Sebuah Pelajaran Buat Kita Semua
Sebagai bagian dari sebuah dinamika kehidupan, maka negeri ini pun tidak pernah terlepas dari satu problema ke masalah yang lain. Belum selesai kasus Bank Century muncullah Gayus yang menyebabkan kerugian para nasabah dan keterlibatan pihak tertentu berkaitan dengan kenduri di bank tersebut hangus. Akankah kasus Bentrok Koja yang sangat berdarah dan telah “merusak jutaan televisi pemirsa” juga akan meluluh-lantakkan kasus Gayus yang sudah bersambut rentetan Markus ...?
Banyak pelajaran dapat diambil dari kasus yang sama sekali tidak diduga ini sebelumnya ….
Bentrok Koja merupakan tragedy yang memilukan, dalam waktu yang teramat singkat ratusan badan terkapar, beberapa diantaranya tinggal raga yang tak bernyawa. Darah bercecer, luka menganga, puluhan kendaraan dilumatkan, demi sebuah kata, hak. Hak masyarakat untuk hidup, hak petugas untuk menjalankan kewajibannya.
Sekalipun akhirnya Wakil Gubernur DKI menjelaskan bahwa apa yang akan dilakukan terhadap Makam Mbah Priuk tersebut adalah dalam rangka lebih terawat dan indahnya lokasi tersebut, bahkan dijadikan Cagar Budaya, namun pengalaman hidup masyarakat yang selalu pahit jika berhubungan dengan penggusuran dan Saatpol PP menyebabkan perlawanan tidak dapat dihindarkan.
Bahkan Wagub semestinya koreksi diri, apakah yang diucapkannya benar ? Atau sekedar senjata cucitangan dari permasalahan yang menyebabkan bentrokan semakin berdarah. Sesuaikah ucapannya dengan tataruang yang sudah dibuat ? Adakah master-plan yang menjamin bahwa cagar budaya yang direncanakan ? Bukan, maaf, cagar biaya ?
Dan, yang paling penting adalah, apakah berbagai produk perencanaan itu sudah tersosialisasi dengan baik ? Kalau memang perencanaan sudah ada, sosialisasi sudah dilaksanakan, maka jika kejadian berdarah ini terjadi maka koreksi total harus dilaksanakan. Apakah sosialisasi yang dilakukan sekedar untuk mencairkan SPPD ?
Sementara penjelasan beliau tentang hak milik lokasi eks makam imam itu sungguh merupakan bahan koreksi yang sangat berharga. Bukan karena negara ini adalah negara hukum maka produk hukum dapat dilaksanakan begitu saja. Apalagi menghalalkan pembuatan produk hokum untuk kepentingan dan keuntungan golongan tertentu.
Sertifikat tanah yang membuktikan lokasi eks Makam Mbah Priuk sebagai milik Perum Pelindo II dibuat dengan cara yang sesuai dengan aturan, tetapi sama sekali mengabaikan kaidah hukum tidak tertulis yang sudah melekat. Sesuatu yang sangat tidak mungkin kalau mengharapkan anak-keturunan Mbah Priuk menunjukkan bukti tertulis kepemilikan lahan untuk melawan keinginan Perum Pelindo II ?
Kasus ini juga tentu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang selama ini hidup di dan dari sekitar berbagai situs lainnya, agar segera mengurus kejelasan status tanah yang mereka tinggali saat ini. Pemerintah pun tidak lagi boleh menghalangi upaya ini, dan mempertimbangkan usulan itu sekalipun bukti tertulis dari nenek-moyang mereka sama sekali tidak ada. Sebab di negera hukum ini, hukum bukan saja hak mereka yang ber-biaya !
Satpol PP DKI pun bisa belajar banyak dari kasus ini, ternyata kekuatan produk hokum yang dibacakan plus pentung di tangannya tidak selalu ampuh. Dan di saat seperti itu, apakah ada yang membantu ? Apakah polisi melindungimu ? Adakah tentara di sekitarmu ? Sama sekali tidak ada ! Karena engkau, kalian, sesungguhnya adalah bagian dari mereka. Masyarakat biasa ! Baju seragammu itu hanyalah titipan kepercayaan, kepercayaan dari mereka yang kalian pentungi dan luluh-lantakan hidup dan perasaannya selama ini. Hal itu hanya berlaku jika kalian masih merasa sebagai manusia sebagaimana masyarakat pada umumnya.
Masyarakat, khususnya sekitar Kerajaan Mbah Priuk juga dapat pelajaran berharga untuk mengurus kejelasan tempat tinggal mereka. Sebaliknya pemerintah pun jangan malu dan ragu untuk meninjau kembali produk hokum yang sudah dikeluarkan. Paling tidak, bentrok berdarah kali ini menghasilkan sebuah kesepakatan, kalau memang apa yang dikatakan Wagub itu benar adanya.
Masyarakat juga dapat pelajaran penting bahwa di balik pengorbanan diri, anak dan keluarganya terdapat banyak orang yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadi. Menjarah, mengambil barang yang sama sekali bukan haknya. Apakah ada diantara mereka yang merupakan putera Kerajaan Mbah Priuk ?
Sebuah pelajaran berharga juga dapat dipetik Habib Rizieq, upayanya menenangkan warga adalah sia-sia kalau berbagai aksi beliau dan pasukannya tidak menjadi teladan yang baik. Kekerasan dan kekerasan, maka kekerasan pula yang masyarakat Kerajaan Mbah Priuk lakukan !
Kita semua dapat pelajaran berharga dari Bentrok Koja yang sangat berdarah ini, jika dan hanya jika kita mau membaca… Iqro !
PESAN SPONSOR======================================================
Banyak tawaran meraup penghasilan dari internet,
gratis awalnya tetapi ujung-ujungnya bayar juga karena memang
mereka jualan barang atau jasa.
Tetapi untuk yang satu ini benar-benar GRATIS, makanya saya gabung.
Silakan buktikan sendiri dengan mengklik :
http://www.tantangan50juta.com/?r=dinoto
========================================================TERIMAKASIH
Kamis, 27 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar