Dalam sebuah situs pertemanan, ajakan untuk bergabung dalam suatu club adalah biasa. Bahkan club-club bermunculan seiring perkembangan anggota situs yang semakin meningkat. Berbagai keistimewaan, kesamaan, identitas diri dan berbagai kepentingan lain, menjadi alas an terbentuknya sebuah club.
Tetapi, adalah sebuah keganjilan, ketika sebuah club terbentuk untuk melawan situs pertemanan yang menjadi ajang penyambung lidah selama ini. Di Facebook (FB) tiba-tiba muncul sebuah ajkan untuk bergabung dalam club yang menolak salah satu kebijakan yang akan diterapkan situs ini kepada para pemakainya.
KAMI TIDAK MAU BAYAR 150ribu/bln FAEEBOOK /Juli 2010 (butuh 1 JUTA member) Terima kasih atas Dukungan teman-teman semua. KAMI TIDAK MAU MEMBAYAR FACEBOOK !!! KAMI MAU TETAP GRATIS !!!
Sesungguhnya, pengenaan biaya adalah hal yang wajar dikenakan produsen kepada konsumen. Pembayaran atas pelayanan yang diberikan server terhadap berbagai manfaat yang dirasakan oleh pemakai, memang seharusnya ada imbal-balik seperti itu. Demikianlah hukum perdagangan, ada produsen dan konsumen serta barang yang menjadi komoditi pengubung keduanya sehingga terjadi transaksi.
Tidak dapat dipungkiri hukum dagang yang umurnya ber-abad-abad itu masih berlaku hingga sekarang. Tentu saja diiringi dengan berbagai perkembangannya hingga sekarang kebanyakan konsumen sesungguhnya membeli barang/jasa yang tidak pernah dibutuhkannya. Tiga hal yang tetap adalah, produsen , konsumen dan barang/jasa yang ditransaksikan.
Untuk menghasilkan sebuah produk, produsen memerlukan biaya yang tidak sedikit. Demikian juga situs pertemanan Facebook, bukan hanya dibayar mahal pendirinya, Mark Zuckerberg, yang harus hengkang dari perguruan tinggi favorit tempatnya, Harvard University tetapi juga diperlukan pendanaan tidak sedikit . Modal awalnya saja lebih dari 13 juta dollar, yang beasal dari 2 investor, Peter Thiel dan Jim Breyer.
Para investor Facebook tentu sangat senang, situs yang didanainya berkembang sedemikian pesat. Perkembangan anggotanya membludak, membawa mereka menenbus batas dunia dan melintasi kepopuleran situs sejenis lainnya seperti MySpace, Friendster, Twitter, Orkut, hi5 dan lain-lain.
Sebuah keputusan berinvestasi ditanamkan adalah bukan hanya demi bertumbuhkembangnya sebuah perusahaan tetapi harapan jangka panjangnya adalah hadirnya bunga dan buah yang bisa dipetik. Oleh Karena itu, sudah sewajarnya para penikmat Facebook pun berkontribusi terhadap pengorbanan para investor setelah menikmati berbagai layanan yang diberikan.
Jika saja pengguna yang aktif situs pertemanan ini 5 juta orang dan duapuluh preosen diantaranya dapat memaklumi keputusan pengelola maka denga biaya Rp. 150.000/bulan dalam 1 tahun akan terkumpul dana Rp. 1.800.000.000.000,- atau Rp. 1,8 trilyun. Jika dikonversikan ke dalam mata uang Paman San, sekitar US $ 180 juta. Sebuah angka yang fantastis ! bahkan ketika angka ketaatan hanya sepersepuluh dari angka tersebutpun, keuntungan financial yang diraih tidak sedikit.
Tetapi permasalahannya adalah bahwa penikmat Facebook sudah terbiasa memanfaatkan situs ini secara gratis. Hal itu sesungguhnya tidak terlalu penting bagi facebook, konsumen sudah terikat dan tinggal dijerat dengan kepentingan tertentu. Salah satunya kepentingan untuk menghasilkan laba bagi para investornya.
Permasalahan penting sesungguhnya adalah bahwa tidak dapat dipungkiri bahwa di dunia maya terdapat banyak fasilitas yang dapat dinikmati secara cuma-cuma. Salah satunya adalah situs pertemanan ini. Mendengar aka nada kebijakan yang berlaku bulan Juli 2010 nanti saja akan banyak pengguna Facebook yang berpikir untuk beralih ke situs pertemanan yang lain, yang masih gratis.
Ketika kebijakan pengenaan dana itu diberlakukan, maka akan banyak sekali dampaknya terhadap perkembangan anggota Facebook. Efek domino terjadi sedemikian cepat dan tak beraturan, hengkangnya seorang anggota diikuti dengan puluhan yang lain dan seterusnya.
Penerapan kebijakan ini menjadikan pengguna yang terbiasa gratis menjadi harus berpikir ekonomis. Tidak mengherankan apabila kebanyakan anggota berpikir lebih baik hengkang dan beralih kepada yang lain daripada harus membayar secara rutin Rp. 150.000,bulan.
Tetapi yang lebih penting adalah bahwa kebijakan ini menyebabkan Facebook kembali kepada masa silam. Perdagangan masa lalu ketika setiap konsumen harus membayar secara “blug-bleg” segala barang dan jasa yang dinikmatinya.
Jelas, bahwa hal ini adalah sesuatu yang tepat menurut hukum dagang seperti diuraikan dimuka. Tetapi, Facebook lupa bahwa seni marketing telah sedemikian berkembang, bukan hanya kebanyakan konsumen rela mengeluarkan kepemilikannya demi sesuatu yang sesungguhnya tidak dibutuhkannya tetapi juga pelaku pasar berlomba menemukan formula agar konsumen tidak sadar bahwa sesungguhnya dia membayar apa yang dinikmatinya.
Facebook juga sebenarnya sudah mencapai strategi marketing yang disebutkan terakhir, para pengguna sedemikian asyik membuang waktu di hadapan monitor. Tanpa terasa, para pengguna yang ketagihan sesungguhnya membayar saangat mahal apa yang dinikmatinya.
Tidak mengherankan akalau ada sebuah kebijakan dari Pemerintah Kota Cirebon yang memblokir situs pertemanan di jam kerja. Karena memang banyak karyawan yang melakukan kegiatan ini di sela-sela pekerjaannya atau bahkan sampai bisa lupa pekerjaan yang harus diselesaikanya. Banyak cerita dan pengalaman tentang banyaknya waktu terbuang oleh aktivitas pertemanan di dunia maya dengan berbagai dampak negative ataupun kueuntungannya.
“Waktu adalah uang !” Sebuah adegium lama ini mudah-mudahan mengingatkan facebook akan banyaknya “uang” yang telah dikorbankan pengguna demi tetap jalannya dapur situs pertemanan ini. Jadi sangat masuk akal kalau sebagian besar anggota lebih baik hengkang darpipada harus iuran bulanan.
Lantas, apa yang harus dilakukan Facebook untuk mengalirkan keuntungan financial tanpa harus membebani pengguna secara berlipatganda ? Diperlukan cara cerdas untuk menghadapi situasi persaingan yang semakin tanpa batas seperti sekarang ini.
Salah satu solusinya adalah dengan mengalihkan sumber biaya yang semula akan diberikan kepada pengguna kepada pemasang iklan. Kolom-kolom bernilai milyaran dollar masih sangat terbuka di beranda Facebook. Peluang inilah yang seharusnya dilirik menjadi sumber dollar.
Puluhan juta pasang mata adalah pangsa pasar yang sangat besar dari produk yang iklannya ditayangkan. Memang tidak semua iklan akan di-klik pengguna, apalagi untuk membeli produknya. Tetapi iklan tetaplah iklan sebuah sumber uang yang sangat besar, tergantung facebook mencerdasinya.
Pengguna akan dengan rela kalau harus meng-klik satu iklan untuk membuka situs pertemanan, demikian juga ketika diingatkan bahwa sudah satu jam menggunakan jasa Facebook tetapi tak berkontribusi terhadap perusahaan, meng-klik iklan berikutnya. Sebuah simbiosa mutualisma yang saling menguntungkan.
Bahkan Facebook akan kebanjiran pengguna jika saja membuat program baru, “Klick Iklan Raih Uang.” Sudah banyak situs lain yang memberikan keuntungan financial kepada pengguna hanya dengan mengklik iklan. Mereka hanyalah situs-situs kecil, jauh dibawah popularitas Facebook dan populasi Facebookers.
Kalau saja asumsi di atas diterapkan, maka kebijakan penarikan setoran dari pengguna Facebook bisa berubah menjadi distribusi uang dari Facebook kepada para pemakai. Bukan hanya itu, Facebook juga membuka banyak lapangan kerja, mulai dari tim kreatif penyusun iklan sampai jajaran penyelenggara di setiap wilayah dan negara.
Tetapi, jika Facebook tetap mau menerapkan rencananya, maka sesungguhnya juga membuka lapangan kerja baru. Terbuka peluang lebar bagi manusia kreatif untuk merancang sebuah situs pertemanan baru, yang bukan hanya gratis tetapi juga menguntungkan secara financial para penggunannya.
Peluang besar itu akan benar-benar terbuka karena efek domino tak terkendali akan terjadi pada kasus hengkangnya para anggota Facebook. Disebut “tak terkendalI” karena pada aturan main kartu domino, satu mata kartu hanya boleh disambungkan dengan satu mata kartu yang sama. Tetapi pada kasus ini tidak demikian, perginya satu anggota facebook akan disambut oleh puluhan atau ratusan sahabatnya, demikian juga seterusnya sehingga menjadi suatu rantai yang besarnya tak terkendali.
Jika hal terburuk ini terjadi, memang Facebook akan menjadi pahlawan. Tetap menjadi pahlawan yang patut dikenang karena telah menghubungkan jutaan pasang mata dengan banyak teman dan orang-orang yang selama ini hilang dari ingatan.
Terimakasih Facebook, keputusan ada di tanganmu. Termasuk memutuskan puluhan juta penggemar dari situsmu.
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
Senin, 28 Juni 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar