"Kongsiha sasar jroning pati
dadya tiwas uripe kesasar
tanpa pencokan sukmane
separan-paran nglangut
kadya mega katut ing angin
wekasan dadi udan
mulih marang banyu
dadi bali marang wadhag
ing wajibe sukma tan kena ing pati
langgeng donya akherat."
"Jika sampai tersesat dalam kematian
berarti hidupnya juga tersesat
sukma tak ada tempat
hanya pergi kemana-mana
seperti mega yang terseret angin
akhirnya menjadi hujan
kembali menjadi air
kembali ke badan jasmani
padahal kewajiban sukma itu tak boleh mati
langgeng di dunia dan akhirat."
Sumber : Tradisi Lisan Jawa oleh Suwardi Endraswara
Kesesatan dalam menikmati hidup yang fana akan menyengsarakan kehiidupan di akhirat nanti. Bahkan jauh sebelum pengadilan dari Yang Maha Adil dilakukan, karma itu telah terjadi. Jiwa yang telah terpisah dari raganya melanglang buana tak menentu, menderita di dunia dan akhirat.
Hal itu semua bermuara pada ketidaktahuan manusia akan dirinya sendiri, jati dirinya, asal-usulnya. Semua itu mengantar mereka ke dalam jurang kenikmatan sesaat walaupun sesat. Manusia yang lupa dengan asal-usul keberadaannya demi kenikmatan dunia akan dihempaskan oleh kenikmatan fana yang dikejarnya itu sendiri.
Rabu, 04 Agustus 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar