada juga yang membesarkan hati, “Saya sangat setuju pendapat Anda tetapi Allah tidak memberi keberanian untuk ngomong sedikitpun masalah yang merugikan kami itu !”
Jelas, ucapan saya ini bukanlah pesanan dari kepala dinas. Bahkan mungkin melukai beliau. Ucapan garang itu semata-mata meluncur karena sebagai bagian dari masyarakat, maka sangat tidak tega kalau suatu saat harus menyaksikan pimpinan ummat duduk di kursi pesakitan. Apalagi kalau mesti membesuk mereka di balik terali besi. Neraka dunia !
Sesungguhnya penyimpangan bukan semata-mata karena pelaksanaannya yang tidak becus tetapi sudah bermula dari proses penyusunan proposal. Informasi yang diterima Kiyai dan pimpinan pondok pesantren bukan barang gratis, tidak sedikit yang datang memberikan informasi plus. Sekalian jasa pembuatan proposal, menguruskannya sampai pusat dan mendapatkan alokasi dana ! Imbalannya tidak seberapa, paling cuma secuil. Bukankah mereka juga menerima dana dengan modal cuma-cuma ?
Tidak mengherankan kalau banyak Kiyai yang tertarik dengan informasi yang setengah gratis itu. Cukup memberikan kop pesantren, semua beres. Tanpa harus berpikir rumit, proposal lengkap pun jadi, pimpinan pesantren bisa langsung tandatangan dan cap. Bahkan rekomendasi dari dinas/instansi terkait pun sudah jadi, lengkap dengan kop surat sehingga kepala dinas tinggal ret-kotret tandatangan.
Setelah melalui proses formal seperti verifikasi dan pelatihan serta berbagai perjanjian maka dana pun cair, langsung masuk ke rekening pesantren dan bisa dicairkan tanpa harus melalui rekomendasi siapapun. Sangat mudah. Kemudahan mendapatkan dana itulah yang menyebabkan mereka pun gampang mengeluarkan dana, termasuk membayar jasa pembuatan proposal yang sebenarnya sangat tidak sedikit.
Alhamdulillah, hanya 1 pesantren yang mendapat alokasi bidang peternakan pada tahun 2009. Walau tidak sedikit dana yang diterima, Rp. 256 juta tetapi sangat tidak sedikit dana tambahan yang harus dialokasikan oleh Pak Dedi Wahidi untuk mewujudkan usaha ternak sapi potong yang didambakannya. Jadilah sekarang peternakan di Pesantren Modern Darul Ma’arif Karangampel itu bisa dibanggakan.
Sementara rekan yang mengurus LM3 bidang pertanian kebingungan. Dari 16 pesantren yang diverifikasi hanya 1 saja yang sebelumnya direkomendasi. Berbagai pihak pun mendesak agar keseluruhan pesantren itu di-approve. Dan, dana untuk keenambelas pesantrenpun cair. Tidak terlalu besar, hanya Rp. 70 juta per-pesantren. Tapi keseluruhannya, ya, milyaran juga.
Sesungguhnya gejala “sakit” sejak awal bisa dideteksi, keberhasilan masa lalu yang mendekati level terendah adalah bukti nyata. Namun hal penting itu seakan terbias karena ada kerjasama saling menguntungkan diantara sesama pengelola pesantren sampai pihak Kementerian Pertanian, atau bahkan campur tangan dari gedung rakyat yang terhormat.
Awalnya semua pun berjalan aman-aman saja. Tahun baru pun diawali dengan pesta menghabiskan dana hibah milyaran rupiah. Keyakinan akan anggapan mereka semakin kuat, instansi di kabupaten hanya mempersulit mereka dalam mendapatkan dana hibah dari sesama ummat itu. Ada SMS yang nadanya sangat mengejek sehingga bagi saya pribadi lebih layak untuk di-ject ! Sebagai dampaknya, jangan heran kalau tahun ini akan ada banyak pesantren yang proposalnya sampai ke Kementerian Pertanian tanpa direkomendasi dinas terkait.
Permasalahan baru terkuak ketika Tim Monitoring Evaluasi dari Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian turun ke lapangan. Berbagai kegagalan program terungkap, mulai dari pelanggaran administrasi sampai teknis penerapannya. Bahkan praktek percaloan pembuatan proposal yang berusaha ditutup-tutupi dan berhasil ditutup, akhirnya dikuak oleh salah satu diantara mereka yang semula mau jadi pahlawan. Nama ALLAH yang Maha Besar dijadikan alat mengangkat sumpah sekaligus saksi serapah ucapan seorang pimpinan ummat.
Dengan tetap mengedepankan azas praduga tak bersalah, hari ini, Rabu 16 Oktober 2010, kegetiran yang sangat memilukan itu terjadi. Seorang pemimpin ummat harus duduk di kursi terdakwa Pengadilan Negeri Indramayu !
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
Kamis, 27 Mei 2010
RAHASIA KEGAGALAN
DARE TO FAIL, judul buku yang tiba-tiba juga sangat menarik perhatian saya. Lagi-lagi buku itu sebenarnya bukan barang baru. Buku ini bernaman Indonesia “BERANI GAGAL A sampai Z” terbitan PT Elex Media Komputindo, tahun 2003. Sekali lagi, belinya juga di BBM Gramedia Group.
Buku karangan pria berpenampilan unik itu, Billi P. S. Lim, merupakan buku yang sangat berbeda pada umumnya. Isinya bukan tentang keberhasilan tetapi tentang “keberanian menghadapi” yang sering dilupakan karena kehadirannya tidak pernah diharapkan.
Uniknya rangkaian “kebaranian menghadapi kegagalan” dalam buku ini disusun alfabetik, ATOZ, A to Z, dari A sampai Z. Diuraikan dalam dua bahasa, dibahasa Indonesiakan oleh Andre W.
Ke-27 dalam menghadapi kejadian yang tidak diharapkan tersebut adalah sebagai berikut :
A. “Achievers fail more times than non-achievers.”
“Orang yang berhasil mengalami lebih banyak kegagalan daripada mereka yang tidak berhasil.”
B. “Bounce back. Everybody trips once in a while. It’s whether you bounce back that counts.”
“Bangkitlah. Setiap orang pernah gagal sesekali. Yang penting Anda harus bangkit.”
C. “Conquer your fears through action. You don’t know what you can’t do until you do it.”
“Taklukan rasa takuy melalui tindakan. Anda tidak tahu apa yang tidak dapat Anda lakukan sampai Anda melakukannya.”
D. “Detach Yourself. When something fails, it’s the event that fails, not you.”
“Bebaskan diri. Ketika gagal, yang gagal itu peristiwanya, bukan Anda.”
E. “Enjoy failure – it’s part of life’s experiences. People who only succeed and never fail experience only half of life.”
“Nikmati kegagalan – justeru itu bagian dari pengalaman hidup. Orang yang hanya mengalami sukses dan tidak pernah gagal hanya mengalami separuh kehidupan.”
F. “Failing in the past does not mean you will fail again in the future.”
“Gagal di masa lalu tidak berarti Anda gagal lagi di kemudian hari.”
G. “God must have loved failures, otherwise why are there more failures than successful people?”
“Tuhan pasti mencintai orang gagal, kalau tidak mengapa ada lebih banyak orang gagal daripada orang sukses ?”
H. “Hold fast to your dreams. Do not let hardship, frustrations or disappointments distract you from your goals.”
“Pertahankan mimpi Anda. Jangan biarkan kesedihan, frustrasi dan kekecewaan menjauhkan Anda dari tujuan.”
I. “Innovate and come up with new ideas when the old ones no longer work. Revise your plans to adapt to new challenges.”
“Inovatiflah dan munculkan ide baru saat ide lama tidak lagi bekerja. Perbaharui rencana Anda untuk bisa beradaptasi dengan tantangan baru.”
J. “Jot down all your ideas and thoughts no matter how crazy they may seem to be. People are called ‘crank’ until their ideas succeed.”
“Tuangkan semua ide dan pemikiran Anda, tak peduli betapa gila tampaknya. Orang disebut ‘sinting’ sampai idenya sukses.”
K. “Know yourself – we are engineered to overcome all odds and obstacles.”
“Kenali diri Anda – kita dirancang untuk mengatasi semua hambatan dan masalah.”
L. “Learn from the failures of others and laugh at your own.”
“Belajarlah dari kegagalan orang lain dan tertawailah kegagalan diri sendiri.”
M. “Mistakes are the toll fees we may have to pay in order to break new limits.”
“Kesalahan adalah biaya tol yang mungkin harus kita bayar untuk memecahkan batasan baru.”
N. “Nobody is free from failures in this world. Only those do nothing worthwhile never fail.”
“Tak seorang pun bebas dari kegagalan di dunia ini. Hanya mereka yang tidak melakukan sesuatu yang berharga tidak pernah gagal.”
O. “Open your eyes, your mind and your heart to opportunities all the time. There are more opportunities today than in any other time in the history mankind.”
“Buka mata, pikiran dan hati Anda pada setiap peluang dan setiap waktu. Ada banyak peluang hari ini daripada waktu lain yang pernah ada dalam sejarah manusia.”
P. “Prepare yourself for all eventualities when you fail. You may have to eat ‘instant’ noodles for breakfast, lunch and dinner.”
“Siapkan diri Anda untuk setiap kemungkinan jika gagal. Anda mungkin harus makan mi instan untuk sarapan, makan siang dan makan malam.”
Q. “Uitters never win. Winners never quit. People don’t fail, they quit.”
“Yang mundur tidak pernah menang. Yang menang tidak pernah mundur. Orang tidak pernah gagal, mereka mundur.”
R. “Risk - People who never fail may have not taken enough risk.”
“Resiko – orang yang tidak pernah gagal mungkin belum mengambil resiko yang cukup.”
S. “Success is at the far side of failure. We always pass a patch called ‘failure’ on our way to success.”
“Sukses terletak di seberang kegagalan, Kita selalu harus melintasi jalan bernama ‘kegagalan’ dalam perjalanan menuju sukses.”
T. “Trying and failing in something is far better than doing and succeeding in nothing.”
“Mencoba dan gagal jauh lebih baik daripada tidak melakukan sesuatu dan sukses.”
U. “Understands that people will blame you for your failures or mistakes – it’s normal. Rejections and criticism are the baptism of fire that make men great.”
“Pahami bahwa orang akan menyalahkan Anda atas kegagalan dan kesalahan Anda – itu normal. Penolakan dan kritikan adalah baptisan api yang menghasilkan orang besar.”
V. “Value your life, never commit suicide. So long as you are alive, there’s always another chance.”
“Hargai hidup Anda, jangan pernah bunuh diri. Selama Anda hidup, selalu ada kesempatan lain.”
W. “Wisdom is the highest reward of failing. There is always something to be gained from everything we experienced. Nothing is ever lost.”
“Kebijaksanaan adalah hadiah paling besar dari kegagalan. Selalu ada yang diraih dari sesuatu yang kita alami. Sebenarnya tidak pernah ada yang hilang.”
X. “X-ray and examine where you went wrong and take a new approach more intelligently.”
“Perhatikan dan pelajari dimana Anda pernah salah dan lakukan pendekatan baru secara lebih cerdik.”
Y. “You and I are responsible for our failures and successes, nobody else is.”
“Anda dan saya bertanggungjawab atas kegagalan dan kesuksesan kita. Bukan orang lain.”
Z. “Zap back your energy and try again with different methods, different approaches, from different directions or in different fields.”
“Kumpulkan kembali kekuattan Anda dan coba lagi dengan metode yang berbeda, pendekatan yang berbeda, dari arah atau medan yang berbeda.”
Semua uraian di atas merupakan obat yang ampuh dalam menghadapi kegagalan yang selalu ada di antara sedikit kesuksesan yang beredar di alam raya ini.
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
Buku karangan pria berpenampilan unik itu, Billi P. S. Lim, merupakan buku yang sangat berbeda pada umumnya. Isinya bukan tentang keberhasilan tetapi tentang “keberanian menghadapi” yang sering dilupakan karena kehadirannya tidak pernah diharapkan.
Uniknya rangkaian “kebaranian menghadapi kegagalan” dalam buku ini disusun alfabetik, ATOZ, A to Z, dari A sampai Z. Diuraikan dalam dua bahasa, dibahasa Indonesiakan oleh Andre W.
Ke-27 dalam menghadapi kejadian yang tidak diharapkan tersebut adalah sebagai berikut :
A. “Achievers fail more times than non-achievers.”
“Orang yang berhasil mengalami lebih banyak kegagalan daripada mereka yang tidak berhasil.”
B. “Bounce back. Everybody trips once in a while. It’s whether you bounce back that counts.”
“Bangkitlah. Setiap orang pernah gagal sesekali. Yang penting Anda harus bangkit.”
C. “Conquer your fears through action. You don’t know what you can’t do until you do it.”
“Taklukan rasa takuy melalui tindakan. Anda tidak tahu apa yang tidak dapat Anda lakukan sampai Anda melakukannya.”
D. “Detach Yourself. When something fails, it’s the event that fails, not you.”
“Bebaskan diri. Ketika gagal, yang gagal itu peristiwanya, bukan Anda.”
E. “Enjoy failure – it’s part of life’s experiences. People who only succeed and never fail experience only half of life.”
“Nikmati kegagalan – justeru itu bagian dari pengalaman hidup. Orang yang hanya mengalami sukses dan tidak pernah gagal hanya mengalami separuh kehidupan.”
F. “Failing in the past does not mean you will fail again in the future.”
“Gagal di masa lalu tidak berarti Anda gagal lagi di kemudian hari.”
G. “God must have loved failures, otherwise why are there more failures than successful people?”
“Tuhan pasti mencintai orang gagal, kalau tidak mengapa ada lebih banyak orang gagal daripada orang sukses ?”
H. “Hold fast to your dreams. Do not let hardship, frustrations or disappointments distract you from your goals.”
“Pertahankan mimpi Anda. Jangan biarkan kesedihan, frustrasi dan kekecewaan menjauhkan Anda dari tujuan.”
I. “Innovate and come up with new ideas when the old ones no longer work. Revise your plans to adapt to new challenges.”
“Inovatiflah dan munculkan ide baru saat ide lama tidak lagi bekerja. Perbaharui rencana Anda untuk bisa beradaptasi dengan tantangan baru.”
J. “Jot down all your ideas and thoughts no matter how crazy they may seem to be. People are called ‘crank’ until their ideas succeed.”
“Tuangkan semua ide dan pemikiran Anda, tak peduli betapa gila tampaknya. Orang disebut ‘sinting’ sampai idenya sukses.”
K. “Know yourself – we are engineered to overcome all odds and obstacles.”
“Kenali diri Anda – kita dirancang untuk mengatasi semua hambatan dan masalah.”
L. “Learn from the failures of others and laugh at your own.”
“Belajarlah dari kegagalan orang lain dan tertawailah kegagalan diri sendiri.”
M. “Mistakes are the toll fees we may have to pay in order to break new limits.”
“Kesalahan adalah biaya tol yang mungkin harus kita bayar untuk memecahkan batasan baru.”
N. “Nobody is free from failures in this world. Only those do nothing worthwhile never fail.”
“Tak seorang pun bebas dari kegagalan di dunia ini. Hanya mereka yang tidak melakukan sesuatu yang berharga tidak pernah gagal.”
O. “Open your eyes, your mind and your heart to opportunities all the time. There are more opportunities today than in any other time in the history mankind.”
“Buka mata, pikiran dan hati Anda pada setiap peluang dan setiap waktu. Ada banyak peluang hari ini daripada waktu lain yang pernah ada dalam sejarah manusia.”
P. “Prepare yourself for all eventualities when you fail. You may have to eat ‘instant’ noodles for breakfast, lunch and dinner.”
“Siapkan diri Anda untuk setiap kemungkinan jika gagal. Anda mungkin harus makan mi instan untuk sarapan, makan siang dan makan malam.”
Q. “Uitters never win. Winners never quit. People don’t fail, they quit.”
“Yang mundur tidak pernah menang. Yang menang tidak pernah mundur. Orang tidak pernah gagal, mereka mundur.”
R. “Risk - People who never fail may have not taken enough risk.”
“Resiko – orang yang tidak pernah gagal mungkin belum mengambil resiko yang cukup.”
S. “Success is at the far side of failure. We always pass a patch called ‘failure’ on our way to success.”
“Sukses terletak di seberang kegagalan, Kita selalu harus melintasi jalan bernama ‘kegagalan’ dalam perjalanan menuju sukses.”
T. “Trying and failing in something is far better than doing and succeeding in nothing.”
“Mencoba dan gagal jauh lebih baik daripada tidak melakukan sesuatu dan sukses.”
U. “Understands that people will blame you for your failures or mistakes – it’s normal. Rejections and criticism are the baptism of fire that make men great.”
“Pahami bahwa orang akan menyalahkan Anda atas kegagalan dan kesalahan Anda – itu normal. Penolakan dan kritikan adalah baptisan api yang menghasilkan orang besar.”
V. “Value your life, never commit suicide. So long as you are alive, there’s always another chance.”
“Hargai hidup Anda, jangan pernah bunuh diri. Selama Anda hidup, selalu ada kesempatan lain.”
W. “Wisdom is the highest reward of failing. There is always something to be gained from everything we experienced. Nothing is ever lost.”
“Kebijaksanaan adalah hadiah paling besar dari kegagalan. Selalu ada yang diraih dari sesuatu yang kita alami. Sebenarnya tidak pernah ada yang hilang.”
X. “X-ray and examine where you went wrong and take a new approach more intelligently.”
“Perhatikan dan pelajari dimana Anda pernah salah dan lakukan pendekatan baru secara lebih cerdik.”
Y. “You and I are responsible for our failures and successes, nobody else is.”
“Anda dan saya bertanggungjawab atas kegagalan dan kesuksesan kita. Bukan orang lain.”
Z. “Zap back your energy and try again with different methods, different approaches, from different directions or in different fields.”
“Kumpulkan kembali kekuattan Anda dan coba lagi dengan metode yang berbeda, pendekatan yang berbeda, dari arah atau medan yang berbeda.”
Semua uraian di atas merupakan obat yang ampuh dalam menghadapi kegagalan yang selalu ada di antara sedikit kesuksesan yang beredar di alam raya ini.
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
RAHASIA KEMAKMURAN
Sebuah buku kecil, terlalu kecil juga untuk disebut sebagai buku saku, tetapi isinya sungguh menggugah se-gudang rasa, mengguncang se-gunung ego, menghanyutkan se-laut kalut, ….
Sudah lebih dari 5 tahun buku itu hanya menjadi bagian dari pustaka pribadi, tenggelam dalam tumpukan buku dan majalah. Seperti buku lainnya, kalau pernah sekali dibaca sampai selesai adalah sebuah keuntungan semata.
Entah mengapa, tengah malam itu tiba-tiba saya ingin sekali meraihnya. Membaca halaman demi halaman tanpa henti dan mengulanginya berulang kali. Sampai akhirnya bedug subuh pun bertalu.
Luluh lantaklah segala galau di hati, ego di dada, gundah di kepala, …. Semua menjadi begitu tenang. Hidup menjadi lebih indah untuk dinikmati.
Buku kecil dan tipis itu karya J. Donald Walters, berjudul Secrets of Prosperity (terjemahan D.M. Yupinandari, diterbitkan PT Elex Media Komputindo tahun 2002). Sebenarnya merupakan sebuah buku untuk renungan harian, tetapi sekalilagi, saya melahapnya berulang-ulang tanpa bosan.
Buku mungil itu merupakan salah satu dari ratusan buku yang saya beli pada acara Bursa Buku Murah (BBM) yang diselenggarakan Gramedia Group di Kota Bandung. Acara yang waktu itu masih sangatlah langka. Saat itu, harga buku masih di dunia lain, sangat mahal. Sementara di acara itu, 3 buku bisa diperoleh hanya dengan merogoh kocek Rp. 10.000,-.
Buku yang cukup untuk dimasukkan dalam amplop kecil itu sempat mengecoh panitia yang juga menginginkan untuk memilikinya. Beliau kaget ada buku sangat menggugah itu diantara tumpukan buku yang dijajakan murah-meriah.
Buku kecil itu terlalu sayang kalau harus beralih tangan. Apalagi hanya mengisi rak buku tanpa disentuh. Saya selalu ingin meraihnya, setiap saat bisa.
Oleh karena itu saya sampaikan permohonan yang sangat dalam kepada Pengarang, Penerjemah dan Penerbit, untuk menjadikan isi buku itu sebagai bagian dari bahan renungan pribadi dan membagikannya kepada yang membutuhkan.
Saya yakin, akan banyak sekali orang yang dalam hidupnya membutuhkan apa yang ada dalam buku itu tetapi sangat sulit mendapatkan buku kecil itu. Atau bahkan tidak tahu sama sekali.
Saya percaya bahwa semua isi buku itu menjadi bagian amal ibadah yang akan membawa semua yang terlibat di dalamnya mencapai kemakmuran yang sebenarnya. Kemakmuran syurga sebagaimana dijanjikan-Nya. Kemakmuran abadi di sisi Tuhan Yang Maha Pencipta.
31 Renungan dari J. Donald Walters yang sangat berharga itu (sebenarnya untuk satu bulan) adalah sebagai berikut :
1. Rahasia Kemakmuran adalah kepuasan hati, dan bukannya rekening bank.
2. Rahasia Kemakmuran adalah kebahagiaan, karena ketekunan yang dilandasi kebahagiaan membuahkan kemakmuran. Kebahagiaan itu pula yang menjadi definisi paling tepat untuk kemakmuran.
3. Rahasia Kemakmuran adalah kemurahan hati, karena dengan membagikan kepada sesama anugerah yang kita terima dalam hidup, kita juga akan menerima berkat yang melimpah.
4. Rahasia Kemakmuran adalah mensyukuri semua kebaikan orang lain sebagai limpahan rahmat dalam diri Anda.
5. Rahasia Kemakmuran adalah pemahaman akan bagian yang Anda mainkan dalam Simfoni Kehidupan. Oleh karena hidup akan menopang Anda, apabila Anda menyeleraskan dengan harmoninya.
6. Rahasia Kemakmuran adalah menjalani dan menikmati irama kehidupan yang senantiasa berubah, dan bukan justeru menantangnya.
7. Rahasia Kemakmuran adalah melihat kembali segala rintangan yang Anda hadapi dalam hidup ini untuk menemukan celah-celah kesempatan di balik rintangan itu.
8. Rahasia Kemakmuran adalah melihat kegagalan bukan sebagai kemalangan.
9. Rahasia Kemakmuran adalah membuat variasi : bukan hanya membuat variasi investasi keuangan Anda, yang layak disebut sebagai penasehat keuangan yang terpercaya, tetapi –lebih penting lagi- membuat variasi investasi energy Anda. Kembangkanlah ide-ide segar, minat yang segar, dan pertimbangan-pertimbangan yang segar untuk menikmati hidup Anda.
10. Rahasia Kemakmuran adalah kepercayaan –kepada diri Anda sendiri, kepada sesama, dan juga kepada rahmat kehidupan.
11. Rahasia Kemakmuran adalah mematahkan hipnotis pembatasan diri. Keberhasilan yang telah diraih seseorang dapat pula diraih oleh orang lain –dengan cara mereka sendiri- dengan tersedianya waktu yang cukup, dedikasi, dan energy yang terfokus.
12. Rahasia Kemakmuran adalah tidak menyia-nyiakan energy untuk hal-hal yang remeh. Keran air yang bocor, setetes demi setetes, akan membuang bergalon-galon air.
13. Rahasia Kemakmuran adalah menemukan kegembiraan dalam kesederhanaan.
14. Rahasia Kemakmuran adalah perpengharapan positif, yang didukung oleh kemauan yang dinamis.
15. Rahasia Kemakmuran adalah menyadari bahwa semua orang dapat menjadi investasi Anda yang terbaik. Jadilah teman sejati bagi sesama.
16. Rahasia Kemakmuran adalah menyadari bahwa semua yang Anda miliki menaruh kepercayaan kepada Anda. Jagalah semua itu dengan penuh tanggungjawab. Jika Anda menyalahgunakannya, kepercayaan itu akan beralih ke orang lain.
17. Rahasia Kemakmuran adalah menemukan kekuatan dalam diri Anda. Jangan menunggu gelombang datang mendorong Anda ke depan.
18. Rahasia Kemakmuran adalah menyadari bahwa seseorang tidak mampu meraih kemakmuran dari penindasan terhadap orang lain. Kasihilah sesama Anda. Pengembangan jati diri merupakan sebuah tanda kemakmuran, dan juga sebuah syarat untuk mencapainya.
19. Rahasia Kemakmuran adalah mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan; membantu mereka, namun yang terpenting, membantu mereka untuk menolong diri mereka sendiri.
20. Rahasia Kemakmuran adalah berpikiran sehat : jangan bergantung kepada keberuntungan, tetapi pada kenyataan dari setiap kondisi yang Anda hadapi. Hanya dengan langkah-langkah yang nyata Anda dapat mengubah hal-hal yang mustahil menjadi kenyataan.
21. Rahasia Kemakmuran adalah mengingat bahwa : Semakin tinggi gunung, semakin besar usaha yang diperlukan untuk menaklukkannya. Kesuksesan bukanlah untuk mereka yang berhati lemah, tetapi untuk mereka yang tidak mengenal kata lelah hingga mereka mampu meraih cita-cita .
22. Rahasia Kemakmuran adalah kesediaan untuk mengorbankan hal-hal yang tidak penting demi segala sesuatu yang penting.
23. Rahasia Kemakmuran adalah hidup dalam realitas saat ini : tidak dalam keterpurukan pencapaian masa lalu, tidak pula dalam kegemilangan bagayangan masa depan.
24. Rahasia Kemakmuran adalah kesabaran untuk menyelaraskan tindakan dengan kenyataan. Dalam setiap perenungan masa lalu, cobalah memahami apa yang telah Anda pelajari dalam hidup.
25. Rahasia Kemakmuran adalah tidak dengki terhadap orang lain. Berempatilah pada keberhasilan dan kegagalan orang lain, sebagaimana Anda berempati pada keberhasilan dan kegagalan Anda sendiri.
26. Rahasia Kemakmuran adalah daya cipta; kesuksesan dalam segala lingkup usaha menuntut kreativitas.
27. Rahasia Kemakmuran adalah mengembangkannya setiap hari dengan ide-ide baru dan segar, agar tidak menjadi kolam yang tenang, kolam yang statis.
28. Rahasia Kemakmuran adalah menggunakannya untuk kebaaikan sesama, dan bukan menimbunnya untuk kepentingan pribadi, agar Anda mampu berkembang.
29. Rahasia Kemakmuran adalah bersikap proporsional. Waspadalah terhadap obsesi : Hal itu layaknya jalan setapak yang tak pernah menyempit.
30. Rahasia Kemakmuran adalah meluangkan waktu untuk bernyanyi. Inilah sebenarnya arti kemakmuran, manakala dalam usaha untuk meraihnya seseorang kehilangan kesempatan untuk bernyanyi dan tertawa.
31. Rahasia Kemakmuran adalah mengingat selalu bahwa semakin kecil kepentingan pribadi yang Anda miliki, semakin besar nilai Anda dimata orang lain. Persahabatan kedua hal ini, pada saatnya nanti, akan menjadi asset terbesar Anda.
Ke-31 uraian tentang Rahasia Kemakmuran di atas merupakan kunci kehidupan mencapai kemakmuran yang sebenarnya, yang terkadang berbumbu galau, bertanam dendam, berhias bias, bercoreng koreng, bertali benci, ….
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
Sudah lebih dari 5 tahun buku itu hanya menjadi bagian dari pustaka pribadi, tenggelam dalam tumpukan buku dan majalah. Seperti buku lainnya, kalau pernah sekali dibaca sampai selesai adalah sebuah keuntungan semata.
Entah mengapa, tengah malam itu tiba-tiba saya ingin sekali meraihnya. Membaca halaman demi halaman tanpa henti dan mengulanginya berulang kali. Sampai akhirnya bedug subuh pun bertalu.
Luluh lantaklah segala galau di hati, ego di dada, gundah di kepala, …. Semua menjadi begitu tenang. Hidup menjadi lebih indah untuk dinikmati.
Buku kecil dan tipis itu karya J. Donald Walters, berjudul Secrets of Prosperity (terjemahan D.M. Yupinandari, diterbitkan PT Elex Media Komputindo tahun 2002). Sebenarnya merupakan sebuah buku untuk renungan harian, tetapi sekalilagi, saya melahapnya berulang-ulang tanpa bosan.
Buku mungil itu merupakan salah satu dari ratusan buku yang saya beli pada acara Bursa Buku Murah (BBM) yang diselenggarakan Gramedia Group di Kota Bandung. Acara yang waktu itu masih sangatlah langka. Saat itu, harga buku masih di dunia lain, sangat mahal. Sementara di acara itu, 3 buku bisa diperoleh hanya dengan merogoh kocek Rp. 10.000,-.
Buku yang cukup untuk dimasukkan dalam amplop kecil itu sempat mengecoh panitia yang juga menginginkan untuk memilikinya. Beliau kaget ada buku sangat menggugah itu diantara tumpukan buku yang dijajakan murah-meriah.
Buku kecil itu terlalu sayang kalau harus beralih tangan. Apalagi hanya mengisi rak buku tanpa disentuh. Saya selalu ingin meraihnya, setiap saat bisa.
Oleh karena itu saya sampaikan permohonan yang sangat dalam kepada Pengarang, Penerjemah dan Penerbit, untuk menjadikan isi buku itu sebagai bagian dari bahan renungan pribadi dan membagikannya kepada yang membutuhkan.
Saya yakin, akan banyak sekali orang yang dalam hidupnya membutuhkan apa yang ada dalam buku itu tetapi sangat sulit mendapatkan buku kecil itu. Atau bahkan tidak tahu sama sekali.
Saya percaya bahwa semua isi buku itu menjadi bagian amal ibadah yang akan membawa semua yang terlibat di dalamnya mencapai kemakmuran yang sebenarnya. Kemakmuran syurga sebagaimana dijanjikan-Nya. Kemakmuran abadi di sisi Tuhan Yang Maha Pencipta.
31 Renungan dari J. Donald Walters yang sangat berharga itu (sebenarnya untuk satu bulan) adalah sebagai berikut :
1. Rahasia Kemakmuran adalah kepuasan hati, dan bukannya rekening bank.
2. Rahasia Kemakmuran adalah kebahagiaan, karena ketekunan yang dilandasi kebahagiaan membuahkan kemakmuran. Kebahagiaan itu pula yang menjadi definisi paling tepat untuk kemakmuran.
3. Rahasia Kemakmuran adalah kemurahan hati, karena dengan membagikan kepada sesama anugerah yang kita terima dalam hidup, kita juga akan menerima berkat yang melimpah.
4. Rahasia Kemakmuran adalah mensyukuri semua kebaikan orang lain sebagai limpahan rahmat dalam diri Anda.
5. Rahasia Kemakmuran adalah pemahaman akan bagian yang Anda mainkan dalam Simfoni Kehidupan. Oleh karena hidup akan menopang Anda, apabila Anda menyeleraskan dengan harmoninya.
6. Rahasia Kemakmuran adalah menjalani dan menikmati irama kehidupan yang senantiasa berubah, dan bukan justeru menantangnya.
7. Rahasia Kemakmuran adalah melihat kembali segala rintangan yang Anda hadapi dalam hidup ini untuk menemukan celah-celah kesempatan di balik rintangan itu.
8. Rahasia Kemakmuran adalah melihat kegagalan bukan sebagai kemalangan.
9. Rahasia Kemakmuran adalah membuat variasi : bukan hanya membuat variasi investasi keuangan Anda, yang layak disebut sebagai penasehat keuangan yang terpercaya, tetapi –lebih penting lagi- membuat variasi investasi energy Anda. Kembangkanlah ide-ide segar, minat yang segar, dan pertimbangan-pertimbangan yang segar untuk menikmati hidup Anda.
10. Rahasia Kemakmuran adalah kepercayaan –kepada diri Anda sendiri, kepada sesama, dan juga kepada rahmat kehidupan.
11. Rahasia Kemakmuran adalah mematahkan hipnotis pembatasan diri. Keberhasilan yang telah diraih seseorang dapat pula diraih oleh orang lain –dengan cara mereka sendiri- dengan tersedianya waktu yang cukup, dedikasi, dan energy yang terfokus.
12. Rahasia Kemakmuran adalah tidak menyia-nyiakan energy untuk hal-hal yang remeh. Keran air yang bocor, setetes demi setetes, akan membuang bergalon-galon air.
13. Rahasia Kemakmuran adalah menemukan kegembiraan dalam kesederhanaan.
14. Rahasia Kemakmuran adalah perpengharapan positif, yang didukung oleh kemauan yang dinamis.
15. Rahasia Kemakmuran adalah menyadari bahwa semua orang dapat menjadi investasi Anda yang terbaik. Jadilah teman sejati bagi sesama.
16. Rahasia Kemakmuran adalah menyadari bahwa semua yang Anda miliki menaruh kepercayaan kepada Anda. Jagalah semua itu dengan penuh tanggungjawab. Jika Anda menyalahgunakannya, kepercayaan itu akan beralih ke orang lain.
17. Rahasia Kemakmuran adalah menemukan kekuatan dalam diri Anda. Jangan menunggu gelombang datang mendorong Anda ke depan.
18. Rahasia Kemakmuran adalah menyadari bahwa seseorang tidak mampu meraih kemakmuran dari penindasan terhadap orang lain. Kasihilah sesama Anda. Pengembangan jati diri merupakan sebuah tanda kemakmuran, dan juga sebuah syarat untuk mencapainya.
19. Rahasia Kemakmuran adalah mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan; membantu mereka, namun yang terpenting, membantu mereka untuk menolong diri mereka sendiri.
20. Rahasia Kemakmuran adalah berpikiran sehat : jangan bergantung kepada keberuntungan, tetapi pada kenyataan dari setiap kondisi yang Anda hadapi. Hanya dengan langkah-langkah yang nyata Anda dapat mengubah hal-hal yang mustahil menjadi kenyataan.
21. Rahasia Kemakmuran adalah mengingat bahwa : Semakin tinggi gunung, semakin besar usaha yang diperlukan untuk menaklukkannya. Kesuksesan bukanlah untuk mereka yang berhati lemah, tetapi untuk mereka yang tidak mengenal kata lelah hingga mereka mampu meraih cita-cita .
22. Rahasia Kemakmuran adalah kesediaan untuk mengorbankan hal-hal yang tidak penting demi segala sesuatu yang penting.
23. Rahasia Kemakmuran adalah hidup dalam realitas saat ini : tidak dalam keterpurukan pencapaian masa lalu, tidak pula dalam kegemilangan bagayangan masa depan.
24. Rahasia Kemakmuran adalah kesabaran untuk menyelaraskan tindakan dengan kenyataan. Dalam setiap perenungan masa lalu, cobalah memahami apa yang telah Anda pelajari dalam hidup.
25. Rahasia Kemakmuran adalah tidak dengki terhadap orang lain. Berempatilah pada keberhasilan dan kegagalan orang lain, sebagaimana Anda berempati pada keberhasilan dan kegagalan Anda sendiri.
26. Rahasia Kemakmuran adalah daya cipta; kesuksesan dalam segala lingkup usaha menuntut kreativitas.
27. Rahasia Kemakmuran adalah mengembangkannya setiap hari dengan ide-ide baru dan segar, agar tidak menjadi kolam yang tenang, kolam yang statis.
28. Rahasia Kemakmuran adalah menggunakannya untuk kebaaikan sesama, dan bukan menimbunnya untuk kepentingan pribadi, agar Anda mampu berkembang.
29. Rahasia Kemakmuran adalah bersikap proporsional. Waspadalah terhadap obsesi : Hal itu layaknya jalan setapak yang tak pernah menyempit.
30. Rahasia Kemakmuran adalah meluangkan waktu untuk bernyanyi. Inilah sebenarnya arti kemakmuran, manakala dalam usaha untuk meraihnya seseorang kehilangan kesempatan untuk bernyanyi dan tertawa.
31. Rahasia Kemakmuran adalah mengingat selalu bahwa semakin kecil kepentingan pribadi yang Anda miliki, semakin besar nilai Anda dimata orang lain. Persahabatan kedua hal ini, pada saatnya nanti, akan menjadi asset terbesar Anda.
Ke-31 uraian tentang Rahasia Kemakmuran di atas merupakan kunci kehidupan mencapai kemakmuran yang sebenarnya, yang terkadang berbumbu galau, bertanam dendam, berhias bias, bercoreng koreng, bertali benci, ….
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
Langganan:
Komentar (Atom)