Jumat, 06 Agustus 2010

PRANATA MANGSA

“Mungkin alam mulai bosan
Bersahabat dengan kita ….”

Rangkaian indah kalimat yang didendangkan Ebiet G Ade sudah sepantasnya saat ini dipopulerkan kembali. Di bulan Agustus yang kita injak sekarang, hujan masih tetap berlanjut dari bulan sebelumnya seakan tak mau putus.

Sungguh berbeda ketika alam masih bersahabat. Air curahan langit datang disaat yang tepat, di bulan bar-bir-ber alias yang berakhiran ber. Mulai September, Oktober, November dan Desember. Empat bulan yang mnghujani, cukup untuk menghidupi padi petani dan tanaman serta seisi alam. Setelah itu, berangsur kemarau pun datang. Memutus siklus kehidupan bulan basah sehingga tidak menjadi serba terlalu.
Nah, kalau sekarang suasananya seperti ini, apakah kemarau atau masih musim huijan ya ?

Nenek moyang kita yang hidup di zaman yang masih serba bersahabat sesungguhnya tidak hanya membagi musim menjadi kemarau dan musim hujan. Bahkan tidak tanggung-tanggung, 12 macam. Semua didasarkan tanda-tanda alam yang dirasakan.

Keduabelas lukisan musim berdasar suasana ala mini biasa disebut Pranata Mangsa atau Candraning Mangsa. Jumlahnya yang 12 ini ternyata sesuai dengan hitungan bulan, yaitu (dikutip dari Tradisi Lisan Jawa oleh Suwardi Endraswara):

(1) Sotya murca saking embanan, mangsa kasa (kesatu), biasanya pepohonan berguguran daunnya.

(2) Bantala rengka, mangsa karo (kedua), biasanya musim kemarau, hampir semua tanah retak-retak.

(3) Suta manut ing bapa, mangsa katelu (ketiga), tumbuhan seperti gembili, gadung dan sirih mulai merambat tumbuh.

(4) Waspa kumembeng jroning kalbu, mangsa kapat (keempat), biasanya mata air kering, dan saat yang tepat untuk membuat sumur.

(5) Pancuran emas sumawur ing bumi, mangsa kalmia (kelima), biasanya musim penhujan dan kaum tani di Jawa mulai mengolah tanah.

(6) Rasa mulya kasucian, mangsa kanem (keenam), biasanya ditandai musim buah-buahan mulai masak dan enak rasanya.

(7) Wisa kentar ing maruta, mangsa kapitu (ketujuh), sering banyak penyakit mewabah.

(8) Anjrah jroning kayun, mangsa kawolu (kedelapan), biasanya saat kucing kawin, mulai jarang hujan.

(9) Wedharing wacana mulya, mangsa kasanga (kesembilan), banyak gareng berbunyi dan gangsir berdesir, suasana mulai sepi dan jarang hujan.

(10) Gedhong minep jroning kalbu, mangsa kesepuluh, biasanya musim hewan bunting dan burung bertelur.

(11) Satyo sinarawedi, mangsa kasawelah (kesebelas), banyak burung meloloh anaknya.

(12) Tirta sah saking sasana, mangsa rolas (keduabelas), musim dingin.

Betapa indahnya ketika semua berjalan dalam keteraturan, sesuatu yang akan terjadi dapat diprediksi. Sedia paying sebelum hujan bukan sekedar adegium tetapi merupakan pola hidup yang dijalankan jika ingin terhindar dari kemungkinan terburuk.

Tetapi tidak ada yang abadi kecuali perubahan. Perubahan yang selalu berubah. Kucing kawin dapat terjadi setiap saat karena makanan bergizi yang diberikan majikannya, hewan bunting dapat terjadi waktu yang diinginkan pemiliknya karena inseminasi buatan dapat dilakukan.

Burung bertelur dan meloloh anaknya …. Akh, sebuah pemandangan yang sudah hampir tidak ada. Sebagian mereka terkurung dalam sangkar emas dan dipaksa untuk mengabdikan diri demi kesenangan manusia semata.

Alam memang sudah tidak lagi bersahabat, selalu berubah dan terus berubah. Lenyap sudah serba keteraturan ….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar